Bengal’s Pleasure (Short Story)

-Bengal’s Pleasure-
.
(Romance, Fantasy)

“Oh…”

Aku terkejut ketika merasakan benda tajam menusuk punggung ini. Sedikit mengernyit karena rasa perih yang langsung menjalar ke seluruh tubuh. “Marcus…” Aku menyebut nama seseorang dengan sambil tersengal. Demi Tuhan, dua menit lalu aku masih bisa merasakan tubuh ini melayang dengan setiap sentuhan-sentuhan lembut dan tanpa ampunnya. Tapi sekarang, “Apa kau tidak bisa menahan diri untuk tidak menggigit?” aku dapat merasakan nada suaraku kini seperti membentak… tidak… aku memang membentak tadi.

Kedua permata hijaunya menatapku tak berkedip. Kurasa ia juga terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. “M-maaf…”

Emosiku mereda begitu saja ketika mendengar suara indahnya.

Ya Tuhan, aku bersumpah mendengar nada gugup dari kalimat Marcus, namun suara berat tersebut tetap membuatnya terdengar begitu menggoda di telingaku. Dasar jalang! Aku memaki diri sendiri dalam hati.

“Biar kulihat—“

“Aaah!”

Sekali lagi kami terkejut. Kali ini rasa sakit itu datang dari bagian bawah tubuh kami—tubuhku lebih tepatnya. Marcus bergerak terlalu cepat untuk melihat bagaimana luka yang tadi ia buat hingga tidak menyadari kami masih… menyatu. Dibandingkan gigitannya di punggungku, rasa sakit yang ini lebih menyebalkan.

Bayangkan saja, ia menariknya dengan tiba-tiba. Lututku gemetar, dan akhirnya kembali tergeletak lemah.

“Oh God… Vivian… aku… maafkan aku. Aku tidak sengaja—“

Aku tersenyum dan menunjuk bagian punggung. Kini rasanya semakin pedih saja. Marcus berhenti bicara dan mengerti dengan apa yang harus segera ia lakukan. Dengan hati-hati lengan kokohnya mengangkat tubuhku dan memposisikan agar nyaman.

Kemudian kurasakan benda lunak dan basah menyapu punggungku dengan perlahan. Detik pertama rasanya begitu sakit seperti ada sebuah jarum menembus kulit. Namun detik berikutnya hanya ada kelembutan dan rasa geli. Aku terkekeh pelan, “Marcus, cukup…”

“Aku sudah selesai di sini.” Dapat kurasakan Marcus mengecup singkat punggungku sebelum membuat tubuh kami kembali berhadapan. “…tapi aku belum selesai di sini.” Marcus mengusap lidahnya pada bibirku sebelum membawa kami dalam satu harmoni cumbuan yang menggairahkan. Ya, kami memang belum selesai untuk yang ‘satu’ ini.

Aku tahu luka gigitan tadi cukup dalam, dan untuk keadaan normal seseorang harus sudah membawaku ke rumah sakit. Namun aku tidak sedang dalam kondisi normal, setidaknya… aku tidak sedang bersama seseorang yang normal. Lukaku sembuh hanya dalam hitungan detik bagai sebuah keajaiban.
Dan ya… kalian benar, Marcus adalah ‘keajaiban’.

;;;;;

[Lima bulan lalu]

Setiap orang melihatku dengan tatapan aneh hari ini. Bahkan petugas keamanan di depan pintu gedung tempatku bekerja ikut ambil bagian. Setelah menunduk dan menyapa, dapat kurasakan kedua matanya tidak lepas dariku. Sebagian menatap dengan takut-takut, namun sebagian lagi cukup berani untuk meneliti dari kepala hingga ujung kaki.

Aku terlalu malas untuk menegur betapa tidak sopannya orang-orang saat ini. Oh, ayolah… seseorang hanya meninggalkanku di atas altar ketika pengucapan janji akan dilaksanakan hanya dalam hitungan menit, bukannya menelanjangiku di depan umum.

Tapi kau sangat tahu akibatnya bahkan lebih buruk dari sekedar ditelanjangi, Vivian.

Aku melempar tas ke sembarang arah dan menjatuhkan tubuh dengan kasar di atas kursi. Beruntung aku bukan karyawan biasa dengan meja kerja bersebelahan dengan pegawai lain. Jadi tidak harus khawatir jika tatapan-tatapan-penuh-tanda-tanya-dan-iba dari mereka akan berlanjut. Aku berada di ruanganku sendiri, dan mungkin hanya menyisakan seorang asisten dengan dunianya sendiri. Aku melirik Daniel yang sibuk mengetikkan banyak kata dengan laptopnya, entah apa, setelah mengucapkan selamat pagi yang sangat singkat padaku.

“Kau satu-satunya yang normal atau justru sebaliknya?” Aku bertanya pelan. Namun cukup membuat pemuda magang itu mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Kau bilang apa tadi?”

Aku menggeleng. “Lupakan. Apa jadwalku hari ini, Daniel?”

Sudah ada banyak berkas di atas meja untuk ku review.

“Tidak banyak. Hanya undangan makan siang dengan klien untuk tujuan berterima kasih. Selebihnya kau bisa mempelajari kasus baru.” Ia melihatku yang sudah membolak-balik berkas. “Rasanya aku tidak perlu menunjukkan berkas yang dimaksud.”

Sebagai jaksa penuntut umum, aku tidak bekerja di bawah tekanan klien. Satu-satunya yang selalu membuatku tidak tidur nyenyak adalah wajah terdakwa yang entah apakah dia bersalah atau tidak, aku tetap harus menuntutnya untuk mendapatkan hukuman paling berat. “Percobaan pembunuhan?” aku menaikkan alis.

