Snowflakes #5

NC

“Sungmin. Apa yang bisa membuatmu bahagia?”

“Hm… sesuatu yang manis.”

“Aku akan membawakan sebanyak mungkin padamu kalau begitu. Jadi berjanjilah akan selalu bahagia bersamaku.”

“Berjanjilah kau juga akan membuatku selalu bahagia. My sweetest thing.”

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

“Ayo berangkat.”

Kyuhyun hanya diam. Sebagai gantinya pria itu hanya memandang seseorang di sana tanpa berkedip.

Wae??” Sungmin bertanya heran melihat wajah Kyuhyun yang seperti itu.

Tetap diam. Mulutnya memang terbuka, namun tak ada satupun kalimat yang terucap. Kyuhyun hampir seperti bocah yang memiliki keterbelakangan mental.

Butuh lebih dari puluhan detik untuk Sungmin bisa sampai pada suatu kesimpulan dari penyebab sikap Kyuhyun yang seperti itu. “Aaa… ini—“ Sungmin menyentuh rambutnya yang saat itu terlihat berkilau. Hmm… bukan, bukan berkilau seperti iklan-iklan shampo atau semacamnya. Tapi… betul-betul berkilau. Pemuda itu sudah merubah warna rambutnya menjadi putih keemasan. “Aku hanya bosan dengan warna rambut yang lama.” Ujarnya beralasan.

Kyuhyun menunjukkan reaksi. Kali ini dia mengedipkan matanya.Benar-benar tanda bahwa makhluk itu betul bukan patung.

“Kenapa? Apa aku begitu terlihat aneh?” Sungmin bertanya takut-takut.

Namun pada akhirnya kekhawatiran itu pudar saat Kyuhyun mulai menunjukkan senyumnya. “Tidak. Warna itu sangat cocok denganmu. Dan itu…” ia menunjuk rambut Sungmin. “Kau membuatnya terlihat ikal. Aku suka.” Kyuhyun berkata agak ragu untuk kalimat berikutnya, “…sama dengan milikku.”

Sungmin merasakan sensasi aneh saat pria dihadapannya mengatakan bahwa rambut yang ia buat bergelombang di beberapa tempat sama dengan milik Kyuhyun. Ya… rambut Kyuhyun memang terkesan agak sedikit berantakan, namun terlihat sangat manis karena helaiannya yang ikal. Pada saat yang bersamaan ia merasakan seluruh tubuhnya merinding dan bahagia sekaligus. Baru kali ini Sungmin merasakannya. Reaksi yang cukup aneh menurutnya.

“B-benarkah? Hmm… kalau begitu terima kasih.” Agak aneh memang saat Sungmin salah tingkah karena sikap Kyuhyun. Entahlah… mungkin karena anak itu terlalu bahagia.

“Tak apa kalau kita pergi naik bis?” Kyuhyun berusaha menarik semua kecanggungan yang tiba-tiba saja memenuhi ruang bicara mereka berdua.

Sungmin mengangguk. Wajahnya kembali ceria seperti biasa. “Tentu saja. Lebih enak pergi naik bis. Lebih murah dan lebih cepat.” Ucapnya sambil tersenyum.

Mungkin seorang Cho Kyuhyun akan menganggap acara kali ini adalah kencan pertama dengan Sungmin. Walaupun pemuda itu tidak pernah mendeklarasikan hubungan mereka untuk disebut sebagai ‘pacaran’, namun Kyuhyun sangat ingin egois untuk menganggapnya seperti itu. Dia ingin sekali bahagia walau hanya sebentar.

Hanya makan malam biasa. Karena cuaca yang terasa sangat panas malam ini, mereka memutuskan untuk keluar walau hanya sekedar mengunjungi restoran-restoran cepat saji.

