Snowflakes #2

Kyuhyun-Super-Junior-kpop-magnaes-35923388-1500-1000

dan pemuda ini—juga perasaanku—sama sekali tidak sederhana.”

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

“Yunho… apa yang akan kau lakukan jika memiliki teman seorang gay?”

Lagi-lagi pertanyaan itu. Yunho bahkan sudah berdoa saat akan berangkat ke kampus agar temannya yang satu ini berhenti bertanya macam-macam soal hubungan-sesama-jenis.

Tapi sepertinya Tuhan belum mengabulkan.

“Sungmin, tak adakah topik yang lebih baik selain membahas bagaimana laki-laki bisa mencintai laki-laki? Aku bosan, dan sejujurnya agak… risih. Kau tahu? Tidak ada pria normal yang selalu membahas hal ini berkali-kali.”

Sungmin hanya melirik keji mendengar penuturan rekannya itu. Rasanya ingin sekali membentak. Tapi jika dilakukan, ia yakin Yunho tak akan mau mendengarkan cerita apapun lagi dari Sungmin. Seorang Lee tidak pernah punya kemampuan untuk mencari jalan keluar atas permasalahannya sendiri sejak dulu. Ia butuh pendapat orang lain. Dan Yunho adalah yang terdekat saat ini.

“Kau sama sekali tidak kooperatif. Apa salahnya mendiskusikan soal ini?”

Yunho hanya diam tak mengindahkan protes.

“Yah~ Yunho-yah~~”

“Apa kau tahu? Ada desas-desus perihal mahasiswa di sini yang memiliki orientasi seksual seperti itu.” Yunho akhirnya membuka kacamata dan menyingkirkan sejenak kertas-kertas tugas di atas meja.

Dan Sungmin menyambut baik hal itu. Karena dia juga bisa mengistirahatkan otaknya sejenak. “Benarkah? Apa kita mengenalnya?”

“Lihat… lihat… betapa semangatnya kau.” Yunho bergumam pelan. “Aku tahu, dan tidak terlalu mengenalnya. Tapi kau iya.”

Sungmin tak mengerti. “Huh? Aku?”

“Jangan berteriak ya.” Pria itu mulai mengecilkan volume suara. “Mereka bilang, Cho Kyuhyun itu gay.

Sejenak tubuh Sungmin seolah tanpa jiwa. Ia kaku bagai manekin. Bahkan sudah tak mendengarkan lagi kelanjutan apa yang tengah dibicarakan Yunho.

Hanya mendengar satu nama itu, wajahnya serasa ditampar. Untuk kemudian rasa bersalah memenuhi setiap tarikan napasnya.

Oh, itupun jika Sungmin masih ingat bagaimana caranya bernapas saat ini.

“Bukankah waktu itu kau pernah mengatakan kalau Kyuhyun berasal dari sekolah yang sama denganmu di SMA?”

Pertanyaan itu berhasil membawa kembali Sungmin dalam lingkup dunia nyatanya bersama Yunho dan seisi ruangan perpustakaan.

“Oh? B-benarkah aku bicara begitu?” sahutnya gugup.

“Hm. Kau pernah bercerita padaku.” Yunho bergerak meregangkan jari-jari tangannya. “Aku kasihan padanya jika berita itu tidak benar. Mungkin kau bisa meluruskannya? Kurasa jika Kyuhyun memang menyimpang, pasti kau sudah mendengarnya jauh sebelum ini. Saat kalian masih di bangku sekolah menengah atas. Dan dengan mulutmu yang tidak bisa diam itu, aku pasti sudah mendengarnya walaupun kau tidak sadar bahwa sudah bercerita.”

Sungmin menurunkan kedua tangan dari atas meja. Di bawah benda itu, jemarinya saling mencengkeram kuat. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

“Ehm… kurasa… aku juga baru tahu.” Sungmin berusah mengatur napas sebaik mungkin.