“Kurasa kasus kali ini tidak akan sulit. Tersangka adalah seorang gelandangan. Well, kami menyebutnya seperti itu karena orang ini tidak memiliki identitas dan tempat tinggal yang jelas. Ia ditemukan di samping tubuh korban dengan banyak darah di tubuhnya. Darah korban, dan dari pemeriksaan forensik tidak ada hal lain yang ditemukan selain kuku korban di setiap luka. Luka cakaran yang sangat dalam.” Daniel menggeleng tidak percaya. “Benar-benar teknik yang unik untuk menyakiti orang. Kucing liar yang sangat berbahaya.”

Aku menilik foto-foto yang dilampirkan dalam berkas. Luka-luka korban. Benar yang Daniel katakan. Ini memang seperti luka cakaran binatang. Jika Daniel menyebutnya kucing, sudah pasti kucing yang sangat besar.

“Namanya Marcus. Setidaknya itu menurut pengakuannya. Bisa saja suatu kebohongan. Kau sudah dengar tadi, tidak ada identitas diri yang bisa membuktikannya.”

Aku menarik napas dalam ketika tiba pada foto si tersangka.

“Sidik jarinya?”

“Nihil. Come from nowhere.”

Sudah pernah kualami sebelumnya. Menuntut seseorang yang tidak memiliki perlawanan sama sekali bukan hal sulit—secara tekhnis. Namun sebagai seseorang yang akan menjebloskan dengan tangan sendiri ke dalam jeruji besi, aku sangat terbebani secara psikologis.

“Kau baik-baik saja?” Suara Daniel menyadarkanku.
Aku tersenyum kecut padanya. “Apa kau bisa membawakanku beberapa aspirin? Kurasa aku membutuhkan itu saat ini.” kemudian membiarkan jari-jariku memijat pelipis perlahan. Rasanya cukup mengurangi sakit di daerah ini.

“Kau masih memiliki cuti, Vivian. Yang kau butuhkan hanyalah tidur.” Kini Daniel sama dengan sebagian orang-orang di kantor pagi ini dengan tatapan ibanya.

Aku menggeleng, “Aku tidak berhak menggunakan cuti tersebut. Kau harus ingat, aku batal menikah.” Peringatan itu semata-mata hanya kukatakan demi melatih diri. Tidak bermaksud membuat orang lain kasihan. Walaupun reaksi yang ditimbulkan adalah justru aku semakin terlihat menyedihkan.

Daniel seperti akan mengatakan sesuatu lagi, namun urung karena melihatku yang (mungkin) sudah sekarat. Pemuda itu beranjak untuk mengambil apa yang kuminta tadi.

;;;;;

“Marcus?”

Pria itu diam. Jemarinya saling bertaut dalam kungkungan borgol di pergelangan tangan. Aku mempelajari setiap gerak gerik tubuhnya. Harus kuakui, figur itu terlihat sempurna. Lengan kokoh dan postur tubuh ideal untuk banyak laki-laki. Separuh albinonya tidak terlalu kentara karena kulitnya seperti pekerja yang berada di bawah terik matahari untuk kurun waktu cukup lama. Kurasa ia memang menghabiskan sebagian besar hidupnya di jalanan.

Aku membandingkan dengan kulit Asia-ku. Warnanya hampir sama, hanya saja milikku terlihat lebih cerah karena terawat. Dan aku pasti sudah gila. Apa yang kau pikirkan, Vivian? Dia tersangka.

“Aku tidak akan membuat semua ini sulit jika kau mau bekerja sama. Jika ada satu saja sanak saudara yang mungkin bisa membuktikan identitasmu, semua akan diproses dengan baik. Setidaknya kau tidak akan dituntut sebagai imigran gelap.” Bagus, sekarang aku justru bicara seperti pengacaranya.

Marcus menggeleng. “A-aku hanya mengenal George.”
George? Bukankah itu nama korban? “Kau mengenalnya dengan baik?”

“G-George memberiku makanan. Dia menyuruhku bekerja dan memberiku makanan enak. T-tapi… George memukulku. Dia… tidak mau memberikanku makanan lagi. Aku sangat lapar.”
Aku tidak percaya jika bicara dengan pria dewasa yang terbata seperti bocah tersesat akan memberikan sensasi seperti ini. Marcus memiliki suara yang indah. Dan matanya…. Ya Tuhan warna hijau yang gelap. Ia seperti kucing liar yang indah.

Kau benar-benar sudah gila, Vivian.

Untuk selanjutnya, aku hanya ingin korban bernama George itu cepat bangun dan menjelaskan semuanya.

;;;;;

“Vivian, kau tidak memberatkan terdakwa sama sekali. Ada apa denganmu? Apa kau begitu yakin jika pria itu tidak bersalah?”

Kami sudah kembali ke kantor, dan aku masih bisa mendengar Daniel mengomel di belakang sambil sesekali terkejut jika pemuda itu sudah meletakkan apa saja di atas meja dengan suara gaduh yang disengaja. Daniel tidak pernah suka jika aku kalah di pengadilan. Apalagi dengan cara yang mudah. Harga dirinya sebagai asisten cukup dipertaruhkan. Dan menurutnya, kegagalan kasus kami akan menurunkan kualitas portofolionya untuk meraih gelar magister tahun ini.

“Aku benci melihat wanita tua itu tersenyum dengan kemenangan yang remeh. Ya Tuhan Vivian, apa kau tahu aku sedang kesal? Vivian—hey, kau mau kemana?”

