Snowflakes #1

sad

“Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya mencintai begitu besar.”

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

 

“Dia memasukkan apa kali ini ke lokermu, Sungmin?”

“Kue beras.”

“Wow, itu makanan kesukaanmu.”

“Tidak, jika dia memberikannya tanpa wadah dan… disiram air. Kau tahu? Aku bosan jika tiap hari harus membersihkan loker. Tidak bisakah dia memberikan sesuatu yang normal? Sesuatu yang… cukup kering. Yang kemarin itu seperti ada yang muntah di dalam lokerku.”

“Laporkan saja pada keamanan sekolah. Untuk ukuran seorang penggemar rahasia, hal itu terlalu mengerikan. Seperti teror.”

“Yunho, kau terlalu banyak menonton film.”

“Aku serius. Saat ini sudah banyak manusia yang gila.”

“Termasuk kau sendiri.”

Siang yang terik. Seharusnya menjadi hal yang paling Sungmin nikmati saat jeda kuliah. Namun sepertinya terlalu besar harapan karena sudah hampir tiga bulan pemuda itu menjadi korban ‘hantu’ loker. Benda-benda yang ia suka selalu hadir di sana. Hal itu  cukup membuat kesimpulan si pelaku adalah penggemar rahasia. Tapi satu hal, yang tidak pernah dipahami oleh si pemilik loker, barang-barang yang diberikan selalu dalam keadaan yang basah.

Kesimpulan lain… penggemar itu gila.

“Jadi bagaimana? Aku akan menemanimu sekarang. Kita laporkan saja. Aku sedikit khawatir jika didiamkan dia akan melakukan yang lebih gila lagi padamu.” Yunho membereskan buku-buku bacaan yang sebelumnya berserak di sekitar mereka.

“Tidak. Tidak perlu sampai seperti itu.” Ujarnya pelan. Kelas sudah akan dimulai lima menit lagi, namun Sungmin justru bersandar di bawah pohon mahoni besar dan memejamkan matanya.

“Aku penasaran siapa pelakunya. Dengan melaporkannya, kita mungkin bisa diperlihatkan rekaman kamera keamanan sekolah, seperti di film—“

“Yunho!” Sungmin membentak. “Kau ke kelas berikutnya sendiri. Aku mau pulang.”

“Lho? Ada apa? Kau sakit?” Yunho mengerjap bodoh menilik wajah sahabatnya jika benar ada yang tidak beres dengan kesehatan Sungmin.

“Aku hanya malas. Ingin tidur.” Sungmin menjawab singkat. “Cepat pergi. Kelas akan segera dimulai.”

Dengan sedikit langkah berat, akhirnya pria itu pergi meninggalkan Sungmin yang masih berusaha merasakan kenyamanan oksigen pemberian tumbuhan besar tempatnya bersandar.

“Apa yang harus aku lakukan kepada orang ini?”

_flakes_

 Beberapa hari yang lalu (Sekolah, 06.30 pagi)

“Kyuhyun? Sedang apa kau pagi-pagi di sini?” Sungmin menemukan sosok yang lebih tinggi darinya tengah bersandar pada deretan loker siswa.

“Kau sendiri?” Pemuda itu menjawab sambil menunduk.

“Aku ingin tahu bagaimana rupa ‘hantu’ loker yang akhir-akhir ini membuat lelucon denganku. Jadi kusempatkan diri untuk datang pagi hari.” Ada sindiran dalam kalimat Sungmin. Ia melipat kedua lengan di dada untuk menunjukkan ketidaksukaan dengan subjek yang dimaksud.

“Lalu… kau menemukannya?” Kyuhyun masih menunduk. Kacamatanya bisa saja jatuh jika ia tidak terus-terusan membetulkan letaknya.

“Hm.” Sungmin mengangguk. “Aku menemukannya. Dan sedikit kecewa karena ternyata bukan seorang wanita cantik.” Sungmin terus berujar sarkatis.

Kalimat terakhir membuat Kyuhyun akhirnya mengangkat kepala. Sungmin jadi dapat melihat jelas bagaimana rupa seorang mahasiswa paling diam di kelasnya itu lebih dekat. Cho Kyuhyun. Mungkin karena itulah ia dinamai ‘Gyu’, dan orang-orang sering membuat lelucon dengan merubahnya menjadi ‘gwi’ yang artinya telinga. Cho Kyuhyun jadi hampir tak pernah menggunakan mulutnya untuk berintaraksi. Pria itu lebih suka mendengar—mungkin.

“Kalau begitu… sayang sekali ya…” dari balik frame tebal, Kyuhyun memandang Sungmin dengan tajam. Kemudian ia beranjak untuk meninggalkan tempat itu.