“Kau yakin? Hmm… berarti memang hanya ada dua kemungkinan. Pertama, dia tidak populer di sekolahmu, dan kedua… gosip itu salah.” Yunho mengambil kesimpulan cerdas dan baik hati, walaupun Sungmin sangat tahu bahwa yang kedua salah. Kyuhyun memang tidak populer, tapi anak itu memang menyukai sesama pria. Kyuhyun…. menyukainya.

“Itu hanya gosip, Yunho. Jahat sekali yang membuat berita itu. Kyuhyun bahkan sudah Drop out dari kampus ini.” Nada suaranya memang tenang, namun ia bersumpah bahwa getir di dalam hatinya tak akan bisa menghilang sebelum ia mengetahui dimana Kyuhyun.

Dan…. Sungmin benar-benar harus mencarinya…

_snowflakesTheSeries_

“Berpikir Sungmin… ayolah… gunakan otakmu…”

Hari mulai gelap namun Sungmin tak juga beranjak dari bangku taman tak jauh dari gedung kampusnya. Pemuda itu terlihat terus saja merubah ekspresi wajah. Kadang kesal, kadang tersenyum, kadang terlihat frustasi bahkan sampai menarik-narik rambutnya dengan keras. Ia bahkan tak peduli orang-orang menganggapnya gila.

“Aku harus mulai dari mana? Pria itu bahkan seperti hantu yang muncul dan menghilang tiba-tiba. Jika dulu dia tak pernah mengajakku ke rumahnya pun sampai saat ini aku tak akan tahu itu dimana.” Sungmin masih bermonolog.

“Apa aku bertanya saja pada teman-temannya? Tapi siapa? Kyuhyun seperti bocah autis dari dulu. Teman dekatnya hanya aku… dulu.”

Kembali ia memijat pelipisnya mencoba untuk santai.

“Teman sekelasnya?” Kedua matanya membulat. “Bodoh! Aku ini teman sekelasnya.” Dan kembali merengut.

Pria itu terus saja bicara sendiri hingga waktu akhirnya menunjukkan pukul tujuh malam. Angin musim panas mulai membuat giginya sakit. “Aku harus pulang. Lapar.” ujarnya lemas.

…..

“Aduh~ sakit sekali leherku.” Sungmun mengusap dan memijat tengkuknya yang terasa kram.

Sudah berapa lama ia tertidur dengan posisi itu? Sungmin sendiri tak tahu. Matanya langsung mengarah pada jalan-jalan di luar sana, dan kemudian menghela napas lega karena ternyata belum terlalu jauh dari halte tempatnya naik bis tadi.

Dengan kapasitas otaknya yang tidak seberapa serta ditambah dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, Sungmin butuh beberapa menit untuk megenali bayangan lain di kaca jendela.

Seseorang yang duduk di sebelahnya.

Seseorang yang entah sudah berapa lama memandangnya dengan tatapan seperti itu.

Sontak kepalanya menengok dan berbalik untuk memastikan lebih jelas.

“Kyuhyun!”

Sungmin bisa merasakan supir bis hampir mengerem tiba-tiba, dan sebagian penumpang yang mengumpat karena tidur mereka terganggu akibat dari suara tenornya itu.

“Aku tidak sedang bermimpi kan?” Ada kebahagian yang samar di mata Sungmin ketika wajah itulah yang saat ini berada dalam jarak pandang terdekatnya. “Yah! Kau kemana saja? Ini sudah hampir satu bulan. Dan aku sudah ingin melaporkanmu ke kepolisian atas kasus orang hilang.”

Sosok di sana masih mematung.

“Kau tahu? Aku sangat khawatir waktu kau pergi begitu saja tanpa pamit. Nenek di sebelah rumahmu bahkan tidak tahu kemana kau pindah.” Pemuda itu masih bersuara cukup keras hingga orang-orang yang awalnya jengkel, pada akhirnya menyerah dan memilih menikmatinya.

“Kyuhyun. Kau sekarang tinggal dimana? Apa yang kau lakukan?”

“Kau mengkhawatirkanku?” Akhirnya bass indah itu mengalun dari bibir Kyuhyun.