“Maafkan aku, Daniel. Ada hal yang harus kuurus. Aku sudah mentransfer gajimu bulan ini. Selamat bersenang-senang! Ini malam minggu.” Aku memberikan kedipan terbaik sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruang kerja.

Tujuan kali ini hanya beberapa blok dari gedung tempatku bekerja. Kuputuskan berjalan kaki untuk menempuhnya. Di perjalanan aku bahkan sempat membeli beberapa buah-buahan segar dan makanan kecil.

Aku bisa merasakan kedua ujung bibir ini hampir menyentuh telinga ketika sampai pada sebuah bangunan berarsitektur Eropa yang kental dengan dominasi warna putih. Namun walaupun terlihat sangat kolosal, aku melewati pintu kaca otomatis untuk masuk ke dalam. St. Mallery adalah satu dari sekian banyak Rumah Sakit di distrik pinggiran kota London yang masih terjaga cita rasa bangunan seninya. Setelah mendapat sapaan hangat dari petugas berpakaian hijau cerah di bagian resepsionis, aku melangkah dengan pasti menuju satu ruangan yang sudah kuhapal betul.

Dengan perlahan kusingkap tirai hijau dalam salah satu bangsal rumah sakit, dan mendapati seseorang yang tengah duduk sambil menunduk di atas ranjang.

“Hey, Marcus…”

[Dua hari sebelum persidangan Marcus]

Sudah menjadi resiko dari pekerjaan jika aku harus berhadapan dengan hal-hal tak terduga… bahkan berbahaya. Seperti yang pernah kuutarakan, aku sangat ingin si korban bangun dari komanya untuk memberikan keterangan bagaimana hubungan dirinya dengan tersangka.

Namun pada kenyataannya George tidak akan pernah bangun untuk selamanya. Pria paruh baya itu akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah dokter tak mampu lagi mengisi kekuarangan darah akibat luka besar di lehernya. Jantung George bahkan menolak darah yang ditransfusikan. Kematiannya membuat istri dan anaknya histeris. Dan perbuatan bodoh pengacara tersangka Marcus dengan membawa pria itu ke rumah sakit membuat keadaan semakin dramatis.

“Pembunuh! Tidak tahu diri! Ini yang kau berikan setelah dia merawatmu?! Iblis! Tuhan akan mengutukmu!!!”
Setidaknya teriakan itu terus berulang. Beberapa petugas mencoba mengamankan dua wanita lusuh yang berteriak tersebut. Pasalnya keduanya mulai melempar apapun yang ada.

Marcus bahkan mendapatkan luka di pelipisnya setelah istri korban melemparkan sebuah pajangan kayu dari atas meja resepsonis. Pergumulan terus terjadi untuk membuat dua orang tersebut tenang, hingga semuanya terjadi begitu cepat.

Bagai mendapat kekuatan dari langit, sang istri yang terlihat paling histeris mendorong salah satu petugas hingga menabrak dinding. Tidak hanya sampai situ, karena yang paling buruk terjadi adalah dinding tersebut terbuat dari kayu hingga getaran keras membuat salah satu lemari obat-obatan besar tak jauh dari sana ikut kehilangan keseimbangan.

Aku berada tepat di bawahnya… dan…

Kemudian seseorang menerjangku hingga terjatuh. Lemari besar tersebut menimpa kami berdua. Tidak… benda itu hanya menimpa Marcus yang berada di atasku—melindungiku.
Lalu hal terakhir yang kuingat adalah bau karat yang sangat kental.

;;;;;

Marcus mendapatkan luka yang cukup serius. Pecahan kaca besar menembus punggung kanannya, dan hal itu membuat dirinya kehilangan banyak darah. Saat itu aku tiba-tiba saja menjadi gila karena memohon pada dokter untuk menyelamatkan hidupnya. Entah apa yang sudah terjadi. Aku tidak hanya merasa bersalah karena Marcus terluka akibat menyelamatkanku. Tapi ada hal lain… ketakutan itu seperti… aku akan kehilangan…

Lalu aku tidak ingin tahu alasan mengapa Marcus akhirnya bisa pulih hanya dalam satu hari seperti lukanya hanya sebatas goresan di permukaan kulit. Tidak menembus sampai ke dalam.

“Hey, Marcus…”

Jantungku hampir berhenti. Tidak, tidak, Marcus tidak menyambutku dengan senyuman manis atau semacamnya, karena jika kalian ingin tahu, aku bersumpah sama sekali belum pernah melihatnya tersenyum.

Yang membuatku kini diam dan tidak tahu harus bagaimana untuk membuat jantungku kembali berdetak dengan normal adalah reaksi Marcus ketika aku mendekatinya. Pria itu langsung memelukku. Ya. Memelukku. Seperti… ia sangat merindukanku.

“M-Marcus… ada apa?”
Alih-alih menjawab, Marcus justru semakin mengeratkan pelukannya. Barang bawaanku terjatuh, dan aku tidak peduli. Aku tidak berpikir saat itu, hanya mengikuti insting untuk mengangkat kedua tangan dan membalas pelukannya. Aku tidak tahu mengapa hal ini bisa terasa sangat nyaman. Aku bahkan tidak sadar jika terpejam. Tubuh Marcus dalam pelukanku terasa sangat hangat. Ia seperti pemanas. Hingga aku mulai khawatir jika ia demam.

