Snowflakes #3

i want u

“Baik. Jika itu yang kau inginkan. Aku tak akan mencarimu lagi. Tidak akan. Pergilah kemanapun kau mau. Pergi dan jangan pernah kembali. Walaupun kau begitu merindukanku… atau… atau kembali mencintaiku seperti yang selalu kau katakan. Jangan kembali! Aku membencimu! AKU MASIH MEMBENCIMU kalau ingin tahu. Kau memang brengsek, Cho Kyuhyun. Lebih baik kau mati saja daripada hidup seperti ini!!”

Aku benar-benar mencintainya hingga tak sanggup membenci semua yang ia katakan. Aku tahu dia begitu kecewa. Hanya menjadi teman, Cho Kyuhyun. Benarkah kau tidak bisa memenuhi permintaannya yang sederhana itu? Kau bilang ingin terus mencintainya. Tak ingin membuatnya marah, tak ingin membuatnya sedih, akan melakukan segalanya, bahkan memberikan sisa hidup ini  hanya untuk membuatnya bahagia.

Tapi lihat sekarang? lagi-lagi kau menyakitinya.

“Yah, Cho Kyuhyun! Kau tuli?! AKU MEMBENCIMU!!!”

Tapi aku mencintaimu, Sungmin.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

“Sungmin. Sejak kapan kau jadi sangat peduli pada urusan orang?” Yunho menatap jengah temannya yang saat ini hanya mengaduk-aduk makan siang tanpa sedikitpun ada yang dimasukkan ke dalam mulut. Ia yakin bahkan pengemis saja sudah tak ingin memakan ‘onggokan’ menjijikan di atas piring itu.

Wae? Aku hanya simpati pada gadis tadi. Memang tidak boleh?” Sungmin masih menunjukkan ekspresi kesalnya.

“Tapi tak perlu harus memukul, kan? Kau lihat tadi… pemuda itu sampai gemetar.”

“Cih. Gemetar hanya karena kupukul, tapi masih punya nyali untuk menyakiti wanita.” Setelah mengaduk-aduk, kini makanan tadi dihujam garpu dengan keji.

Yunho mengusap wajahnya kasar, ia mulai frustasi dengan mood Sungmin yang meledak-ledak. “Tapi memangnya apa hubunganmu dengan mereka?”

“Tidak ada. Aku bahkan tidak tahu nama mereka.”

“Yah, apa kau sudah gila? Apa kuliah sudah membuatmu tersiksa seperti ini?”

“Tidak ada urusannya dengan kuliah. Aku tetap bodoh seperti biasa.”

“Lalu?”

“Sudah kukatakan tadi. Beberapa hari lalu aku melihat bocah laki-laki tadi mengejar-ngejar si wanita dan mengatakan cinta padanya. Dan baru berselang beberapa hari, si wanita sudah berteriak-teriak menangis karena akan ditinggal pergi. Jangankan wanita itu, aku juga kesal melihatnya.”

“Sejak kapan kau begitu sensistif dengan perasaan wanita?”

“Apa maksudmu?” Sungmin hampir menancapkan garpu tadi pada kedua mata Yunho.

“Aku akan maklum jika yang bersikap seperti ini adalah teman perempuan. Karena mereka pasti merasakan hal yang sama. Tapi kau…”

“Apa bedanya laki-laki dan perempuan? Masalahnya ada di bocah laki-laki itu. Laki-laki tidak seharusnya bersikap pengecut. Jika benar-benar mencintai, kenapa harus pergi hanya karena si wanita tidak bisa bersama dengannya? Memangnya dia tidak bisa menunggu? Memangnya dia akan mati dalam waktu dekat jika tidak bisa bersama saat ini? Issshh… membuat jengkel saja!”

“Sungmin.”

“Apa lagi?!”

“Apa kau baru saja dicampakkan?”

Tidak ada makanan yang masuk, namun Sungmin terbatuk hebat karena oksigen sepertinya salah masuk ke dalam sistem pencernaan. Tersedak dengan cara seperti itu benar-benar memalukan.

;;;;;

“Oh! Kau anak yang waktu itu, bukan? Kau temannya Kyuhyun.”

Sungmin merasakan jantungnya hampir berpindah tempat. Orang ini sudah menyapa terlalu ‘ramah’ hingga tanpa sadar membuatnya terkejut setengah mati.