“Tentu saja. Kau tidak mempercayaiku?”

“Apa kau juga khawatir seperti ini jika anjingmu pergi dari rumah?”

“Hm!” Sungmin mengangguk walaupun tidak sepenuhnya mengerti mengapa Kyuhyun justru membahas anjingnya.

“Apa yang kau lakukan jika anjingmu kabur dari rumah?” Kyuhyun masih melanjutkan pertanyaannya.

“Tentu saja langsung kucari di segala tempat. Bahkan kalau perlu aku akan memenuhi tembok jalanan dengan gambarnya.” Sungmin menjawab tanpa ragu.

“Kau mengkhawatirkanku?” Sekali lagi Kyuhyun bertanya.

“Iya! Kenapa sih bertanya terus?” Pemuda itu mulai jengah. “Aku. Sangat. Mengkhawatirkanmu.”

“Tapi kau tidak mencariku.”

Sungmin tak dapat membalas. Lidahnya serasa kelu. Jadi hal itukah yang ingin Kyuhyun katakan? Ia bahkan membandingkan dirinya dengan seekor anjing. “A-aku… bukan begitu… aku ingin mencarimu. Tapi—“ Sungmin betul-betul kesulitan mencari alasan. Sial betul. Mulutnya yang terlampau jujur ini tak pernah bisa ia jaga. “Hari ini, Kyuhyun. Hari ini… aku berniat untuk mencarimu.” Jeda lagi untuk mencari padanan kata yang tepat. “Hanya saja…. aku tak tahu harus mulai dari mana…” dan kemudian menyerah.

Terdengar helaan napas panjang. Napas Kyuhyun begitu segar saat menyapu kening Sungmin. Diam-diam pemuda itu menikmatinya.

“Sudahlah. Kau harus siap-siap. Aku akan memastikan kali ini kau benar-benar turun. Ah. Sudah sampai.”

Tak ada pilihan selain menuruti perkataan Kyuhyun. Wajahnya merengut saat menyaksikan siluet pria itu di dalam bis menjauh dari halte tempatnya turun.

Hanya satu yang diingat Sungmin. Lagi-lagi…. wajah Kyuhyun yang terluka.

…..

Oppa, kau dari mana saja?”

Sungmin yang melamun, terkejut ketika adik perempuannya menyambut di ruang tamu.

“Oh, Sunghee-ya… aku hanya mencari udara segar sebentar.” Ujarnya sambil tersenyum yang dipaksakan.

“Sampai selarut ini? Kau bukan mencari udara segar namanya, tapi mencari penyakit jika keluyuran di jam seperti ini.”

Refleks Sungmin mengalihkan pandangan pada jam tangannya, dan di sana terpampang angka digital dua puluh dua titik tiga puluh. “Huh? Setengah sebelas malam?”

“Lihat… lihat… kali ini kau bahkan berlagak tidak menyadari waktu.” Sang adik membalas dengan nada sarkatis, kemudian naik ke atas di mana kamarnya berada sambil berteriak, “Appa, Eomma, Sungmin oppa sudah pulang!”

Sementara itu, Sungmin masih terpaku pada kemungkinan yang baru saja terjadi. Jarak dari halte kampus ke rumahnya hanya setengah jam. Tapi yang ia lihat saat ini adalah dirinya sudah menghabiskan perjalanan selama tiga jam lebih.

 

Beberapa jam lalu…

(KYUHYUN)

Aku tak menyangka akan melihatnya lagi. Dia sama sekali belum berubah, selalu saja terlihat kusut. Apa kuliah begitu berat baginya?

Aku tersenyum. Ya… aku tak akan malu lagi mengakui. Semua yang ada pada diri Sungmin selalu membuatku bahagia, bahkan jika ia sudah berulang kali menyakiti hatiku. Orang itu tetap yang paling ingin kulihat wajahnya walau hanya sebentar.

Dan ini sudah satu bulan.