Aku melonggarkan sedikit pelukan kami dan menatap wajahnya. Para suster di rumah sakit ini mengerjakan apa yang kuminta. Marcus saat ini terlihat cukup… manusiawi, dan sangat tampan. Dengan wajahnya yang secerah ini, aku bisa mendapati keindahan lain di matanya selain warna hijau gelap yang rasanya kini terlihat lebih bersinar dibandingkan saat pertama kali kami bertemu. Bulu matanya lebat dan lentik, garis hidung yang tegas menunjukkan begitu sempurna bagian itu. Rahang kuat menyamarkan wajahnya yang terlihat tirus. Aku tidak yakin apakah Marcus saat ini terlihat lebih kurus. Entahlah… hanya satu hal yang ada dalam pikiranku sekarang. Marcus membutuhkanku… dan aku akan segera mencari tahu apakah aku juga membutuhkannya.

;;;;;

Lucu jika harus dipikirkan. Hanya berselang satu bulan gagalnya pernikahanku, kini sudah ada lagi seseorang yang memelukku dari belakang saat membuat sarapan pagi. Sebut saja aku si jalang-tak-tahu-diri.

“Lapar…” Marcus berbisik di leherku. “Apa aku boleh memakanmu?”

Aku tidak percaya mendapati diriku melenguh. “Tidak, Marcus. Aku harus berangkat kerja, menghasilkan uang banyak, dan memberimu lebih banyak makanan. Kau menghabiskan persedian satu bulan hanya dalam satu minggu.”

Pelukan Marcus mengendur. Ia memutar tubuhku hingga kami berhadapan. Wajahnya terlihat lebih pucat. Tapi aku tak mau ambil pusing, ia selalu seperti ini jika bangun tidur. Dan dia sangat suka tidur. Aku tidak tahu mengapa. “Aku akan mencari uang. Untuk membeli makanan. Kau juga harus makan.”

Aku tertawa. Marcus selalu bicara dengan random, dan menurutku itu sangat lucu. Dua minggu tinggal bersamanya, ia selalu menjadi manusia yang paling tidak bisa menyembunyikan perasaan dan keinginannya di rumah ini. Aku bahkan kadang frustasi karena ia terlalu jujur. Kalian pasti tidak akan percaya bahwa suatu pagi saat bangun tidur ia pernah mengatakan rambutku tidak lebih bagus dari sarang burung walet. Aku tidak percaya bahwa saat itu aku merajuk. Di umur tiga puluh. Pada Marcus. Hanya karena rambut.

“Mungkin bukan ide buruk jika aku mulai mencarikanmu pekerjaan. Kau sudah punya kartu identitas penduduk. Mungkin pekerjaan di restoran tidak membutuhkan latar belakang pendidikan yang tinggi. Asal kau tidak memecahkan gelas dan piring.”

Marcus tersenyum. Hal yang hanya ia lakukan di hadapanku akhir-akhir ini. “Pelayan tidak buruk.” Ujarnya, sebelum mencium bibirku dengan lembut.

;;;;;

“Kali ini kau harus lebih berhati-hati, tersangka memiliki banyak tangan, aku bahkan mendengar desas desus jika orang itu memiliki hubungan dengan satu sindikat mafia yang cukup besar.”

Aku kembali mendengar penjelasan Daniel pagi ini. Diskusi kami berlangsung seperti biasa. Hanya saja tempatnya sedikit berubah. Semenjak aku menemukan pekerjaan untuk Marcus di sebuah restoran kelas menengah pinggir kota, aku lebih suka ‘bekerja’ di luar. Daniel sangat senang dengan ide ini pada awalnya, namun sejak mengetahui alasan mengapa aku selalu memilih tempat yang sama, pemuda itu mulai sedikit melancarkan protes. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin memastikan Marcus bekerja dengan baik, dan melihatnya setiap hari cukup membuatku tenang.

“Kau belum bergabung saat aku menuntut seorang anak dari ketua umum partai politik berpengaruh di negerimu ini. Kemudian aku masih hidup sampai sekarang.”

Aku tidak mengalihkan pandangan dari berkas-berkas di atas meja. Namun dapat kutebak jika Daniel kini sibuk memutar bola matanya, jengah mendengar kesombonganku yang lain. Lalu seperti biasa ia akan berkhutbah ‘di atas langit masih ada langit’.

“Di atas langit masih ada langit, Vivian.”
Betul, kan?

“Dan—hey, Tuan, kau tidak bekerja?”

Aku baru menyadari jika Marcus sudah berada di sebelahku.
“Shift-ku sudah berakhir satu jam lalu. Tadi hanya sekedar membantu berbenah.” Marcus mengendikkan bahu, tidak membuang waktu untuk beralih dari Daniel padaku, “Hey, bekerja keras lagi?” Marcus mencium bibirku. Hanya kecupan pada awalnya, namun itu tidak cukup, karena aku tidak pernah merasa cukup. Oh, sejak kapan aku jadi merasa sangat membutuhkan ciuamannya lebih dan lebih?

Marcus melepas pagutan kami saat mendengar Daniel berdehem tak suka. Dari apa yang aku lihat, ia mulai menyukai asisten kecilku ini. Marcus jadi lebih sering menggodanya, dan jangan salahkan aku karena aku hanya ‘korban’ di sini. Lagi pula Marcus semakin baik dengan ciumannya. Dan itu membuatku bahagia.

“Ayolah kalian berdua… berhenti menyiksaku. Vivian, aku membatalkan janji dengan pacarku hanya untuk lembur denganmu di sini, bukan menjadi saksi abadi akan roman picisan kalian. Kau tahu, Marcus? Kau harus menikahinya jika ingin tinggal bersama. Tuhan akan marah, kalian tinggal dalam satu atap tanpa ikatan suci—“

“Oh, oh, baiklah Tuan virgin.Aku mungkin harus mengingatkan sekali lagi jika kau tinggal di Barat.” Religius Daniel mulai lagi.