“Benar. Kau memang teman Kyuhyun. Ada apa kemari? Tempat ini berbahaya untukmu. Apa kau mencari Kyuhyun?” Sekali lagi dengan suara yang (terlalu) riang, pemuda tampan di hadapannya terus saja membuat telinganya berdengung.

“Ah, ne. Apa… dia belum datang?” Sungmin menundukkan kepala sebentar sebagai ungkapan rasa hormat.

“Hey, tak perlu seperti itu.” Pria tadi merasa salah tingkah dengan sikap Sungmin. “Kyuhyun belum datang. Ini masih sore, anak itu biasa datang sekitar sepuluh atau lima menit sebelum bar ini dibuka. Kalau mau, kau bisa menunggunya di ruanganku.”

Sungmin tersenyum senang mendengar tawaran tadi, “Bolehkah?”

“Tentu saja. Aku sudah menganggap Kyuhyun seperti adik sendiri. Jadi temannya akan kuanggap seperti itu juga. Ah! Kau boleh memanggilku Heechul, dengan tambahan ‘hyung’ tentu saja. karena aku yakin kau lebih muda dariku. Siapa namamu?”

“Sungmin. Namaku Lee Sungmin. Kau… benar-benar baik, Heechul… hyung.

“Ayo ikut aku!”

………………….

“Duduklah. Kau ingin minum? Apa kau menyukai anggur? Aku masih menyimpan yang terbaik.” Heechul terlihat menyampirkan mantel yang ia pakai di sebuah lemari kayu besar tepat di sudut ruangan. Ruangan itu tidak semengerikan keadaan bar. Tempat yang cukup terang dan nyaman. Tanpa lampu gemerlap dengan sentuhan cahaya polkadot khas club malam.

A-aniyo. Aku baik-baik saja dengan air putih. Terima kasih.” Sungmin menolak halus.

“Kau tidak pernah minum wine? Sayang sekali. Ini minuman terbaik di dunia.” Heechul menampilkan raut kecewa yang dibuat-buat.

“Bukan seperti itu. Aku juga sependapat bahwa anggur adalah minuman terbaik. Aku bahkan sempat mempelajarinya. Tapi… aku bukan peminum yang baik. Kau akan kerepotan nanti. Jadi air putih saja sudah cukup.”

“Baiklah. Aku tak akan memaksa.” Pemuda itu akhirnya hanya mengisi gelas dengan es dan air putih untuk Sungmin dan menuang anggur untuk dirinya sendiri. “Kyuhyun banyak bercerita tentang seseorang yang membuatnya selalu bahagia dan menderita dalam waktu bersamaan. Dan semenjak kejadian yang menimpamu malam itu, aku penasaran apakah orang yang dimaksud itu kau?”

Sungmin berpikir laki-laki ini benar-benar tidak punya rem di mulutnya. Bagaimana bisa dia bertanya hal seperti itu pada orang yang baru saja dikenal? “Kurasa… kau salah paham. Kami tidak seperti itu.”

“Benarkah? Hmm… tapi mengapa aku begitu yakin orang yang selalu Kyuhyun bicarakan itu adalah kau Lee Sungmin?”

Penolakannya hanya akan membuat Heechul meyakini semua seratus persen. Jadi Sungmin memilih diam sambil meneguk air dingin. Sedikit membantu menenangkan laju detak jantungnya.

Sunyi yang cukup lama terpecah saat seseorang masuk ke dalam ruangan dimana mereka berada. Sungmin menoleh dan mendapati satu lagi pria tampan. Kali ini benar-benar… tampan. Postur tubuh tinggi yang proporsional, wajah tegas dengan hidung mancung dan mata setajam elang, serta lengan yang pasti kokoh di balik setelan mahal. Sungmin berpikir kenapa mudah sekali menemukan orang-orang dengan rupa seperti tokoh-tokoh idaman wanita di tempat ini?

“Halo, sayang. Kau datang? Tidak ada meeting lagi malam ini?”

Sungmin membelalakan mata melihat bagaimana Heechul menyambut pria tadi. Bukan… bukan kalimat manis yang membuatnya hampir menjatuhkan gelas dalam genggaman, tapi lebih kepada cara mereka ‘bertegur-sapa’. Keduanya menempelkan bibir terhadap satu sama lain.

“Hmm… kau tampan seperti biasa.” Terlihat seperti hal yang lumrah. Saat ini Heechul bahkan mengusap bekas ciuman mereka di bibir pria tadi dengan sapuan manis ibu jarinya.