Sebetulnya Sunghee sudah merengek ingin ikut. Namun Sungmin sangat berterima kasih pada ‘jadwal’ gadis itu yang padat di sabtu malam bersama teman-temannya. Dia betul-betul memiliki kehidupan yang menyenangkan sebagai remaja. Tidak seperti dirinya yang saat itu hanya ingin bermain dengan Kyuhyun, Sungmin bahkan percaya bahwa Sunghee sudah berganti-ganti kekasih dalam satu bulan ini. Dan jika dikalikan dengan masa sekolah menengahnya yang saat ini berada di tahun kedua, Sungmin betu-betul sakit kepala untuk menghitung berapa jumlah lelaki yang pernah berkencan dengan adiknya.

“Kenapa diam saja?” Kyuhyun membuyarkan lamunan Sungmin.

“Oh? Oh.. tidak… aku sedang memikirkan ingin pesan makanan apa nanti.” Katanya sambil tersenyum.

“Aku ingin mengajakmu untuk mengunjungi restoran kecil milik teman. Masakannya sangat enak. Jadi, tak apa kan kalau aku yang memilihkan tempat kali ini?” Kyuhyun berkata ragu.

Jinjja? Kau punya teman selain aku?”

Kyuhyun tersenyum getir mendengar pertanyaan itu. Yang langsung membuat Sungmin panik.

A-ani… aku tidak bermaksud… hanya saja…” dan karena kesulitan harus beralasan apa, akhirnya dia hanya menunduk. “Maaf Kyuhyun.”

Kyuhyun tersenyum, lengannya meraih kepala Sungmin dan mengacak lembut helaian keemasan di sana. “Kau akhir-akhir ini sering sekali minta maaf. Tidak lelah?” ujarnya sambil tersenyum. Sedikit merasa bersalah karena Sungmin harus terus menahan ucapannya yang memang sangat ampuh membuat siapapun kesal saat mendengarnya. Tak terkecuali dirinya sendiri.

“Karena kau sangat hebat dalam membuatku merasa bersalah.” Sungmin merengut. Ia memalingkan wajah dan memilih memandangi jalan-jalan dari jendela bis yang mereka tumpangi.

Setelah melakukan lima belas menit perjalanan dengan, mereka berdua harus menyusuri gang kecil selama kurang lebih sepuluh menit untuk sampai pada suatu perumahan kecil yang cukup padat. Apartemen-apartemen yang tak lebih dari lima lantai terlihat di beberapa bagian rumah-rumah warga. Walaupun hari sudah gelap, Sungmin dan Kyuhyun masih harus sesekali menghindari anak-anak kecil yang bermain sambil berlarian tak tentu arah.

Sangat ramai. Dan Sungmin menyukainya.

“Perumahan yang hangat.” Sungmin bergumam pelan.

“Lewat sini, Sungmin.” Kyuhyun menarik lengan Sungmin untuk masuk pada salah satu toko yang berjejer di sepanjang gang tersebut.

“Selamat da—OH KYUHYUN!!” Seseorang dengan tinggi sedang dan wajah yang manis menyambut kedatangan mereka berdua dengan sedikit terlalu antusias.

“Donghae. Bagaimana kabarmu?” Kyuhyun membalas pelukan selamat datang pemuda itu. Sementara di sampingnya Sungmin memandang kedua manusia tersebut dengan tatapan ‘Aaahh~ mereka betul-betul berteman ternyata’.

“Aku baik. Bagaimana denganmu? Restoran ini makin ramai saja.” Kyuhyun berucap senang. Pandangannya berkeliling melihat kesibukan di dalam rumah makan itu.

“’Restoran’ apa? Kau ini—yah! Kenapa baru hari ini datang? Aku mengundangmu sudah beberapa bulan lalu. Kalau itu adalah vocher makan gratis, kau sudah tidak akan bisa menggunakannya lagi, bocah!” Pria yang dipanggil Donghae itu meninju pelan bahu Kyuhyun. Mereka berdua betul-betul terlihat akrab.