“Dan kau juga harus tahu Nona-Muda-bebas-tanpa-batas, ini juga bukan Amerika, London memiliki norma untuk tidak tidur dengan pacar masing-masing sebelum menikah.”

Aku memutar bola mata jengah. Daniel cukup pandai membual. Baiklah, setidaknya ia tidak membual jika terlanjur hidup di tengah-tengah keluarga yang sangat mementingkan norma-norma pergaulan. “Daniel, aku percaya kau memang tidak pernah tidur dengan wanita.”

“Memang tidak.” Jawabnya cepat.

“Tapi kau tidur dengan laki-laki.”

“Hey! Aku punya kekasih.”

Aku mengangguk, “Aku tahu. Tapi yang tidak kutahu adalah… kekasihmu itu perempuan atau laki-laki.”

Lima belas menit hanya kami habiskan membahas masalah orientasi seksual Daniel, dan aku bersumpah semakin percaya jika asistenku ini adalah gay. Ya Tuhan, wajahnya bahkan terus memerah saat kami membahas pria jenis apa saja yang mungkin ia sukai.

Marcus terlihat menikmati pertengkaran ‘dinamis’ kami. Aku sanksi jika ia mengerti apa yang aku dan Daniel bicarakan. Terkadang… pria ini terlalu lugu di mataku.

“Kapan terakhir kali kau menimbang berat badan?” Aku memulai pembicaraan di tengah dinginnya kota London. Semenjak bersama Marcus, aku bisa berhemat untuk tidak menggunakan mobil. Kami lebih suka berjalan kaki. Aku menatap leher pucat Marcus, tulang belikatnya semakin terlihat saja.

Marcus menggeleng, “Aku tidak tahu. Jika maksudmu adalah berdiri di atas besi dengan jarum jam berputar dan berhenti di salah satu angka, aku tidak pernah melakukannya lagi sejak keluar dari tahanan.”

Ingatan tentang bagaimana Marcus di dalam penjara membuatku tidak nyaman. “Kau hanya terlihat lebih kurus dari semenjak bertemu. Aku khawatir makanan yang kubuat tidak cocok untukmu.”

“Kau sangat tahu kalau aku makan dengan baik.”
Aku mengangguk, “Ya. Sangat baik kurasa.” Lalu tersenyum sambil mengeratkan pelukanku pada lengannya.

;;;;;

“Kau tahu ini akan sangat menyulitkan jika tetap saja diam. Kau mantan dokter, dan mutilasi yang dilakukan bahkan lebih buruk dari pekerjaan tukang daging!”

“Apa kau akan memperhatikan aturan saat membunuh?”

Aku sudah akan menyemburnya lagi dengan teriakan, namun urung karena semua pasti akan sia-sia. Belum ada hasil memuaskan dari penyelidikan tersangka pertama yang begitu kuat memiliki motif, kini kami sudah dibuat bingung dengan munculnya seseorang yang mengaku membunuh bahkan memotong tubuh korban. Semua bahkan dibuat lebih buruk dengan pemberitaan media yang semakin mengada-ngada. Korban seorang aktris besar, dan kurasa aku lupa dengan media yang akan mempengaruhi penyelidikanku.

Belum lagi kenyataan Daniel—asistenku—yang mengatakan sesuatu tentang kamuflase kasus. Pemuda itu mengoceh perihal barang bukti (berupa permata). Dan semua orang tahu tanpa seseorng yang menjadi ‘terpidana’, kepolisian akan terus menyita barang bukti tersebut.

Seseorang masuk ke dalam ruang interogasi. Ia menyentuh pundakku, “Sudah cukup. Ini sudah lebih dari lima jam. Kau bahkan sudah melebihi batas prosedur kepolisian.”

Aku memprotes, “Mark, tapi ini belum—“

“Seseorang menunggu di luar. Dan… dia sangat mengkhwatirkanmu. Pulanglah. Kau butuh istirahat.”

Aku mendapati Marcus berdiri di ruang monitor. Sudah berapa lama ia di sini? Apa dia melihatku saat melakukan interogasi?

“Marcus…”

Pria itu tersenyum, “Kau terlihat kacau.” Ia mengecup keningku, dan dapat kurasakan guratan ketegangan di sini berangsur mereda. Marcus sangat hangat, dan aroma tubuhnya sangat menyenangkan. Aku seperti mencium bau tanah kering yang tersiram air hujan.

“Lebih sulit dari yang kubayangkan. Aku sudah kehilangan akal untuk membuatnya bicara. Marcus, aku sempat berpikir kau mau melakukan hal yang sama dengan orang di dalam sana seperti apa yang kau lakukan pada George. Aku sangat marah saat ini.”

Marcus tidak menjawab, ia hanya memelukku lebih erat.

“Baru kali ini aku merasa ingin membunuh orang.” Aku masih belum berhenti menumpahkan kekesalan. Marcus mencium puncak kepalaku dan membisikkan sesuatu. Sesuatu yang entah mengapa membuatku merasa menyesal mengatakan ingin membunuh orang.

“Aku akan mengeluarkan jantung mereka dari tempatnya jika berani menyentuhmu.”

;;;;;

Terlalu malam dan aku sangat menyesal mengapa tak lekas membelikan Marcus sebuah ponsel. Aku tidak tahu dimana pria itu saat ini. Mungkin terlalu berlebihan jika aku khawatir. Aku meninggalkan pesan di atas konter untuk pulang malam. Dan lagi-lagi menyesal mengapa tidak kutambahkan untuk menjemputku.