Sungmin merasa perutnya seperti diaduk-aduk.

“Apa kau sedang ada tamu?” Suara bass mengudara. Sungmin bisa merasakan tatapan tajam menghampirinya.

“Ah… Aku sampai lupa mengenalkanmu. Dia Lee Sungmin, teman dekat Kyuhyun. Sungmin-ah… perkenalkan, ini Siwon. Kekasihku.” Heechul menambahkan kedipan sebelah matanya saat menyebut kata ‘kekasih’. Sungmin sudah hampir gila saat ini.

Sungmin membungkuk memberi hormat. Yang dibalas dengan anggukan dan senyum menawan berlesung pipi dalam.

“Dia lucu, bukan? Siapa sangka jika anak itu adalah orang yang sering membuat Kyuhyun kita uring-uringan.” Heechul berbisik. Hingga Sungmin hanya bisa melihat ekspresi tawa kecil dari pasangan itu tanpa tahu apa yang tengah dibicarakan.

“Aku membawakanmu sesuatu. Ingin lihat?” Siwon kembali asik menekuni wajah Heechul. Pria itu seakan memperlakukan pria lain bagai kekasih wanita dalam drama-drama percintaan.

“Apa lagi yang kau bawa? Rumahku sudah hampir penuh dengan hadiahmu.”

“Kali ini berbeda.”

“Kau juga mengatakan itu sebelumnya.”

“Jadi mau lihat atau tidak?”

Heechul tertawa, “Kau yang minta, mana bisa aku menolaknya.” Kemudian pria itu mengalihkan pandangannya kepada Sungmin. “Sungmin-ah, tidak apa kan jika kutinggal? Tak perlu sungkan, ambil apa saja di dalam kulkas. Kurasa Kyuhyun akan datang sebentar lagi.”

Sungmin hanya mengangguk. Masih terkejut dengan pasangan tadi.

;;;;;

“Lee Sungmin. Apa yang kau lakukan di sini?”

Kyuhyun baru saja akan membersihkan ruangan Heechul ketika dirinya mendapati sosok yang sangat dikenalinya.

Sungmin merasa gugup. Semua kalimat permintaan maaf yang sudah ia susun sebelum datang ke tempat ini seketika lenyap tanpa bekas. Wajah pias Kyuhyun membuatnya bisu. Sejenak rasa khawatir menggerayangi isi kepalanya. ‘Apa Kyuhyun makan dengan benar? Sebenarnya seperti apa hidupnya saat ini?’ pertanyaan-pertanyaan itu terus saja hadir.

“Sungmin…”

“Oh? Oh! Aku… aku mencarimu. Tentu saja.” Sungmin merasakan dadanya mencelos. Sepertinya ia harus segera membuang segala rasa malu. Menjadi orang plin-plan memang tidak baik untuk kesehatan jantung.

“Tapi… waktu itu kau bilang—“

A-aniya! Tidak seperti itu. Waktu itu aku hanya kesal karena kau meninggalkanku begitu saja. Aku… aku bicara seperti itu hanya karena ingin kau berputar dan membatalkan niat untuk meninggalkanku pulang sendirian.” Sungmin menunduk, “Tapi kau terus saja pergi… aku merasa dicampakkan.”

“Ada apa denganmu? Kau mabuk?” Kyuhyun menduga secara logika. Sedikit menarik kesimpulan karena menemukan segelas wine di atas meja.

Sungmin menyadari bahwa perkataannya sungguh kacau. Ia segera menggeleng dan menatap Kyuhyun. “Aku minta maaf, Kyuhyun. Sungguh. Aku tidak bermaksud menyebut orang-orang seperti kalian itu… binatang. Ini semua salahku, salahkan mulutku yang tidak bisa menjaga perkataan dengan baik. Eoh? Kau… mau memaafkanku, kan?” Sekarang wajahnya terlihat memohon.

Kyuhyun menghela napas. Ia mendudukan diri di sofa, menggulung serbet dalam genggaman. “Apa tiga tahun benar-benar tidak bisa merubah sikapmu yang seperti itu, Sungmin?”

“Memangnya aku seperti apa?”

Kyuhyun menatap Sungmin dengan tajam. “Kau… selalu saja seenaknya. Aku harap hanya aku yang kau perlakukan seperti ini.”