“Ah! Aku datang bersama seseorang. Kenalkan, ini Sungmin. Dia satu kampus denganku.” Donghae mengulurkan tangan untuk berjabat tangan yang langsung disambut Sungmin tanpa ragu.

Donghae menyenggol lengan Kyuhyun. “Apa kita semua lahir di tahun yang sama?”

Kyuhyun mengangguk.

“Waahh… kau terlihat sangat muda, Sungmin. Senang bertemu denganmu.” Pemuda itu menepuk bahu Sungmin dengan begitu bersahabat.

“Kalian sama saja. Mungkin sepuluh tahun nanti, hanya aku yang akan terlihat tua.” Kyuhyun membuat wajahnya seolah kesal. Namun tidak lama mereka tertawa dengan lelucon tersebut.

Sungmin dan Kyuhyun memesan beberapa menu yang direkomendasikan oleh Donghae. Makanan rumahan yang benar-benar lezat menurut Sungmin.

“Kyuhyun-ah.”

“Hm?”

“Sejak kapan kalian berdua saling kenal?” Sungmin menatap Kyuhyun. Ada rasa iri saat melihat interaksi mereka berdua ketika baru datang tadi.

“Kami bertemu beberapa bulan setelah kelulusan SMA. Saat itu aku butuh pekerjaan. Uang beasiswa yang kumiliki hanya cukup untuk membayar sewa rumah dan kuliah. Kau tahu… ayah benar-benar dalam keadaan yang cukup parah saat itu.” Kyuhyun masih tersenyum saat menyebut ayahnya dalam pembicaraan mereka. Walaupun sepertinya masih ada sisa-sisa kesedihan di sana.

Sungmin refleks menggenggam lengan Kyuhyun.

“Donghae saat itu masih bekerja di sebuah restoran sebagai juru masak. Dia membantuku untuk mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di sana. Dia benar-benar baik. Aku beruntung karena terus bertemu dengan orang-orang baik saat merasa sudah hampir menyerah.”

Sungmin menatap gusar, “Saat itu… apa betul-betul berat?”

Kyuhyun tersenyum, “Ada apa dengan ekspresimu, Sungmin?”

“Bodoh, aku sedang cemas.” Sungmin memukul lengan Sungmin yang bebas.

“Untuk apa cemas? Itu sudah berlalu. Dan sekarang aku baik-baik saja. Kau sudah lihat sendiri kan?”

Sungmin mencoba kembali pada makanannya walu tampak lesu. “Saat itu… aku bahkan tak ada disismu. Seharusnya kau membenciku saat ini.”

“Alasannya?” tanya Kyuhyun.

“Terlalu banyak alasan untuk kau bisa membenciku.”

“Sebutkan saja salah satunya.”

Sungmin menahan napasnya dan kembali kedua manik hitam mereka bertemu. “Aku sudah menghinamu.” Ujarnya pelan.

“Kau sudah berkali-kali minta maaf untuk itu. Lalu?”

“Aku pernah membencimu.” Sungmin kembali menyebutkan.

“Kau tidak pernah bisa membenci siapapun. Aku tahu itu. Yang lain?”

“Aku bahkan meninggalkanmu!”

“Tapi pada akhirnya kau kembali, Sungmin.” Kyuhyun berujar tulus. Kilatan di matanya tak menunjukkan adanya sedikitpun keraguan. “Ditambah kau menginginkaku. Itu sudah cukup banyak. Dan aku bahagia saat ini.” Pria itu membalas genggaman tangan Sungmin dengan kuat. Seakan tak ingin lagi ditinggalkan.

Seseorang menghampiri mereka “Ehem!”

Sungmin langsung menarik lengannya dengan kasar. Gelas di sampingnya hampir jatuh. Seperti sudah tertangkap basah. Pemuda itu bahkan tak berani menatap siapapun di sana.