Kurasa dia tak melihatku. Hmm… bahkan tempat duduk favoritnya tidak berubah. Dengan suasana hati seperti apapun, Sungmin selalu menemukan tempat kesayangannya di dalam bis.

Aku ingat dulu ia bahkan pernah memohon pada salah satu penumpang untuk bertukar tempat duduk. Sungmin selalu bersikap memalukan. Tapi itulah yang membuatnya sangat spesial.

Aku harus puas dengan hanya melihat belakang kepalanya. Dia menunduk…. dan… tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa orang itu tertidur. Kuharap Sungmin tidak melewatkan haltenya.

Tiga puluh menit berlalu….

Sudah kuduga.

Haruskah aku menghampiri dan membangunkannya? Cho Kyuhyun, kau memang tidak pernah jera. Kata hatiku tak pernah bisa diajak berkompromi. Dan sepertinya aku juga tidak berusaha dengan keras untuk melawan.

Wajah itu terlihat kelelahan. Bahkan ada kerutan di keningnya. Apa yang membuat orang ini bahkan tidak tenang saat tidur? Rasanya seperti aku rela menukar semua uang tabunganku agar bisa menjadi alasan dibalik tidur Sungmin yang tidak nyenyak.

Hanya membayangkan saja rasanya sudah senang.

Kami sudah sangat jauh dari halte yang seharusnya menjadi pemberhentian Sungmin.

Ahjussi,” aku mencoba berbicara pelan pada supir. “Apa bis ini akan kembali?”

“Ya. Kami masih ada satu rute sebelum kembali ke pengumpul. Ada apa?”

“Hm… sepertinya kami sudah melewati tujuan.”

“Kenapa tidak turun di halte selanjutnya saja? Kau akan membuang waktu satu jam jika ikut memutar.”

Aku kembali menatap Sungmin. Tidurnya seperti bayi, “Temanku sepertinya sangat kelelahan. Aku tidak tega membangunkannya. Kurasa tidak apa jika harus ikut perjalanan lebih lama.”

“Baiklah. Terserah kau saja.”

Aku memang tak melakukan apapun. Hanya memandanginya saja. Kuharap tidak ada yang langsung berkesimpulan bahwa aku adalah penyuka sesama jenis. Walaupun pada kenyataannya aku memang menyukai makhluk di hadapanku ini. Dan dia pria. Sama sepertiku.

Orang banyak mengatakan bahwa bahagia itu sederhana. Tapi sepertinya tidak untukku. Lee Sungmin adalah alasan kebahagiaan itu, dan pemuda ini—juga perasaanku—sama sekali tidak sederhana.

_SnowFlakesTheSeries_

“Kau memang jenius, Sungmin.”

Pemuda itu memuji dirinya sendiri karena akhirnya berhasil menemukan cara. Dia sangat yakin, dengan metode tersebut dirinya akan bisa bertemu Kyuhyun lagi dan sekaligus mengetahui dimana tempatnya tinggal.

Sungmin naik bis yang sama pada jam yang sama. Dan dia mulai berlagak bak mata-mata ketika sosok yang ia tunggu betul-betul naik bis yang sama dengannya. Melalui perjalanan satu setengah jam yang cukup melelahkan sampai pada akhirnya ia tahu bahwa Kyuhyun memang turun di pemberhentian terakhir.

Sebuah distrik kusam di pinggiran Seoul. Sungmin tak pernah tahu ada tempat sesuram ini di tengah-tengah gemerlap malam ibukota. Dan di sinilah dia, terjebak di antara hingar musik retro dan lautan manusia yang bergoyang ke sana kemari. Sungmin tahu tempat seperti apa yang saat ini ia datangi, hanya saja ini adalah pertama kalinya ia pergi ke sebuah club malam sendirian..

Tapi tujuan utamanya adalah Kyuhyun.. dirinya harus bertahan.

“Oh! Aku tidak pernah tahu ada manuisa semanis ini. Apa kau baru?”