“Bicara apa kau ini? Kau mengenalku dengan baik. Jangan seperti ini. Membuat orang semakin merasa bersalah—“

“Jadi kau merasa bahwa perbuatanmu ini benar?”

“Apa yang salah? Aku hanya tidak ingin berpura-pura di hadapanmu. Kau sahabatku. Tidak bisakah kita seperti dulu?”

“Sungmin. Aku mencintaimu bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai manusia yang memang memiliki perasaan khusus kepada manusia lain. Kenapa kau tega menyiksaku seperti ini?” Kedua onyx hitam Kyuhyun terlihat berembun.

“…”

“Aku mencoba melawan semuanya dengan jauh darimu. Kau berhak hidup normal dengan semua orang di luar sana. Bukan dengan teman yang bahkan ingin selalu memperlakukanmu sebagai kekasih setiap kali bersama.”

“Aku sudah katakan bahwa semua itu tak lagi menggangguku. Kau boleh memperlakukan aku seperti apa yang kau mau. Dan… kita masih bisa berteman. Setidaknya sampai kau benar-benar tak bisa melakukannya.” Sungmin diam sejenak, kemudian kembali berseru, “Tapi aku pasti bisa membantumu. Kau tidak akan tenggelam dalam kehidupan yang seperti ini. Kita bisa bersenang-senang. Kita bisa mencari teman kencan wanita bersama. Pasti menyenangkan jika—“

Praangg!

Kedua mata Sungmin membulat. Lengan Kyuhyun yang tadinya hanya memainkan sebuah gelas kaca, kini sudah berlumuran darah akibat pecahannya.

“Apa yang kau inginkan sebenarnya?” Saat ini air mata tak dapat lagi dibendung. Kyuhyun membiarkannya mengalir sama seperti cairan berbau karat yang terus saja keluar dari telapak tangannya.

Sungmin merasakan lidahnya kelu.

“Jawab aku Sungmin!!!”

Kyuhyun mulai hilang kendali. Ia melemparkan gelas tadi tak jauh dari tempat Sungmin berdiri. Entah pemuda itu melakukannya dengan sengaja atau dia memang ‘meleset’.

“Kyuhyun!” Heechul datang dan terkejut saat melihat sudat ruangan yang berantakan akibat pecahan kaca. Semakin cemas saat melihat keadaan manusia yang ada di dalamnya. Yang satu hanya diam kaku dengan wajah pias—sambil berusaha melindungi kepalanya, dan yang lain seperti hampir tak waras dengan tangan penuh darah.

Dengan cekatan Siwon mengambil sesuatu dari dalam kotak obat untuk menghentikan pendarahan Kyuhyun. Sementara Heechul menghampiri Sungmin yang kaku dengan wajah ketakutan.

“Aku tak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Tapi sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat. Kau bisa terluka, Sungmin. Pergilah. Serahkan Kyuhyun pada kami. Dia akan baik-baik saja. Aku janji.” Hanya kalimat itu yang bisa Heechul ucapkan untuk membuat Sungmin meninggalkan tempat mereka saat ini.

_SnowFlakesTheSeries_

Suatu kebetulan yang aneh ketika Sungmin bertemu dengan kekasih Heechul di perusahaan ayahnya. Saat ini mereka tengah berbincang di sebuah kafetaria.

“Apa kau seorang pengusaha seperti ayah?” Sungmin memulai perbincangan dengan langsung mengungkapkan rasa penasarannya di awal.

Siwon tersenyum. “Bisa dikatakan seperti itu. Tapi tidak seperti ayahmu. Aku berkeliling menaruh saham di banyak tempat. Dan sepertinya sebagian uangku dikelola oleh perusahaan keluargamu, Sungmin.”

Suasana canggung masih sedikit membuat mereka kesulitan mencari topik pembicaraan yang bagus.

“Apa aku boleh bertanya?” Akhirnya Siwon yang memulai.

Sungmin mengangguk. “Tentu. Soal apa?”

“Kejadian malam kemarin, antara kau dan Kyuhyuh. Apa hubungan kalian seburuk itu?” Siwon benar-benar tidak ingin basa-basi, tapi tetap tidak kurang ajar dalam melempar pertanyaan.

Sungmin menggigit bibir bawahnya. Terlihat sekali gurat rasa bersalah masih melingkupinya. “Aku selalu ingin yang terbaik bagi Kyuhyun. Tapi semua yang kulakukan selalu salah. Selalu saja menyakitinya.”