Namun Sungmin menahan lengannya. “Hentikan Kyuhyun. Kau tidak bisa terus seperti ini. Kita bisa jadi teman lagi. Itu akan lebih baik ketimbang harus terus melakukan hal-hal konyol untuk mendapatkan perhatianku.”

Kyuhyun diam saja. Belum mau beranjak dari posisi mereka.

“Kau tidak boleh menyerah dengan keadaan. Aku akan membuatmu kembali normal dan—“

“Apa kau pernah mencintai seseorang sampai rasanya ingin mati?”

Sungmin menganga mendengar pertanyaan itu. Ia tak memiliki jawaban.

“Tidak, kan? Kau masih saja sama, Sungmin. Semua seperti terasa mudah di matamu.”

“Aku tidak bermaksud merendahkanmu—“

“Kau sudah melakukannya. Kau terus melakukannya selama beberapa tahun terakhir. Aku mencintaimu, aku tak bisa jika tidak melihatmu, aku ingin memilikimu, dan semuanya membuatku seperti ingin mati saja.”

“…”

Kyuhyun akhirnya berbalik dan menatap wajah Sungmin yang masih terkejut. “Akan membuatku kembali normal? Apa aku pernah normal sebelumnya? Kau tidak tahu itu semua kan?” Pria itu terus memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak butuh jawaban. Sungmin terlalu takut untuk sekedar menggerakkan lidahnya. Takut jika satu lagi kalimat yang keluar akan semakin melukai Kyuhyun.

Salah satu lengannya terulur menyentuh wajah Sungmin. “Mencintaimu seperti menggenggam salju. Tak bisakah kau tetap membeku dalam genggamanku?”

Wajah keduanya yang terlalu dekat hingga dapat merasakan hembusan napas masing-masing menjadi keadaan statis yang cukup hening. Hingga akhirnya Sungmin tersadar dan menyingkirkan jemari itu dari wajahnya. “Kau memang gila, Cho Kyuhyun.”

Alih-alih Kyuhyun yang tadi seharusnya pergi lebih dulu, kini berbalik Sungmin yang melangkah meninggalkan pria malang di belakangnya.

_flakes_

“Beberapa model kurva selalu menunjukkan persinggungan yang hampir sama. Ini menunjukkan bahwa pola penjualan yang dilakukan oleh banyak pengusaha tidak pernah berbeda. Hanya saja dalam tahapan perealisasian, di awal biasanya perusahaan selalu mengambil jalan dari titik yang berbeda. Untuk itu—“

Sungmin tak mampu berkonsentrasi di bawah tatapan seseorang yang sebenarnya cukup jauh dari tempatnya duduk. Hanya saja rasanya seperti berada dalam bidikan pengeksekusi mati. Cukup membuatnya tidak tenang. Sementara Yunho di sebelahnya sibuk memenuhi buku dengan catatan penting dari apa yang dosen terangkan, berbeda dengan Sungmin yang bahkan hampir lupa bagaimana caranya menulis.

“Yunho…” Sungmin berbisik.

“Hm?”

“Aku ingin pindah ke belakang. Aku ngantuk.” ujarnya berbohong.

Yunho hanya mengangguk, masih sambil berkonsentrasi pada perkuliahan. Sementara Sungmin mulai beranjak dari tempat duduk semulanya. Pemuda itu menaiki tangga tribun dan berbelok pada barisan kedua dari belakang.

Ia duduk tepat di sebelah Kyuhyun.

“Kau senang? Aku akan terus di sini hingga kau bisa berkonsentrasi pada kelas. Aku tidak ingin jadi alasan kau tidak lulus dalam mata kuliah ini.”

Kyuhyun hanya terdiam. Walaupun terkejut, ia tidak memiliki kemampuan untuk mengekspresikannya lebih jelas. Sungmin selalu membuatnya melambung, bahkan merasa sudah hampir berada dalam genggamannya. Namun seperti yang pernah ia katakan, Sungmin bagai kepingan salju. Kyuhyun selalu seperti menggenggam ketiadaan.

“Novel yang kau berikan harus kujemur dulu agar bisa dibaca. Terima kasih.”

Sungmin menaruh kepalanya di atas lipatan kedua tangan di atas meja. Ia betul-betul ingin terpejam.

Satu jam kemudian Sungmin terbangun karna kelas mulai gaduh. Saat sudah berhasil membuka mata, ia menemukan secarik kertas bertuliskan “Maaf”. Kepalanya berputar ke seisi kelas dan pada akhirnya tak menemukan sosok yang dicari.

_flakes_

“Yunho, apa pendapatmu tentang hubungan sesama jenis?”

Yang ditanya langsung saja menghentikan kegiatannya menekuni layar komputer.  “Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Katakan saja pendapatmu.”