Seseorang tiba-tiba berbicara sangat dekat dengan telinga Sungmin. Membuatnya berjengit dan refleks menggeser tubuhnya hingga terantuk sudut meja. Pemuda itu meringis kecil.

“Lihaaaat… bahkan wajah terkejutnya benar-benar lucu.” Ujar pria itu lagi.

Satu hal yang ada di dalam pikiran Sungmin saat melihat laki-laki di hadapannya. Paman. Itu. Sangat. Jelek.

Ya ampun, tempat apa ini? Apa orang ini sudah tak bisa mengenali kalau aku ini pria?

Sementara Sungmin bergulat dengan rasa penasaran, pria hidung belang itu menggeser posisi duduknya semakin mendekat. Orang itu bahkan mulai menyentuh paha Sungmin.

Ahjussi, kau akan kupukul jika berani macam-macam.” Sungmin mengancam. Ia sedikit mengumpat karena tak ada sesuatu yang bisa dijadikan senjata.

Pengaruh alkohol memang selalu menimbulkan dampak yang tidak baik. Pria setengah baya yang saat ini seharusnya berada di rumah bersama istri dan anak-anaknya justru menghabiskan waktu untuk mabuk dan menggoda laki-laki muda di sebuah ‘gay club‘.

Ya… itu nama tempatnya. Dan Sungmin betul-betul sudah terjebak di dalam.

“Ayolah… jangan begitu. Kau juga sendirian kan? Kita minum berdua. Aku yang traktir…”

Sungmin sibuk menyingkirkan tangan yang selalu saja mencoba meraba tubuh bahkan daerah sensitifnya. Ia ingin sekali memukul. Namun dari beberapa film yang pernah ditonton, jika seseorang memulai pertengkaran di tempat-tempat seperti ini, pasti akan berakhir dengan luka parah atau bahkan mati. Dan demi Tuhan Sungmin tak ingin berurusan dengan pihak berwajib, apalagi dengan alasan membuat keributan di sebuah club malam… gay club. Bisa-bisa ayahnya terkena serangan jantung.

Yang harus Sungmin lakukan sekarang adalah segera pergi.

“H-hey, lepaskan aku! Dasar gila! Kubilang lepas–AAAHH!!”

Apa yang baru saja dialami Sungmin betul-betul sakit… dan memalukan.

Dengan sekuat tenaga pemuda itu mendorong tubuh mabuk yang tadi sudah merangkul dan meremas… bagian vital… di bawah perutnya.

Well, itu cukup memalukan memang.

Dan… beberapa saat kemudian Sungmin baru menyadari jika refleksnya tadi itu adalah suatu kesalahan. Karena segera saja beberapa orang berbadan tegap menghampirinya dengan wajah seperti akan menelan pemuda itu bulat-bulat.

Tak lama sebuah titah terdengar dari mulut si laki-laki hidung belang tadi, “Sial! Beri anak itu pelajaran!”

Habislah Sungmin.

Tapi…

“Tuan-tuan, kumohon hentikan!” Semua orang menoleh ke sumber suara. Di sana berdiri seorang tampan bersama pemuda berseragam pelayan yang berdiri di belakangnya.

“Tolong jangan buat keributan di tempatku. Ini malam yang indah bukan?” Suara bariton nya mengalun dengan jantan dan sarat akan wibawa.

“Anak ini yang mulai. Dia sudah tidak sopan padaku.”

“Benarkah? Tapi yang sedari tadi kulihat bukan seperti itu.” Ucapnya sambil terus tersenyum. “Tuan, aku sudah menyediakan banyak orang untuk kau pilih malam ini, jadi kenapa harus mengganggu tamuku yang lain?” Tidak ada lagi yang menginterupsi, seakan pesonanya benar-benar menunjukkan bahwa di tempat itu dialah yang berkuasa.

“Kyuhyun-ah, bawa temanmu pergi dari sini.” bisik pemuda itu cepat.

Seseorang berseragam itu Kyuhyun, dan dia membungkuk patuh dengan apa yang baru saja diperintahkan. “Heechul hyung, terima kasih.”