Siwon mendengarkan dengan seksama. Pasalnya Kyuhyun bukan tipikal orang yang akan melempar benda kepada orang lain. Dan malam itu sungguh tidak seperti Cho Kyuhyun. Setelah kepergian Sungmin yang diantar Heechul, pemuda itu menangis sejadinya. Hingga dirinya pun tidak bisa membedakan apakah tangannya yang sakit, atau justru hatinya.

“Aku ingin kami seperti dulu. Kyuhyun bukan seorang teman yang bisa kau dapatkan dengan mudah. Dia berbeda dari semua teman-temanku di sekolah yang memang hanya dekat padaku karena keadaan keluarga kami. Untuk pertama kalinya aku merasa melekat pada seseorang. Aku selalu membutuhkan Kyuhyun dimanapun dan kapanpun. Tapi dia tak pernah mengeluh.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Kyuhyun menyatakan cinta padaku. Apa yang bisa kau katakan saat teman priamu mengatakan cinta, sedang kau sendiri adalah pria.” Sungmin sudah terlalu frustasi hingga menanggalkan semua rasa malunya menceritakan hal itu.

“…”

“Siwon-ssi… maaf. Aku tidak bermaksud—“

Siwon menggeleng, “Tak apa. Lanjutkan. Aku masih mendengarkan.”

“Dan… aku mulai menyebutnya menjijikan. Kami berpisah setelah itu.”

Siwon kembali tersenyum. “Heechul adalah manusia paling jujur yang pernah kutemui. Perkataannya tak pernah enak didengar kalau kau mau tahu. Tapi… sepertinya aku menemukan satu lagi  yang seperti dia. Bedanya, Heechul orang yang sangat optimis, dan apa yang dikatakannya selalu menjadi keyakinan yang tidak bisa dibantah. Tapi kau… justru tidak pernah yakin dengan apa yang kau katakan.”

“Begitukah yang kau lihat?”

Siwon tersenyum, “Jangan terlalu percaya padaku. Aku hanya menebak. Bukan berarti pandai membaca sifat seseorang. Yang saat ini bisa aku katakan padamu adalah… pikirkan apa yang kau inginkan sebenarnya. Utarakan dengan baik. Dengan begitu Kyuhyun akan mengerti. Kurasa anak itu juga sangat bingung dengan sikapmu.”

;;;;

“Kyuhyun tunggu! Ayo bicara. Jangan seperti ini terus.” Sungmin sudah lelah mengikuti langkah kaki Kyuhyun. Napasnya memburu karena udara musim panas di malam hari yang memang tak pernah baik untuk berolah raga, sekalipun itu hanya jalan cepat.

“Aku tidak ingin berakhir seperti kemarin. Jangan sampai aku melukaimu, Sungmin. Pulanglah.”

Kyuhyun sudah akan kembali meneruskan langkah saat sebuah kalimat menghentikannya.

“Tanyakan lagi.”

“…”

“Kau belum lupa bukan? Tanyakan lagi pertanyaan itu padaku. Kali ini aku akan menjawabnya dengan benar.”

Kyuhyun masih diam. Ia bahkan tak yakin apa sudah siap mendengarkan ‘jawaban’ yang Sungmin maksudkan.

“Kyuhyun-ah…”

“Apa—sebenarnya apa yang kau inginkan, Sungmin?” Pertanyaan itu keluar dengan nada parau.

Sungmin melangkah mendekati dimana Kyuhyun berdiri. Lengannya terulur mencoba meraih mantel lusuh yang dipakai pemuda di dekatnya itu. “Lebih keras. Aku belum mendengarnya.”

“Apa. Yang. Kau. Inginkan. Sungmin?”

Cengkeraman itu kini sudah menguat, dan Sungmin memastikan seseorang di sana sudah berada dalam genggamannya.

“Aku… menginginkanmu, Kyuhyun.”

Part 3 End

Advertisements

5 thoughts on “Snowflakes #3

  1. hyunniekim137 says:

    Mian baru review.. apa ini repost y? sepertinya pernah baca tp lupa akhirnya gimana? Hehe..
    sungmin plin plan.. sebenarnya suka kyu tp malu buat jujur.. next plisss.. ^^

  2. orange girls says:

    akhirnya sungmin mengatakan apa yang ia inginkan… lega dengarnya… semoga kyumin cepet bersatu hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s