Snowflakes #4

i love u

_SnowflakesTheSeries_

“Kyuhyun-ah…”

“Hm?”

“Kembalilah ke kampus. Kau tidak sayang dengan nilai-nilaimu yang memukau itu? Aku saja sampai harus membuat Yunho sakit kepala untuk bisa lulus dalam setiap mata kuliah.” Sungmin sibuk memasukkan barang-barang Kyuhyun ke dalam sebuah tas jinjing. Seragam kerjanya, bekal makan, botol air minum, dan sedikit camilan—walaupun kesemuanya sudah kosong.

“Biar aku saja. Kau bisa duduk sambil menunggu.” Kyuhyun mengambil alih pekerjaan yang sedang Sungmin lakukan.

“Tapi Kyuhyun-ah, kenapa kau membawa bekal? Sampai botol air minum. Apa Heechul hyung tidak menyediakan untukmu di sini? Kupikir kalian sangat dekat.” Saat Kyuhyun sibuk dengan membereskan tas jinjing, pemuda itu justru beralih pada alat-alat kebersihan yang biasa Kyuhyun gunakan saat bekerja.

“Ini kugunakan untuk membawa bekal saat makan siang.” Kyuhyun menyadari apa yang tengah Sungmin lakukan saat ini. “Sungmin. Duduk saja.” ujarnya sedikit memohon.

“Aku tidak akan merusaknya.” Sungmin hanya menyahut tanpa menoleh. “Makan siang? Memang kau makan siang di mana? Bukankah bekerja di sini dimulai saat hari gelap.”

Kyuhyun menghela napas pelan. Sungmin tak akan berhenti bertanya jika ia tak menjelaskannya. Lagipula pikirnya sudah terlanjur. Mulai saat ini Sungmin akan terus berada di sekelilingnya. Walaupun akan sedikit merepotkan, tapi Kyuhyun menyukainya. “Siang hari aku menjaga kasir di sebuah butik.” Jawabnya singkat.

Sungmin menghentikan kegiatan dan menatap pria yang tengah bersamanya dengan tatapan horor. “Berapa pekerjaan yang kau punya sebenarnya? Itu melelahkan!” suaranya cukup nyaring di dalam ruangan peristirahatan karyawan yang kecil. Beruntung hanya tinggal mereka berdua di sana. Hingga Kyuhyun tak harus meminta maaf kepada setiap rekan kerja yang pasti merasa terganggu.

“Aku butuh banyak uang untuk menghidupi diri.” Kyuhyun telah selesai dengan barang-barangnya. Kemudian beranjak mengambil alih membereskan alat kebersihan dari tangan Sungmin. “Jadi itu alasanku kenapa tidak bisa kembali kuliah.”

“Bagus! Kau sekarang membuatku merasa sangat tidak berguna.” Sungmin merengut dan menatap sinis pada lelaki yang lebih tinggi darinya itu.

“Apa aku salah bicara?” Kyuhyun menatap Sungmin dengan cemas.

“Ya. Apa kau tidak sadar? Kau baru saja menceritakan kehidupanmu yang menyedihkan, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Sungmin membentak.

“Kalau begitu maafkan aku. Jangan marah.” Kyuhyun meraih lengan Sungmin. Seperti bocah yang tengah merajuk pada ibunya. “Sungmin-ah… jangan marah. Aku tidak akan bercerita lagi kalau begitu.”

Sungmin memejamkan mata sejenak sambil menghela napas keras. “Aku tidak marah padamu. Aku marah pada diriku sendiri. Kau tahu? Aku akan segera mengembalikanmu ke universitas dengan cara apapun. Jangan tersinggung dulu. Aku tidak bilang akan membiayai kuliahmu. Kau mahasiswa yang pintar, dan kampus menyediakan banyak beasiswa untuk orang-orang sepertimu. Jadi yang sekarang kau lakukan adalah segera lepaskan pekerjaan melelahkan ini, siapakan resume untuk aplikasi ulang kegiatan perkuliahan, dan sisanya aku akan membantumu mengumpulkan semua beasiswa yang paling mungkin kau ikuti. Selesai. Dan aku tidak mau kau menolaknya.”

Kyuhyun hanya tersenyum mendengar celoteh panjang Sungmin. Mungkin bagi sebagian orang, Sungmin termasuk orang yang berisik. Tapi untuknya itu hal yang sangat mengagumkan. Ya. Mengagumkan. Bagaimana tidak? Kalimat panjang tadi itu ia ucapkan dengan satu tarikan napas. “Kau mau aku juga keluar dari pekerjaan di bar ini?”

“Hmm… itu… lebih baik. Kurasa.” Sungmin ragu-ragu untuk berkata. Pasalnya ia sudah berjanji pada diri sendiri akan menjaga lidahnya lebih ketat agar tak ada lagi kesalahpahaman.

“Walaupun Heechul hyung akan sedih, tapi aku akan coba bicara dengannya.” Ucap Kyuhyun tulus.