Baik. Kau mulai seperti bayi, Vivian. Ini bukan kali pertama kau mengemudi sendirian di tengah malam, dan London bukan kota mati. Hanya setengah jam, kau akan akan menemukan kembali gemerlap lampu kota.

Kemudian tidak lama aku menemukan diriku merengut. Setengah jam itu tiga puluh menit. Artinya aku masih harus bertahan selama seribu delapan ratus detik lagi.”Seharusnya aku membiarkan Mark mengantar pulang.” Lagi-lagi aku merajuk.

Ada cahaya. Oh, Syukurlah, ada pengendara lain di belakang. Kuharap ia juga membtuhkan ‘teman’ untuk pejalanan yang tidak panjang ini. Kendaraan itu semakin dekat, namun tidak ada tanda-tanda akan menyalip. Jadi bisa kupastikan kami bisa melakukan perjalanan menuju kota bersama-sama.

Tapi…

Tidakkah dia terlalu dekat? Aku sedikit menginjak gas untuk memberikan jarak di antara kami. Hey—“Oh!” mobil itu menabrakku, dan siapapun dia, aku tidak mencium niat baik di sana.

Mobil itu lagi-lagi menabrakku, namun aku masih bisa bertahan dan mengemudikan mobil ini lebih cepat. Tidak. Cahaya? Oh, ada cahaya di depan sana. Hentikan, kumohon. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Kendaraan di depan memberikan lampu jauh. Mataku sakit. Please… turunkan lampunya….

Hal terakhir yang kuingat adalah suara pecahan kaca bercamur dengan tulang punggung yang bergeser. Kemudian semua menjadi gelap…

;;;;;

Bangun dengan rasa sakit adalah hal terburuk yang tak pernah ingin kualami. Aku mencoba membuka mata. Sebelum semuanya berangsur jelas, aku sudah mendengar seseorang—tidak mungkin dua orang bicara.

“Aku menyuruhmu untuk langsung membunuhnya. Mengapa kau membawanya kemari?” suaranya cukup familiar. Namun aku tidak bisa mengingat apa-apa.

“Aku ingin bermain. Salah satu dedikasi yang harus diberikan oleh seorang jaksa penuntut adalah merasakan apa yang sang korban rasakan. Jadi, aku harus membunuhnya dengan cara yang sama.”

Aku membuka mata dan melihat sekitar. Seseorang tersenyum dengan sangat mengerikan. Aku mengenalnya. Dokter itu… tapi bagaimana ia bisa ada di sini. Aku dan Mark membawanya ke lokasi pembunuhan pagi ini, bagaimana ia bisa lepas? Apa yang terjadi dengan Mark?

“Breed, damn it! Terlalu lama. Orang-orang akan segera mencarinya!”

“Mark, kau sangat berisik.”

Mark? Tidak. Tidak. Jadi Mark terlibat? Ya Tuhan, jadi benar apa yang Daniel katakan kemarin malam. Kasus ini hanya kamuflase. Bagian terpenting bukanlah menemukan siapa pembunuh aktris itu. Barang bukti masih menjadi incaran. Seseorang harus dijadikan tumbal untuk melarikan permata-permata itu. Dr. Breed mungkin memang yang melakukan mutilasi. Namun korban sudah mati di tangan orang lain. Barang bukti terlanjur disita dan untuk menghindari kejahatan kedua, seseorang harus menjadi terpidan untuk melepaskan barang bukti secara bersih.
Vivian, asal kau tahu, aku tidak pernah suka kau bekerja sama dengan Mark.

Tiba-tiba aku merindukan Daniel. Kurasa karma sedang menimpaku yang sudah menggodanya dengan mengatakan ia cemburu karena aku terlalu dekat dengan Mark.

Tiba-tiba sesuatu yang kecil dan tajam menembus leherku. Awalnya sangat sakit, namun hal itu tidak berlangsung lama karena kemudian aku merasakan seluruh tubuh ini mati rasa. Aku hanya bisa menatap dua orang di hadapanku seperti orang idiot.

Breed menunjukkan sebuah gunting besar. “Pakaianmu hari ini sangat cantik. Kurasa kau memiliki merk busana favorit yang cukup terkenal .”

Aku hanya bisa merasakan cairan keluar dari sudut mata ini. Breed merobek pakaianku sedikit demi sedikit. Ia sengaja menaruh sebuah cermin di atas tempatku berbaring. Agar aku bisa melihat betapa mengenaskan diriku saat ini. Rambutku terurai berantakan dengan darah kering di beberapa bagian. Sebagian wajahku bahkan berubah warna menjadi merah. Bibirku juga membengkak.

Dan kini aku juga tanpa sehelai benang….

Tubuhku berjengit saat mendengar suara dengungan. Lengan Breed kembali memamerkan sesuatu. Aku benar-benar menangis tanpa suara. Pria itu menunjukkan sebuah gir berukuran sedang yang saat ini tengah berputar dengan kecepatan mengerikan. “Aku akan menyisakan wajahmu untuk yang terakhir. Karena kau sangat cantik. Untuk saat ini biarkan aku mengeluarkan jantungmu dulu.”

Jantung?

Aku akan mengeluarkan jantung mereka dari tempatnya jika berani menyentuhmu

Marcus… tolong aku…

Aku merasakan cairan pekat dan berbau karat menyembur dan membasahi wajah ini. Darah? Tapi darah siapa? Apa Breed sudah berhasil mengeluarkan jantungku? Tapi mengapa aku masih bisa bernapas dengan baik?