“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Walaupun hubungan seperti itu sudah lumrah di muka bumi, aku tetap harus berusaha menghindarinya.” Jari-jari Yunho kembali bergerak begitu lihai menari di atas keyboard. Harus Sungmin akui bahwa rekannya yang satu ini sungguh memiliki keseimbangan otak kanan dan kiri yang sempurna.

“Menghindari? Maksudmu?” Sungmin masih belum paham.

“Banyak penelitian mengungkapkan bahwa hubungan seperti itu terjadi pada individu dalam satu komunitas. Pergaulan menjadi konsentrasi utama atas perilaku ketertarikan. Jadi jika kau normal, kemudian hidup diantara para gay, kau memiliki peluang besar untuk menjadi seperti mereka.”

Setelahnya Sungmin hanya diam dan berpikir. Kyuhyun bukan orang yang suka bergaul apalagi terlibat dalam komunitas yang Yunho maksudkan. Jadi tak mungkin hal itu penyebabnya.

“Ada penyebab lain?” Pemuda itu kembali bertanya.

“Cinta—mungkin.” Yunho menatap layar lebih serius karena sepertinya ada yang terlewat. “Aku percaya ada rasa seperti itu bahkan dari atau kepada orang yang salah.”

“Jadi menurutmu hubungan seperti itu ada yang tidak dapat dihindari?”

“Sungmin, aku harus menemui profesor setengah jam lagi, dan kau sama sekali tak membantu!” Agaknya Yunho kesal karena Sungmin selalu saja memotong kalimat yang telah ia rangkai di kepala dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya sangat aneh.

Sungmin tersenyum kecut, “Heu… mian. Aku akan diam.”

_flakes_

Pagi ini Sungmin hanya diam memandangi isi lokernya yang kosong. Bahkan tanpa benda-benda kesukaannya yang sudah tiga bulan ini  menjadi satu-satunya pemandangan di sana.

Apa Kyuhyun menyerah?” pikirnya hampa.

Dan di sinilah dia. Di depan sebuah kamar rumah susun tua tak jauh dari kampusnya. Tempat yang sudah tak lagi ia kunjungi sejak beberapa tahun lalu. Rumah penuh kenangan singkat saat masih menjadi sahabat seorang Cho Kyuhyun.

Ia mengetuk, dan seseorang membukanya.

“Hai… “ Sungmin menyapa tanpa beban, tak juga menghiraukan tatapan terkejut orang di hadapannya.

“Kenapa kau ke sini?” Kyuhyun bertanya. Masih dengan tatapan tak percaya.

“Sudah berapa tahun? Tiga? Ya… kalau aku tak salah hitung sudah tiga tahun, Kyuhyun. Waahh~ benar-benar tak ada yang berubah dari rumah ini. Bagaimana dengan ayahmu? Apa aku bisa masuk ke dalam dan menyapanya?”

Sungmin masuk ketika Kyuhyun akhirnya memberikan jalan tanpa berkata apa-apa. Menuntun pemuda itu untuk menemui seseorang yang dimaksud.

Dan… Sungmin bersumpah akan menampar mulutnya sendiri jika saja tak ada Kyuhyun di sana. Pria itu memang mengajaknya untuk bertemu sang ayah… lebih tepatnya papan nama sang ayah. “K-Kyuhyun… maafkan aku…”

“Kau bilang ingin menyapanya, kan? Akan kusiapkan dupanya. Kau tunggu di sini.”

Dengan perasaan campur aduk Sungmin hanya bisa mengamati Kyuhyun yang kesana kemari menyiapkan perlengkapan ‘menyapa’. Ia mengambil tiga batang dupa, memberikannya pada Sungmin, dan membantunya menyalakan benda itu.

Sungmin hanya bisa terpana, tubuhnya seperti bergerak sendiri melakukan ritual penghormatan pada almarhum ayah Kyuhyun. Sementara itu di sebelahnya Kyuhyun hanya menatap dengan pandangan sulit diartikan.

“Paman, sudah lama sekali. Aku tak menyangka akan menyapamu seperti ini. Maafkan aku. Sekarang aku kembali, dan akan menjadi teman Kyuhyun yang setia. Kau bisa tenang karena Kyuhyun tak akan sendirian lagi. Kau bisa percaya padaku.” Kemudian Sungmin membungkuk dalam sebagai akhir dari ritual.

“Sejak kapan?” Sungmin bertanya pada Kyuhyun.

“Tiga tahun lalu. Tepat satu minggu setelah pesta kelulusan kita.” Kyuhyun menjawab datar. Namun entah mengapa Sungmin merasakan luka yang lain dalam kalimatnya.

“Tepat saat aku menolakmu, menghinamu dengan sebutan manusia menjijikan.”