Mau tak mau Sungmin jadi ikut tersenyum melihat kesungguhan Kyuhyun. “Terserah padamu saja. Mungkin tetap bekerja di sini sambil kuliah juga tidak buruk, setidaknya kau punya tambahan untuk keperluan sehari-hari.” Tapi… tak beberapa lama ia menyadari genggaman tangan Kyuhyun padanya. Sungmin masih begitu… risih. “Ehm… Kyuhyun-ah, kau sudah selesai? Ayo pulang.” Ujarnya sambil melirik takut pada kedua lengan mereka yang bertaut. Yang sebetulnya hanya Kyuhyun yang menautkan.

Kyuhyun tak menyadarinya—atau mungkin belum. Pria itu hanya mengangguk untuk kemudian mengambil tas Sungmin dan miliknya.

Tak lama pintu ruangan terbuka. Menampilkan dua sosok menawan yang tengah bicara sambil tertawa kecil. “Oh. Sungmin-ah. Kau ke sini lagi? Yaaahhh~ aku jadi tak sanksi Kyuhyun melakukan pekerjaan hari ini dengan sangat baik. Ternyata dia memiliki seseorang yang menunggunya pulang kerja.” Heechul berbinar saat mengatakan itu. “Siwon-ah… bukankah mereka sangat manis?”

Yang ditanya hanya tersenyum lembut. Wibawanya tak pernah putus walaupun matanya masih menyaratkan kebahagiaan yang meluap-luap karena keberadaan sang kekasih di sisinya.

“Ah. Karena aku juga sedang senang hari ini, kau akan kuberikan uang tambahan. Jadi kalian pulanglah dengan taksi. Aku berterima kasih pada Sungmin karena berkatnya Kyuhyun tak harus tidur di tempat ini. Aku khawatir padanya. Padahal siang hari ia masih bekerja di tempat lain.” Heechul masih terus saja mengoceh.

“Aku baik-baik saja, hyung.” Kyuhyun mengernyit mendengar penuturan bosnya yang tidak jauh berbeda dengan Sungmin. Dia juga mengucapkan kalimat tadi hanya dengan satu tarikan napas.

Heechul baru saja ingin mengeluarkan lembaran uang dari dalam dompet sebelum akhirnya Siwon mencegah. Pria tampan itu justru mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas. “Ini. Pakai ini saja.” Siwon memberikan sebuah kartus buypass yang terlihat mahal dengan warna keemasan. “Kalian bisa menggunakan ini dimana saja. Walau memang sudah agak terlambat untuk makan malam, tapi cobalah untuk membeli sesuatu yang bisa mengganjal perut kalian.”

“Uwaaaahh… Siwon-ah, kau tidak pernah memberikan benda seperti itu padaku.” Heechul bereaksi berlebihan. “Apa benar bisa dipakai di mana saja?”

Lagi-lagi Siwon hanya tersenyum menanggapi sang kekasih.

“Tapi hyungnim—

“Jangan menolak. Kau sangat tahu aku tidak pernah suka seseorang menolak pemberianku.” Siwon memotong sebelum Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya.

Pada akhirnya Kyuhyun menerima pemberian Siwon. Untuk kemudian membungkuk berterima kasih.

Heechul juga ikut tersenyum. “Aku senang kalian sudah baik-baik saja. Jangan bertengkar lagi. Berjanjilah padaku bahwa kemarahanmu yang waktu hanya untuk pertama dan terakhir kalinya kau tunjukkan padaku.” Pemuda itu beralih menatap Sungmin lembut, “Sungmin-ah… percayalah, aku sangat sedih melihat Kyuhyun yang seperti itu.” Ujarnya dengan wajah sedih.

Hyung—

“Aku janji padamu tidak akan melakukannya lagi. Kami akan baik-baik saja setelah ini. Kau bisa percaya padaku.” Sungmin berujar mantap.

Tapi di sisi lain, seseorang masih menangkap keraguan di dalam berlian foxy indahnya.

“Baiklah. Kami pulang. Sampai jumpa besok, Kyuhyun. Dan sampai jumpa di lain tempat, Sungmin. Jangan terlalu sering datang ke tempat ini. Bertemulah dengan Kyuhyun di tempat yang lebih baik.” Setelah mengucapkan itu, kedua sejoli kasmaran tadi langsung menghilang di balik pintu.

Namun lamat-lamat masih terdengar Heechul mengoceh.

“Kau benar-benar, Siwon. Benda sehebat itu tidak pernah kau berikan padaku.”

“Kau memang tidak membutuhkannya, sayang.”

“Tapi aku bisa membeli apapun dan pergi kemanapun dengan benda itu.”

“Kau hanya perlu meneleponku jika ingin membeli apapun dan pergi kemanapun.”