Detik kemudian aku seperti mendengar raungan panjang. Seperti raungan binatang. Kemudian suara teriakan memilukan menyusul. Aku ingin menutup telinga. Teriakan itu membuatku sangat takut. Aku mencoba melihat ke sekeliking, dan hampir tak percaya apa yang kulihat…. Ya Tuhan, Marcus?

Untuk pertama kalinya Tuhan memperlihatkanku sebuah penciptaan lain di muka bumi. Seperti sebuah cerita fantasi yang menghadirkan banyak monster dan makhluk penghisap darah.

Marcus berdiri dengan mantel yang berlumuran darah. Matanya. Pupilnya menyempit seperti mata kucing walaupun tetap berwarna hijau. Dan aku tak percaya jika dua benda itu kini becahaya dalam gelap.

Namun tidak ada yang membuatku lebih ketakutan selain apa yang ada dalam genggamannya saat ini. Marcus mencengkeram sebuah benda berwarna merah dan bergerak—berdetak. Aku tidak tahu benda apa sebelum akhirnya menatap tubuh dengan bagian dada yang robek hingga pusar di tangan kiri Marcus—tubuh Breed.

Ruangan serasa berputar, dan aku benar-benar ingin muntah. Namun sebelum aku sempat mengeluarkan isi perut ini, semuanya kembali gelap.

;;;;;

Kabut lagi, dan aku harus berusaha lebih keras untuk bisa melihat dengan jelas. Kelopak mataku berat, namun aku terus berkedip untuk menghasilkan gambaran jelas.

“Hey…”

Oh, suara itu. Aku sangat merindukannya. Aku tersenyum tanpa sadar. “Hm…” berbanding dengan melodi bass barusan, suara ‘hmm’ tadi terdengar sangat buruk, bahkan di telingaku sendiri. Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri? Tubuhku sangat pegal.

Pegal? Aku mengalami kecelakan berat, merasakan kepalaku menghantam jendela mobil, dan hampir mati karena rasa sakit di tulang punggungku yang bergeser. Sekarang aku hanya merasa pegal? Apa ingatanku ini hanya mimpi buruk?

“Sayang, buka matamu…”

“Marcus?” Aku menatap wajah itu lagi. Marcus tersenyum.

Wajahnya tak lagi pucat. Aku bisa melihat semburat merah di sana. Menyenangkan melihat warna itu. Warna merah muda.

Merah muda…

Merah…

Tidak! “Menjauh dariku!” tidak tahu mengapa dan bagaimana

bisa tiba-tiba aku histeris. Aku mendorong tubuh Marcus dengan kasar untuk kemudian beringsut mudur. Membuat jarak sebesar mungkin dengan pria di hadapanku.

Ingatan itu… tidak… tidak mungkin. Aku yakin semuanya bukan mimpi. Aku melihatnya. Aku melihat Marcus merobek tubuh manusia. Aku melihat dirinya mengeluarkan jantung mereka dari tempatnnya. Aku melihat matanya… dia… dia seperti monster. Ya Tuhan, aku pasti sudah gila.

Marcus meraih tubuhku yang bergetar hebat. Aku berusaha melepaskan diri, namun cengkeramannya begitu kuat. Aku berteriak sekuat tenaga. Memohon. Memintanya melepaskanku. Untuk tidak membunuhku. Membunuh? Marcus tak mungkin membunuhku. Tapi aku terus berteriak dan menangis sejadinya.
“Vivian… kumohon… berhentilah… aku tak akan menyakitimu. Kau sudah aman seakarang.”

Suara itu terdengar tulus. Tubuhku melemas dan akhirnya jatuh dalam pelukan. Marcus memelukku dengan erat. Aku dapat merasakan kehangatan. Aku tak lagi gemetar, hanya masih saja menangis. Entahlah… kali ini aku menangis bukan karena takut. Aku menangis karena merasa lega. Benarkah aku sudah aman? Benarkan Marcus tidak akan menyakitiku?

“Sssshh… kau akan baik-baik saja. Tidak ada lagi yang akan menyakitimu.” Aku masih terisak. Tapi benar-benar merasa lebih baik.

;;;;;

“Siapa kau sebenarnya?—tidak, kau ini apa sebenarnya?” Aku terus saja menanyakan pertanyaan itu. Ini sudah yang entah ke-berapa kalinya. Namun Marcus seperti enggan menjelaskan apapun padaku. “Marcus, please…” ujarku frustasi.

Aku dapat melihat pemandangan saat Marcus menghembuskan napas berat.

“Aku seperti ini sejak kecil. George dan keluarganya memungutku dari jalan. Mereka sepertinya tahu makhluk seperti apa aku ini. Mereka membesarkanku seperti seekor binatang peliharaan. Menyuruhku bekerja tanpa imbalan uang. Pekerjaan berat dan kasar. Walaupun aku selalu ingin belajar sesuatu di luar sana, George tak pernah mengizinkanku. Tapi aku tidak pernah mengeluh, selagi mereka memberi apa yang kubutuhkan.”
Aku mencengkeram ujung gaun tidur dengan kuat, “Yang-kau-butuhkan?”

“Makanan.”

“Makanan?” Aku hampir tak bisa mengatur napas dengan baik.
Marcus memandangku dengan tatapan seperti merasa bersalah,

“Jantung, Vivian. Mereka memberiku makan bcrupa jantung manusia.”

Darah seperti berhenti mengalir dari wajahku. Dingin. Aku bisa merasakan tanganku mendadak dingin. “J-jadi… kau betul-betul memakan benda itu? Memasukkannya ke dalam mulutmu, dan… dan m-mengunyahnya?” Tuhan… aku ingin lari saat ini juga.