;;;;;

“K-Kyuhyun, bisa… bisa kau lepaskan tanganmu? Orang-orang mulai memperhatikan.”

Genggaman tangan itu terpisah tiba-tiba. Sungmin merasakan darah di telapak tangannya berdesir keras karena terlalu lama berada dalam tekanan yang kuat, dan dengan mudahnya terlihat memerah.

“Sungmin. Sebenarnya apa yang kau lakuan di tempat tadi?!” Kyuhyun yang sedari tadi berusaha sekeras tenaga menahan kecemasan terhadap laki-laki yang tengah bersamanya itu kini seperti meledak.

“Karena… aku melihatmu masuk ke dalam.” jawabnya polos.

“Kau mengikutiku?”

Yang ditanya mengangguk.

“Apa kau sudah gila? Kau tahu tempat apa itu?! Banyak orang-orang berbahaya di dalam! Mereka bisa menyakitimu!”

“Aku ini laki-laki, kenapa kau secemas itu?”

“JUSTRU KARENA KAU LAKI-LAKI JADI TEMPAT ITU BERBAHAYA UNTUKMU!!”

Sungmin menutup kedua telinganya. “Isshh… kenapa berteriak? Aku tidak tuli. Lalu kau? Bagaimana kau bisa bekerja di sana? Yah, Cho Kyuhyun! Apa tertarik dengan sesama pria tidak cukup untukmu? Sampai-sampai mendatangi tempat itu dan bekerja di sana.”

“Bukan urusanmu. Lagipula aku butuh uang untuk hidup.”

“Masih banyak pekerjaan lain.”

“Aku bekerja di sana dengan orang-orang baik.”

“Yang tadi itu kau sebut baik? Aku hampir diperkosa gay dan kau masih bilang mereka adalah orang-orang baik? Komunitas seperti itu tidak baik untukmu. Mereka akan semakin menjerumuskanmu.”

“Apa maksudmu?” Kyuhyun bersuara rendah. Ia seperti menahan sesuatu agar tidak meledak.

“Mereka seperti binatang!”

Baik. Untuk tahap ini mungkin Sungmin sudah keterlaluan. Tapi sudah menjadi tabiatnya, ia selalu bicara terus terang. Bahkan terlalu jujur. Namun sedetik kemudian ia baru menyadarinya.

“K-Kyuhyun… maafkan aku… aku tak bermaksud—”

Kyuhyun mengangguk. “Aku mengerti.”

“Heuh? Mengerti apa?” Sikap Kyuhyun benar-benar membuat Sungmin tidak tenang.

“Ini tasmu.” Pemuda itu memberikan sebuah tas jinjing milik Sungmin. “Naik taksi saja. Bis terakhir sudah lewat.”

“Cho Kyuhyun…”

“Kau tahu? Kenyataan bahwa kau mengikutiku hingga kemari adalah hal yang paling membahagiakan. Aku tahu ini rumit. Mencintaimu bukan hal yang bisa dipikirkan secara sederhana. Dan untuk merasa bahagia pun tidak akan sederhana.”

“Kyuhyun… kau bicara apa?”

“Tapi malam ini aku bahagia. Terima kasih.”

Sungmin hanya bisa terpaku dengan lidah yang kelu. Sekali lagi, Kyuhyun berbalik meninggalkannya pergi.

“Jangan mencariku lagi, Sungmin.”

Part 2 End

 

Advertisements

4 thoughts on “Snowflakes #2

  1. orange girls says:

    sungmin kenapa gengsi dan keras kepala sih? klw suka bilang aja suka… ga sadar apa sama sikapnya itu… jd kesel sama sungmin tp setidaknya kyu seneng liat min yang mengikutinya hehehe…

  2. rey2506ovallea says:

    ck…ck… ming…ming…
    mulutmu kelinci mu eh salah harimau mu
    moga ming cpt jatuh cinta sm kyu
    kasian bgt liat kyu huhu… 😓

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s