***

Pada akhirnya Sungmin dan Kyuhyun hanya menemukan sebuah toko serba ada yang buka dua puluh empat jam di sepanjang perjalanan pulang. Karena keduanya memang sangat lapar, akhirnya masing-masing hanya menyantap satu mangkuk mie instan dan sekaleng soda.

“Mereka berdua sangat baik padamu.” Sungmin berujar di tengah usahanya meneguk soda dingin yang mengalir dalam kerongkongan.

“Juga padamu. Tapi mereka memang orang baik.”

“Aku penasaran dengan keluarga Heechul hyung dan kekasihnya itu.”

“Kau bilang apa?” Kyuhyun tidak mendengar karena terlalu berkonsentrasi pada makanannya yang masih terasa panas.

‘Aku sangat ingin tahu bagaimana tanggapan keluarganya ketika mengetahui anak-anak mereka menjalani kehidupan seperti itu.’

Sungmin menggeleng, “Ani-dda, lanjutkan makanmu. Pelan-pelan.”

Sungmin terus menatap Kyuhyun yang tengah makan dengan lahap. Sampai pada tahap ini, ia masih bisa tenang karena tak harus kehilangan Kyuhyun lagi. Terima kasih kepada Choi Siwon yang membuatnya semalaman memikirkan apa yang sebenarnya dia inginkan terhadap Kyuhyun. Dan sebuah ketulusan akhirnya mengalir dari mulutnya. Tidak… bukan hanya sekedar ketulusan… tapi memang benar-benar yang ia inginkan. Sungmin menginginkan Kyuhyun untuk terus berada di sampingnya.

Tapi untuk apa?

Sungmin rela untuk melakukan apapun agar Kyuhyun tidak menanyakan hal itu dalam waktu dekat ini. sungmin butuh menyusun suatu keyakinan. Yang ingin dia lakukan adalah, Kyuhyun tak lagi membencinya, berusaha menjauh darinya, dan seperti saat ini… berdua.

“Terima kasih.”

“Hah?”

“Aku bilang… terima kasih, Cho Kyuhyun.” Sungmin tersenyum menatap Kyuhyun yang kini wajahnya sedikit berminyak akibat berkeringat dan uap panas dari makanan.

“Untuk apa?” Kyuhyun masih tak mengerti.

“Untuk tidak membenciku. Untuk selalu mencintaiku sampai saat ini.”

_SnowFlakesTheSeries_

“Aaaahhh!! Aku terlambat lagi. Yah! Kenapa kau tidak membangunkanku?!” Sungmin berteriak pada adik perempuannya. Sambil tentu saja mondar-mandir berjalan dan menyiapkan perlengkapan kuliah. “Dan… kenapa kau belum berganti pakaian juga? Memang tidak sekolah?”

Oppa, ini hari sabtu. Semua orang libur. Dan kau membangunkanku dari mimpi berkencan dengan dengan Hyun Bin.”

Sungmin berhenti, “Apa? Ini hari sabtu?”

“Ya. Ini hari sabtu. Dan kau bisa kembali melanjutkan tidurmu yang seperti orang mati itu.”

Sungmin meringis mendengar perkataan adiknya.

“Haaaahh… sebenarnya apa yang kau lakukan beberapa hari ini di rumah Kyuhyun oppa? Sampai-sampai tidak tahu hari.” Sunghee mendengus kesal. “Kau bahkan tidak mengizinkanku untuk ikut menemuinya.”

“Oh?” Sungmin tak tahu harus menanggapi apa rajukan sang adik. Bukannya tidak ingin mengajak Sunghee untuk menemui Kyuhyun. Hanya saja… dia dan Kyuhyun kini tidak seperti waktu di sekolah menengah atas. Hubungan mereka bukan lagi sekedar sahabat… tapi lebih rumit.

“Aku juga merindukannya. Eomma juga bilang ingin bertemu dengan Kyuhyun oppa.” Sunghee masih setia dengan rajukannya. Wajah-baru-bangun-tidur lebih membuat Sungmin terganggu selain suara adiknya yang sangat nyaring itu.

“Nanti. Nanti akan kuajak dia ke sini. Tapi saat ini belum bisa. Aku dan Kyuhyun sedang mengerjakan tugas kuliah yang butuh konsentrasi tingkat tinggi. Jadi untuk saat ini belum bisa diganggu.” Sungmin terkejut saat mendapati dirinya mengucap kebohongan dengan begitu lancar.

“Janji? Aku akan terus menagihnya. Kau harus membawa Kyuhyun oppa ke rumah. Aku ingin diajarkan lagi bermain harmonika olehnya.” Dengan wajah yang masih setengah mengantuk, gadis itu tersenyum membayangkan bagaimana Kyuhyun pernah memainkan sebuah lagu dengan alat musik tersebut.

“Sejak kapan kau suka harmonika? Lagipula memang kau punya benda itu?” Sungmin mendadak sinis.

Sunghee mengerucutkan bibirnya, “Aku akan membelinya. Aku akan beli harmonika siang ini. Puas?!”