Marcus mengangguk, dan reaksinya membuatku ingin mencari benda apapun untuk melindungi diri sekarang.

“Tapi aku tidak pernah tahu apa yang mereka berikan, hingga suatu saat, aku melihat dengan mata kepala sendiri George membawa tubuh seseorang ke rumah, dan… membedahnya. Vivian kumohon… aku tidak bisa menceritakan semua ini padamu.”

Aku menggeleng, “Tidak. Lanjutkan. Kau harus membuatku percaya kalau kau bukan orang—makhluk jahat.”

“Aku bertanya padanya. Namun George sungguh marah dan memintaku untuk menuruti saja perintahnya. Tapi aku memberontak. Aku tidak ingin mengikuti lagi perkataannya, dan ia tidak pernah lagi memberiku makan.”

“Jadi kau berencana untuk memakan jantungnya?”

“Vivian… please…”

Aku menutup mulutku sendiri. “Maaf… maaf… lanjutkan, Marcus.”

“Itu hanya karena aku bertengkar dengannya. George berusaha membawa tubuh gelandangan lagi untuk merayuku agar kembali menurutinya. Aku menolak. Aku tidak ingin George membunuh orang lagi hanya untuk memberiku makan. Aku tidak memungkiri jika aku sangat kelaparan. Berapapun banyak makanan manusia yang masuk ke dalam perut, tidak pernah membuatku benar-benar kenyang.”

Jadi ini lah alasan mengapa Marcus terus saja terlihat seperti kekuarangan gizi walaupun aku sudah menghabiskan separuh isi kulkas untuk makan siangnya. Karena aku tidak memberikan ‘makanan’ yang sesungguhnya.

“Marcus… kau seperti monster.” Aku sungguh tidak bisa menyembunyikan bagaimana penilaianku terhadapnya saat ini. Marcus mengangguk, dan aku benar-benar merasa bersalah.
“Kau adalah yang pertama, Vivian. Yang memperlakukanku seperti manusia normal. Agar bisa hidup bersamamu, aku berusaha mencari sesuatu untuk menggantikan makananku yang dulu.”

Aku menahan napas, “Kau menemukannya?”
Marcus tak menjawab, dan hal itu membuatku sangat frustasi. Perlahan tapi pasti, ia kembali memelukku. Sebuah cara yang baru kusadari sangat ampuh mengatasi rasa gugup. Jika kuingat, Marcus selalu melakukannya jika aku sedang kesal atau tengah gugup menghadapi persidangan.

Ia melepaskan pelukan, kemudian menangkup wajahku dengan kedua tangannya. “Apa yang kau lihat?” butuh beberapa detik untuk memahami pertanyaannya. Walaupun tak yakin, aku menyentuh tulang pipinya dengan jari telunjuk.

“Semburat merah.”

“Bagaimana rasanya?”

“Hangat.”

;;;;;

Marcus menciumku dengan sangat buas. Makhluk ini benar-benar liar jika sudah kenyang.

Memberinya makan jadi lebih efisien karena aku tidak perlu memasaknya. Aku mendapatkan suplai daging mentah dan sangat segar dari seorang kenalan di desa. Benar-benar segar, bahkan sampai darahnya. Marcus tak pernah membiarkanku melihatnya ‘makan’. Dan aku juga tidak pernah tertarik melihatnya ‘makan’. Ia memiliki tempat sendiri untuk menyantap makanannya. Hal itu hanya ia lakukan seminggu sekali. Kami berdua menyebutnya ‘diet’.

“Aku ingin kau menjelaskan soal pernikahan. Seperti apa jika seseorang menikah?”

Jangankan untuk menjawab, bernapas pun aku kesulitan. Marcus sudah hampir membuatku telanjang.

“Vivian…” Marcus menatapku, menunggu jawaban.

“Untuk bisa menikah, kau harus bisa bertambah tua.” Kuakui kalau aku terlalu banyak menonton film fantasi yang menceritakan makhluk immortal.

“Benarkah?” Marcus kembali mengerjai tubuhku. Kini leher. Bagian teramat sensitif. Aku tak sadar sudah melepas sendiri kaitan bra yang kupakai. “Aku tumbuh dewasa. Aku juga bercukur setiap hari. Jadi aku bukan patung porselein, Vivian. Aku juga akan bertambah tua.”

“Menikah itu merepotkan.” Aku tahu aku mulai terangsang hebat. Marcus tidak pernah masuk hitungan ‘lugu’ untuk hal seperti ini. “God… Marcus… bisa kita hentikan bicaranya?” Pintaku frustasi.

“Berjanjilah satu hal. Lalu aku akan berhenti bertanya.”

“Oh, baiklah kucing nakal, cepat katakan apa itu hingga kau bisa berkonsentrasi untuk melepas semua pakaian kita dengan benar.”

“Menikahlah denganku…”

-Bengal’s Pleasure-
End

Advertisements

5 thoughts on “Bengal’s Pleasure (Short Story)

  1. xoxo says:

    fanfic straigh…. tapi tetep ngebayangin mereka adalah pasangan gay hahaha.

    but, ini keren. gk pernah kecewa baca ff kak fe… :))

  2. Eggyuming says:

    Keren storynya kak fe,
    Jadi si marcus itu golongan immortal atau apaa?
    Masih tetep ngebayangin mereka itu kyumin.
    Aaaaaa rindu kyumin 😥
    Next story ditunggu kak fe’-‘)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s