“Sungmin, aku tak ingin membahasnya.”

“Tapi aku ingin. Kita harus memperbaiki semuanya.”

“Tidak perlu. Aku harus menghentikan semuanya sebelum kau terlibat dalam masalah.”

“Dengan menghilang tiba-tiba? Kau tidak dengar? Aku sudah berjanji di depan ayahmu tadi. Aku tak akan pergi lagi meninggalkanmu. Kau teman paling berharga yang pernah kumiliki. Aku menyesal dulu sudah melakukan hal itu padamu, aku satu-satunya orang yang paling kau percaya, tapi justru berbalik menjauhimu. Aku sudah mengerti sekarang. Sudah tidak apa-apa. Percayalah.”

Kyuhyun diam beberapa saat. Kemudian melangkah maju. Satu-satu jarak mulai terkikis di antara mereka berdua. Dan ketika wajah Kyuhyun mendekat, Sungmin sontak mundur beberapa langkah.

Senyuman sarat akan luka terukir di bibir Kyuhyun. “Kau bohong, Sungmin. Aku masih membuatmu takut. Dan akan terus membuatmu takut.”

“K-Kyuhyun—“

“Pulanglah. Jangan datang lagi ke sini. Ayahku sudah tak bisa mendengar apapun, dia tak akan mendengar apa yang kau katakan tadi. Aku juga akan melupakannya. Jadi jangan khawatir.”

Pria itu mendorong tubuh Sungmin untuk segera pergi.

“T-tunggu… tapi kita masih bisa bertemu di kampus, bukan?” Sungmin masih menahan diri di ambang pintu.

“Tidak. Kupastikan kau tidak akan bertemu ataupun mendengar kabarku lagi. Selamat tinggal, Sungmin.”

Dan pintu itu tertutup.

“Kyuhyun~” Sungmin berujar sedih. Bukan hal ini yang ia harapkan saat memutuskan untuk berkunjung ke rumah Kyuhyun.

_Flakes_

“Jadi dia drop out?” Sungmin terkejut mendengar penuturan petugas akademis. “Karena apa?”

“Beberapa mata kuliah tidak lulus, dan ia tak berusaha untuk mengulangnya lagi.”

“Apa nilai-nilainya begitu buruk?”

“Setahuku tidak. Pada mata kuliah yang lainnya ia selalu bermarka ‘A’. Kurasa ada hal lain yang membuatnya harus selalu membolos. Kami sudah mencoba bicara untuk bisa mempertahankannya di sini. Tapi seakan anak itu menutup dirinya. Kami juga sangat menyayangkan karena ini tahun terakhir baginya.”

“Kyuhyun! Yah, Cho Kyuhyun! Buka pintunya!! Kita harus bicara!!” Sungmin menggedor rumah Kyuhyun berkali-kali. Namun rumah itu seperti sudah tidak berpenghuni. Rasa bersalah semakin deras dalam aliran darahnya. Takut, cemas, semua menjadi satu. Jika Kyuhyun pergi lagi, ia sudah memastikan bahwa pria itu pergi dengan membawa luka yang lebih besar daripada tiga tahun lalu.

“CHO KYUHYUN!!! BUKA PINTUNYA!!”

“Aigooo~ anak muda… jangan berteriak terus. Di sini banyak yang sudah memiliki bayi. Kau akan mengganggu tidur siang mereka.” Seorang nenek tua keluar dari pintu tepat di sebelah kediaman Kyuhyun. Wajah lelahnya mengisyaratkan usia yang tak pernah bisa manusia hentikan.

Sungmin membungkuk dalam. “Maafkan aku. Tapi nenek, bisa kau beri tahu ke mana penghuni rumah ini pergi?”

“Aaahh… Kyuhyun… dia sudah pergi pagi ini. Tapi ia tak memberi tahu akan kemana. Kau tidak lihat di pintu? Rumah itu sudah disewakan lagi, jadi ia tak akan kembali.”

Ketakutan Sungmin pun menjadi kenyataan. Kyuhyun lagi-lagi pergi. Pria itu kembali mencoba menghilang dari hidupnya.

_flakes_

“Aku mencintaimu sampai rasanya ingin mati.”

Part 1 end

Advertisements

3 thoughts on “Snowflakes #1

  1. orange girls says:

    maaf numpang baca ffnya… keren… kyu cinta banget sama min tapi kenapa min begitu? jadinya min nyeselkan kyunya pergi…

  2. rey2506ovallea says:

    baru x ni bc ff kyu yg d tolak tp sedih
    biasanya sih biasa aja krn kn kbnykan ff ming yg mderits jd pas kyu mderita its oke lah gantian lah… jd ga sedih
    tp ini nih knp pk nangis sgala eike hikksss… 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s