“Sunghee-ah… jangan mengganggu kakakmu terus. Ayo cepat cuci muka dan sarapan. Kau juga Sungmin. Aku meletakkan sabun herbal di kamar mandimu, cuci muka dengan itu agar kau bisa segar. Begadang mengerjakan tugas kuliah bisa membuat kulitmu cepat mengeriput.”

Sungmin mengangguk, “Gomawo, eomma.

Setelah kedua wanita beda generasi tadi pergi dari kamarnya, Sungmin cepat-cepat mengganti baju dengan yang lebih santai. Ia sudah sering seperti ini, terbangun di sabtu pagi dan berteriak seolah betul-betul sudah terlambat untuk pergi ke kampus. Jadi sudah tidak lagi merasa malu atau apapun walau adiknya pasti akan selalu mencemooh. Sungmin mengacak-acak tas untuk menemukan ponsel. Setelah dapat, sebuah nomer yang tersimpan baik berada dalam modus siap ‘panggil’.

Namun… ia berubah pikiran. Ia mengetik sebuah pesan.

‘Kyuhyun, apa kau sudah bangun?’

Butuh waktu setara dengan menyelesaikan acara cuci muka dan menggosok gigi sebelum akhirnya ponsel itu bergetar. Menunjukkan sebuah balasan dari pesan yang ia kirim sebelumnya.

‘Aku baru saja bangun. Ada apa? Apa kau ada masalah?’

Sungmin mengindahkan rasa seperti sudah gila saat bisa merasakan kecemasan Kyuhyun hanya dari kalimat dalam pesan singkat. Jemarinya dengan cepat mengetikkan balasan.

‘Tidak. Hanya ingin tahu saja. Apa rencanamu hari ini?’

Sungmin merebahkan dirinya. Menunggu lagi pesannya dibalas.

‘Hanya ingin membersihkan rumah. Nanti malam aku akan ke bar seperti biasa. Heechul hyung selalu kerepotan jika akhir pekan seperti ini.’

Sungmin merengut membaca balasan dari Kyuhyun. “Ke bar lagi? Yah Cho Kyuhyun! Hari ini ada pembukaan film mandarin yang sangat aku tunggu. Aku betul-betul tak ingin nonton sendirian!!” ia berteriak yang tentu saja tidak akan pernah didengar oleh seseorang di seberang sana. Kemudian terkejut sendiri karena mengingat tayangan film baru, sedangkan beberapa saat yang lalu ia lupa jika hari ini hari sabtu.

“Sungmin, jangan berteriak seperti itu!” suara sang ibu samar terdengar dari lantai bawah.

‘Kalau begitu aku akan membantumu bersih-bersih.’

Setelah bergulat dengan rasa kesal, akhirnya Sungmin memutuskan untuk pergi ke rumah Kyuhyun pagi ini. Setidaknya sampai pemuda itu berangkat kerja nanti malam. Dan pesan singkat terakhir hari itu dari Kyuhyun adalah alamat dimana dirinya sekarang tinggal.

***

“Kuletakkan di sini saja ya?” Sungmin menggantung mantel-mantel besar dengan hanger yang baru saja ia beli di toko dekat rumah susun dimana Kyuhyun tinggal.

Kyuhyun mengangguk, “Hm. Terlihat lebih baik.” Ia tersenyum. “Sungmin yang kukenal belum benar-benar berubah. Tetap pandai menata.”

“Aku memang yang terbaik.” Ujar Sungmin masih sambil berkonsentrasi memindahkan dan menggeser beberapa barang. “Kalau begini lebih enak. Kamarmu jadi terlihat lebih luas.”

“Kau sudah lapar? Apa mau kubelikan sesuatu?” Kyuhyun menatap Sungmin cemas karena sedikit terlihat lelah. Bersih-bersih rumah kali ini bukan hanya sekedar menyapu dan mengelap debu yang terlihat. Kedatangan Sungmin benar-benar mengubah dekorasi kamar Kyuhyun secara total. Ia tak bisa memungkiri bahwa kini ruangan tempat tinggalnya sangat jauh lebih baik.

Sungmin menggeleng, “Tidak. Aku sudah cukup dengan kue-kue itu. Nanti saja kita makan di luar sebelum kau berangkat ke bar.

“Tapi kau terlihat lelah.” Kyuhyun masih belum bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.

Sungmin berkacak pinggang dan memasang raut wajah seperti sedang kesal, “Tentu saja aku lelah, Cho Kyuhyun. Lihat saja sekarang kamarmu. Ini baru yang namanya tempat tinggal. Yang sebelumnya itu tidak lebih buruk dari rumah kardus di daerah pinggiran.

Sekali lagi Kyuhyun memandang berkeliling kamarnya. “Hm. Maaf sudah merepotkanmu. Kau yang terbaik.”