“Bagaimana? Kau suka makanan di sini, Sungmin?” Donghae kembali menaruh beberapa sajian di hadapan mereka. Bak tamu spesial malam itu, Sungmin dan Kyuhyun benar-benar dijamu dengan baik. “Dan ini… kue coklat. Hmm… aku tidak tahu apa kau akan menyukainya. Tapi aku baru ingat bahwa dia pernah mengatakan kau sangat menyukai makanan manis. Jadi aku mengeluarkan menu hidangan penutup ini. Kalau tidak enak, kau harus segera mengatakannya padaku ya. Ini resep baru. Aku butuh sedikit masukan dari para pecinta makanan manis.”

“Tadi kau bilang… Kyuhyun mengatakan bahwa aku—“

Donghae mengangguk. “Dulu dia sering bercerita tentangmu. Dan mengingat betapa bahagianya wajah Kyuhyun yang mendeskripsikan seorang Lee Sungmin saat itu, aku jadi berpikir ingin sekali bertemu dengan orangnya langsung dan memberikan kue-kue manis ini.”

Sungmin terlihat bingung. Bergantian ia menatap Donghae, kemudia beralih pada Kyuhyun, lalu menatap Donghae lagi. “Apa jangan-jangan…”

Donghae menarik kursi di hadapan mereka dan menyamankan dirinya. “Di dunia ini akan selalu ada hal-hal spesial. Dan aku bukan orang yang berpandangan sempit mengenai semua hal-hal di luar kewajaran. Aku senang bahwa Kyuhyun akhirnya menemukanmu, Sungmin-ah.”

“Kau benar-benar mempermalukanku, Lee Donghae.” Kyuhyun berujar sinis.

Wae?? Aku tidak salah, kan? Aku sangat suka melihat keajaiban. Dan salah satunya adalah kalian berdua.” Ungkap Donghae sambil tersenyum.

Mau tak mau mereka bertiga tertawa rendah bersama. Sungmin sangat menyukai mata Donghae yang teduh. Seakan semua kebaikan mengalir dari tatapannya itu.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam dapur. Donghae dan Kyuhyun refleks berdiri.

“Kyuhyun, nikmati saja makanannya. Biar aku memeriksa ke dalam.” Ujar Donghae cepat ketika Kyuhyun tadi hampir mengikutinya.

“Tapi…”

“Tak apa.”

***

Pada kenyataannya memang terjadi sesuatu…

Semenjak kembali dari rumah sakit, Kyuhyun hanya diam. Hal yang mengejutkan tiba-tiba saja terjadi. Adik laki-laki Donghae jatuh pingsan saat baru saja ingin membantu di dalam dapur. Saat itu sang adik hanya ingin membersihkan piring-piring kotor agar segera bisa digunakan lagi, mengingat restoran mereka sedang sangat ramai.

Semua orang sibuk… dan lengah. Mereka sama sekali tak memperhatikan.

“Kyuhyun-ah.” Sungmin masih berusaha untuk memulai percakapan. Walau bagaimanapun ia benar-benar benci jika suasana sepi. “Jangan seperti ini terus. Anak itu akan baik-baik saja. Hanya luka luar—“

“Hemofilia.” Kyuhyun berucap.

“Apa katamu?”

“Adik Donghae mengidap Hemofilia.” Akhirnya Kyuhyun menatap lawan bicaranya. “Aku sudah tak perlu menjelaskannya lagi, bukan? Kau pasti sudah tahu bahwa luka sekecil apapun akan sangat berbahaya untuknya.”

Ada perasaan sedih pada diri Sungmin ketika Kyuhyun bersikap sinis. Terlebih ia melakukannya karena mencemaskan orang lain.

Kemudian Sungmin menggeleng sendiri. Berusaha menyingkirkan pikiran buruk dari kepalanya. “Apa aku salah bicara lagi?”

Kyuhyun masih diam.