Pemuda itu tersenyum hingga kedua matanya terlihat bagai lengkungan bulan sabit. Dan Kyuhyun menganggap itu sangat indah. “Lain waktu kita bisa memasang wallpaper-nya. Tadi saat perjalanan ke sini, aku melihat toko yang menjualnya. Pilihan warnanya sangat bagus. Bagaimana?”

Alih-alih menjawab, Kyuhyun justru menarik lengan Sungmin dan membawa pemuda itu untuk duduk di atas ranjangnya yang tidak terlalu besar—yang pastinya juga sudah sangat rapi. “Sudah cukup untuk hari ini. Istirahatlah, aku akan membereskan sisanya.”

Sungmin tersenyum mengangguk. “Itu. Kau harus membuang sampah itu ke luar.”

Ketika Kyuhyun kembali ke kamarnya setelah membuang bungkusan sampah dan beberapa barang yang tidak lagi terpakai, ia menemukan Sungmin sudah terbaring di ranjangnya dan memejamkan mata. Dengan melihat gerakan dadanya yang naik-turun perlahan, Kyuhyun tahu bahwa Sungmin sudah tertidur.

Tak ada yang bisa Kyuhyun lakukan selain duduk di tepian ranjang dan menatap Sungmin. Ia begitu menyukai dengkuran halus yang hampir tidak terdengar dari napas Sungmin. Kyuhyun tahu ini sangat tidak sopan. Hanya saja ia tak mampu lagi untuk melawan segala bentuk keindahan dari seorang Lee Sungmin. Sahabatnya, pria yang seharusnya sudah hidup apa adanya jika ia tak ada. Sungmin yang sederhana dengan beberapa kebodohan manisnya. Sungmin yang begitu baik hingga masih saja mengizinkan hatinya untuk tertarik.

Kyuhyun menghitung, sudah berapa banyak dosa yang ia perbuat hingga akhirnya membuat Sungmin seperti ini. Kalimat ‘aku-menginginkanmu’ saat itu begitu indah memang. Hanya saja hatinya sakit saat mendengar langsung dari mulut Sungmin. Lelaki ini mengiba padanya. Melakukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan.

Dengan beraninya Kyuhyun mengklaim diri begitu mencintai Sungmin. Tapi dengan sangat egois ia tak mau memperjuangkan kembali. Hingga akhirnya Sungmin lah yang datang padanya. Memintanya untuk terus berada di sisinya. Entah sebagai apa. Sekali lagi. Kyuhyun hanya ingin mengizinkan otaknya untuk memikirkan alasan yang mungkin bagi Sungmin. ‘Karena Sungmin juga mencintai dirinya’.

Tak lama pemuda itu menggeliat, untuk kemudian membuka kedua matanya perlahan. “Oh, Kyuhyun-ah. Mian, aku ketiduran.” Sungmin membuat tubuhnya kini dalam posisi duduk di tempat tidur. “Aku sepertinya sudah melakukan yang terbaik. Tempat tidurmu jadi nyaman sekali. Aku jadi mudah tertidur.”

Kyuhyun hanya diam. Ia masih belum bosan menatap Sungmin.

Sungmin sedikit canggung karena di tatap seperti itu. “A-ah… aku lupa menyampaikan pesan ibuku. Katanya kau harus main ke rumah. Sunghee juga sudah berisik sekali ingin minta—“

Sungmin berhenti bicara karena kini ia menyadari wajahnya dengan Kyuhyun sudah begitu dalam jarak dekat. Seketika pandangannya hanya fokus pada satu titik yang seharusnya paling ia hindari.

“K-Kyu~” hanya angin yang keluar dari seruan itu dari mulutnya seakan pita suara enggan untuk bekerjasama.

Saat ini kepalanya serasa berputar. Tidak satupun cara terpikirkan untuk lari dari sebuah hembusan napas hangat yang menerpa wajahnya. Karbon dioksida itu saling bertukar dan semakin panas seiring dengan jarak yang semakin terkikis antara mereka.

Kemudian…

“Kyuhyun!” Sungmin memaksa tubuhnya berdiri. Tak ayal membuat Kyuhyun juga harus terhempas ke belakang. Tidak jauh seperti Sungmin, wajah Kyuhyun tak kalah terkejut. Seakan apa yang baru saja—hampir—terjadi bukan berasal dari jalan pikirannya yang sehat. “Ka-kamar mandi. A-aku mau ke kamar mandi dulu.” Dan kemudian hanya dalam hitungan detik tubuh Sungmin tenggelam masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang bernama toilet bersama dengan semua perasaan yang entah ada berapa bercampur dalam debaran jantungnya.

“Apa yang sudah aku lakukan?” Kyuhyun berujar sedih.

_SnowFlakesTheSeries_

Sungmin menunggu dengan gelisah di luar ruangan. Kyuhyun ada di dalam tengah diwawancara perihal dirinya yang akan kembali mengkuti perkuliahan setelah sempat mengundurkan diri. Walaupun nyonya petugas kemahasiswaan tadi mengatakan bahwa wawancara itu hanya suatu bentuk formalitas, tetap saja Sungmin khawatir. Apalagi sudah hampir dua jam Kyuhyun di dalam.

Pemuda itu terkejut ketika Kyuhyun membuat pengakuan bahwa berita tentang dirinya yang di-drop-out dari universitas adalah suatu kebohongan yang ia minta pada salah satu petugas yang mungkin akan menjawab pertanyaan dari setiap orang yang menanyai keberadaanya. Tidak ada yang akan dikeluarkan hanya karena tidak lulus satu mata kuliah. Dia sendiri yang mengundurkan diri.

Tak lama pintu terbuka menampilkan sosok tinggi dalam balutan celana jeans gelap dengan kemeja berwarana dua tingkat lebih muda. Kyuhyun menggulung bagian lengannya hingga sebatas siku.

“Bagaimana?” Sungmin langsung melompat seketika.

“Apanya?” Kyuhyun yang tak siap, cukup terkejut dengan reaksi yang Sungmin berikan.

“Yah… jangan buat aku penasaran! Apa yang mereka katakan? Kau masih bisa melanjutkan perkuliahan, bukan? Mereka tak memintamu untuk mengulang dari awal kan? Katakan, Kyuhyun…”

Kyuhyun tersenyum, kemudian mengangguk. “Semuanya oke. Tidak ada masalah. Aku hanya perlu memperbaiki mata kuliah yang gagal di semester ini. Tidak sampai harus memulai dari mata kuliah dasar.”

“Syukurlah!” Sungmin berseru senang. Tanpa sadar dirinya sudah menggenggam kedua lengan Kyuhyun dengan erat. “Aku tahu mereka tak akan menyia-nyiakanmu.”

Gomawo, Sungmin.”

“Huh? Untuk apa?”

“Semuanya.” Kyuhyun tersenyum membiarkan lengan Sungmin bergelayut padanya.

***

“Aku melihat mereka berpegangan tangan. Apa itu wajar?”

“Sayang sekali, padahal dia sangat tampan dan pintar.”

“Oh… padahal aku sudah sangat senang saat dia kembali kuliah. Tapi kenapa seperti ini?”

“Hubungan sesama jenis memang sudah menjamur. Tapi aku bersumpah baru melihatnya saat ini di kehidupan nyata.”

“Kyuhyun gay?”

“Sungmin gay?”

“Tidak. Kurasa keduanya hanya teman dekat.”

“Mereka sepasang kekasih!”

Sungmin memiliki kebiasaan baru saat ini. Ia lebih senang berada di perpustakaan ketimbang kantin kampus. Karena hanya di perpustakaan ia tidak akan mendengar orang-orang bicara keras. Terlebih membicarakan dirinya dan Kyuhyun.

Kyuhyun mengikuti kemanapun Sungmin pergi. Mereka hanya dipisahkan oleh jadwal kuliah masing-masing. Selebihnya… dimana ada Kyuhyun, kalian akan bisa melihat Sungmin. Atau mungkin sebaliknya.

“Kau tidak lapar?” Kyuhyun menarik buku besar yang tengah Sungmin pegang. Buku itu menutupi seluruh wajahnya dari pandangan Kyuhyun.

“Aku sedang baca, Kyuhyun.” Sungmin menahan suara agar tidak terlalu keras mengudara.

“Jangan berpura-pura lagi. Aku tak pernah menemukan ketertarikan akan patology manusia dalam sejarah akademikmu. Dan lagi… ini bahasa latin. Aku saja tidak mengerti.” Kyuhyun menatap Sungmin yang kini terus saja mengalihkan pandangannya pada yang lain. Apa saja. Asalkan tidak bertemu dengan milik Kyuhyun.

Sungmin menghembuskan napas dari mulut perlahan, “Apa aku mencari novel saja. Sepertinya penjaga perpustakaan pernah memberitahu bahwa ada beberapa koleksi lawas yang sangat bagus di sini dan—“ ia baru saja akan beranjak, namun seketika merasa lengannya dicengkeram kuat.

“Ayo keluar. Kita cari tempat untuk bicara.” Ajak Kyuhyun.

“Keluar bagaimana? Aku masih harus mengikuti satu mata kuliah setengah jam lagi.” Terlihat jelas Sungmin panik. Bukan karena ia harus menghadiri kelas, tapi karena sudah tak ada lagi cara untuk menghindar. Sungmin ketakutan.

Kyuhyun merasakannya. Dan pada akhirnya satu kesempatan lagi gagal. Pria itu membiarkan Sungmin bertindak sesuai keinginannya.

***

“Memang apa yang sedang kau kerjakan? Sejauh ini tak ada tugas yang menyita banyak waktu.” Sungmin berujar kesal pada rekannya Yunho. Semakin luas rumor yang beredar, temannya yang satu ini  semakin sulit untuk diajak bicara.

“Tapi aku harus pergi, Sungmin.”

“Sebentar saja.”

“Tidak bisa”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak bisa.”

“Karena kau memang tidak mau?”

Kalimat Sungmin yang terakhir cukup membuat Yunho bungkam. “Sungmin-ah…”

“Tolong aku, Yunho….”

***

Semenjak itu, Kyuhyun dan Sungmin tak lagi berdua. Karena dimana ada mereka, Yunho juga akan bersama keduanya. Entah itu mengerjakan tugas, makan siang, bahkan di perpustakaan. Hal yang cukup membantu Sungmin dalam mengendalikan diri. Pemuda itu jadi lebih tenang menanggapi bisikan-bisikan para penggosip.

“Sepuluh menit lagi, Sungmin. Ayo jalan!” Yunho membereskan alat-alat tulisnya. Hendak menuju kelas yang sama.

Sedang Kyuhyun. Dia hanya bisa diam dan tersenyum saat Sungmin pamit untuk pergi kemanapun—yang berhubungan dengan kuliah—yang pastinya akan terus bersama Yunho.

Seperti sebuah cinta segitiga yang konyol. Namun tak ada yang bisa Kyuhyun katakan ataupun lakukan.

Hingga pada suatu kesempatan…

“Aku lelah, Sungmin. Bisa kita hentikan ini? Aku merasa benar-benar jahat pada Kyuhyun.” Yunho menyingkirkan semua kerta-kertas tugas yang sudah berjam-jam mereka berdua—dengan Sungmin—gelar di atas meja perpustakaan. Hari ini tanpa Kyuhyun, karena pemuda itu punya jadwal padat untuk kuliahnya.

Tidak disangka Sungmin justru memperlihatkan wajah yang sama frustasinya. “Kau pikir aku mau meyakitinya terus seperti ini? Yunho-yah… ini hanya sampai aku benar-benar punya alasan kenapa aku menginginkannya.”

“Kau ini sebenarnya sama sekali tidak tahu, atau memang tidak ingin tahu? Seberapa rumit otakmu sampai hal seperti itu saja sulit kau pikirkan? Aku tahu kau bodoh. Tapi tidak seperti ini juga. Jika melihatmu, aku benar-benar menganggap adik perempuanku yang tengah berada dalam masa puber dan baru memiliki pacar pertama itu sangat expert.” Yunho kali ini betul-betul bicara kelewat serius. Walaupun sama sekali tak pernah terpikir olehnya akan berada sangat dekat dengan hubungan tidak normal seperti ini, namun rasa kemanusiaannya masih mendominasi.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Sungmin menenggelamkan diri dengan menjatuhkan kepalanya di atas meja. “Perkataan orang-orang sungguh mengusikku. Aku tidak bisa selamanya pura-pura tidak dengar.”

Yunho menghela napas. “Begini. Kurasa kau hanya terlalu jauh memikirkan banyak hal. Aku tahu apa yang kalian lakukan—maksudku untuk saat ini yang Kyuhyun lakukan itu salah. Tapi tetap saja, apa kau tidak bisa melihat bagaimana sederhananya pemikiran Kyuhyun untuk… ehm… menyukaimu… atau apalah namanya itu?” Ada rasa tidak nyaman saat Yunho mengucapkan satu kata ‘suka’. “Dan jika berdasarkan semua cerita kalian yang kau beritahu, Kyuhyun akan lebih sakit hati untuk saat ini dibandingkan dengan sebelumnya.”

Sungmin mengangkat kepalanya. Ekspresi cemas dapat begitu saja terbaca dengan mudah. “Aku mencemaskannya.” Lirih suara itu.

“Tidak, Sungmin. Kau hanya mencemaskan dirimu sendiri.”

_SnowflakesTheSeries_

“Kyuhyun-ah… apa kau tidur?”

Saat ini mereka berdua kembali pada satu setting tempat yang sama dengan beberapa hari lalu waktu acara bersih-bersih kamar Kyuhyun. Sungmin tak bisa berkonsentrasi pada layar laptop-nya karena pikiran itu hanya tertuju pada seseorang yang berbaring di atas ranjang.

Tidak ada sahutan. Namun dari cara Kyuhyun bernapas, lelaki itu sama sekali tidak tidur pulas. Hanya memejamkan mata karena kelewat lelah. Sangat. Lelah.

Sungmin beranjak. Ia mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur Kyuhyun. Menatap sendu wajah sepucat kertas di bawahnya. “Apa yang kau pikirkan sekarang?” suara Sungmin terdengar gemetar.

Lamat-lamat kedua mata itu terbuka, menampilkan batu hitam yang terlihat sarat akan lelah, cemas, takut, sedih, dan entah rasa menyakitkan apa lagi. Kyuhyun membalas tatapan Sungmin yang kini lebih seperti membaca perasaan bersalah.

“Apa yang kau pikirkan, Kyuhyun? Beritahu aku.” Sungmin masih memohon.

“Mengapa kau ingin tahu apa yang kupikirkan  saat ini?” jawab Kyuhyun lirih.

“Aku… tidak ingin egois lagi. Selama ini kau hanya diam dengan sikapku karena kau sangat mengerti akan apa yang ada dalam kepalaku, bukan?”

Kyuhyun diam lagi.

“Tapi aku tak bisa melakukan hal yang sama karena terlalu bodoh. Aku tak pernah benar-benar tahu bagaimana jalan pikiranmu, karena itulah aku terus merasa takut.”

Mulut itu masih saja tidak mengucapkan apapun.

“Jadi beritahu aku. Kyuhyun-ah… hng??”

“Aku bukan orang yang pandai membicarakan tentang apa yang aku pikirkan.” Akhirnya Kyuhyun mengucapkan sesuatu.

“Kalau begitu lakukan dengan cara lain. Aku akan menerima apapun yang membuatmu nyaman. Asalkan bisa tahu lebih banyak mengenai dirimu. Aku tidak akan mempermasalahkannya.” Sungmin menjawab cepat-cepat. Hatinya tak ingin lagi membuat Kyuhyun salah paham dengan responnya yang kelewat lambat.

Keheningan beberapa detik agaknya Sungmin rasakan bagai diam berjam-jam. Bahkan lebih buruk ketika dirinya hanya sebuah model hidup dalam proses melukis.

Dan momen itu terjadi lagi. Mereka berada dalam jarak yang dekat. Sekali lagi, Kyuhyun berusaha mengikis udara yang terbentang diantara keduanya. Begitukah ‘cara lain’ yang Kyuhyun inginkan?

Hingga kedua bibir mereka hanya berjarak satu tarikan napas…

Sungmin tersentak dan berdiri tiba-tiba.

Kyuhyun memejamkan matanya dan tersenyum penuh luka. “Jangan memaksakan diri lagi. Keadaan ini… aku masih bisa menahannya. Kau hanya perlu berjalan dan bersembunyi dimanapun kau suka. Karena aku hanya akan mengawasimu. Itu sudah cukup. Jangan lagi punya keinginan untuk tahu dengan apa yang kuinginkan, terlebih lagi jika hal itu berkaitan dengan dirimu, Sungmin.”

Pria itu beranjak dari tempat tidur. Jika melihat arahnya berdiri, mungkin kamar mandi adalah tujuannya.

Namun sebelum Kyuhyun bergerak menjauh, lengannya merasa terkungkung sesuatu. Seseorang telah menahannya. “Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi sendirian di dalam sana.”

Kyuhyun terkejut dengan yang Sungmin katakan. Benarkah anak ini tidak hanya sekedar menebak? Apa dinding-dinding kamar mandi sudah mengkhianatinya dengan memberitahukan semua pada seorang Lee Sungmin? Di dalam sana. Bahkan rahasia terbesarnya ia tumpahkan semua.

Dan yang terjadi selanjutnya mungkin hanya ada dalam mimpi Kyuhyun selama bertahun-tahun.

Sungmin tiba-tiba saja melingkarkan kedua lengannya pada leher Kyuhyun. Dengan sedikit berjinjit, akhirnya bibir itu benar-benar menemukan tempat untuk berlabuh. Menghangatkan ‘dia’ yang terus saja diam hanya demi membuat dirinya tidak tersakiti. Namun justru menyakiti Kyuhyun lebih lagi.

‘Apa yang kau lakukan, Sungmin?’

‘Melakukan apa yang ingin kulakukan.’

‘Kau selalu menolak selama ini.’

‘Tapi saat ini jangan tolak aku.’

‘Jangan memaksakan diri sendiri lagi—‘

‘Diam dan terima saja aku!’

Mungkin benar kata orang. Kejujuran hanya datang dari dasar hati, dan jika dasar itu terlalu dalam, kau akan kesulitan menemukan tali yang sangat panjang untuk sampai ke permukaan. Yang pada akhirnya tak akan pernah terucap seperti sebuah picisan dalam nada lagu-lagu cinta.

Kyuhyun membuat tubuh mereka semakin dekat dengan dekapan hangatnya. Walau seluruh tubuh hanya pasif, nyatanya ciuman mereka bergerak dan memiliki jiwa. Pembicaraan yang tak kunjung mereka selesaikan dengan kata-kata, pada akhirnya terselesaikan dengan hanya sentuhan daging lembut yang hangat.

‘Kau mencintaiku?’

‘Aku mencintaimu. Harus berapa kali kuutarakan?’

‘Kalau begitu jangan pernah menyerah terhadapku.’

‘Tidak akan.’

Chapter 4 End

Advertisements

3 thoughts on “Snowflakes #4

  1. orange girls says:

    akhirnya sungmin ga ragu lagi ama perasaannya… ga nyangka min bisa bertindak lebih dulu hehehe… keren… akhirnya bisa liat kyumin bahagia hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s