“Kyuhyun-ah. Aku minta maaf. Aku betul-betul tak tahu—“

“Kau selalu saja bilang begitu. Jadi apa yang selama ini kau tahu?!” Kyuhyun menatap Sungmin dengan tajam. Matanya merah entah karena lelah atau ingin menangis. Yang jelas, sungmin ingat pernah melihat yang seperti itu. Di suatu tempat…

“Kenapa kau marah padaku?” Mau tak mau Sungmin melawan. Ia benar-benar tidak nyaman mendengar kalimat Kyuhyun. “Baiklah. Kau benar. Aku memang tidak pernah tau apa-apa. Kau ingin bilang aku bodoh. Terserah. Aku memang seperti ini. Aku selalu menyikiti orang lain karena kebodohan ini. Kau pikir aku suka? Kau pikir aku sengaja melakukannya?! Aku memang tak keberatan jika orang lain yang mengatakan itu. Tapi apa kau juga harus mengatakannya? Tidak. Kau sudah pernah mengatakannya. Lantas apa kau harus mengulangnya terus, hah?!!”

Kyuhyun seperti tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Di hadapannya Sungmin berteriak dengan suara gemetar. “Sungmin-ah—“

Baru saja Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk menyentuh Sungmin, “Sudahlah. Tiba-tiba aku merindukan rumah. Aku tidak jadi menginap.” Dan kemudian untuk selanjutnya pria itu hanya bisa menatap kepergian Sungmin dengan satu debuman keras pintu apartemen.

“Apa yang sudah kau lakukan, Cho Kyuhyun?” Pria itu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi.

_SnowFlakesTheSeries_

Sunghee yang baru saja akan bertanya bagaimana acara jalan-jalan Sungmin dengan Kyuhyun, tiba-tiba mengurungkan niat karena pagi itu ia melihat kakaknya sudah dengan ekspresi ingin membunuh. Dan jika sudah seperti itu, walau betapa kurang ajarnya Sunghee ia tak akan berani menyapanya. Sunghee selalu takut melihat wajah Sungmin yang seperti itu sejak kecil.

“Sungmin-ah. Bagaimana kuliahmu? Kudengar dalam satu bulan ini kau akan melakukan seminar. Bagaimana persiapannya?” sepertinya hanya sang ayah yang tidak menyadari suasana mendung yang melingkupi Sungmin pagi itu.

“Biasa saja. Aku akan melakukannya kurang dari satu bulan.” Sungmin menjawab kaku. Ia bahkan tak menikmati sarapannya.

“Bertahanlah sedikit lagi. Setelah ini, aku tidak akan melarangmu untuk melakukan apa saja.”

Lain dengan Sunghee yang takut, sang ibu justru cemas. “Kau baik-baik saja, sayang? Apa kau sakit?”

Sungmin hanya menggeleng. “Aku baik-baik saja. Hanya masih mengantuk.”

***

Sungmin tidak cukup ceroboh untuk mematikan ponselnya jika memang tidak ingin mengangkat panggilan dari Kyuhyun. Masih ada dosen pembimbing kelewat cerewet yang bisa setiap saat menghubunginya untuk segera saling berkirim email bahan tulisan akhir.

Jadi beginilah semenjak semalam. Ponselnya tak berhenti bergetar. Puluhan panggilan dan belasan pesan terus membuat benda itu berkedip tanpa istirahat. Mungkin Sungmin memang bodoh. Tapi Kyuhyun pasti lupa bahwa pemuda itu adalah yang terbaik membuat orang tak bisa tidur jika sedang marah.

“Kyuhyun oppa!!”

Sungmin hampir menjatuhkan gelas kaca dari tangannya ketika suara nyaring sang adik menggema di seluruh sudut rumah. Tak terkecuali dimana Sungmin kini berada.

Namun rasanya ia seperti lebih terkejut dengan apa yang diucapkan Sunghee ketimbang suaranya yang hampir menyentuh delapan oktaf.

Sungmin menggeleng, “Aku pasti salah dengar, mana mungkin Kyu—“

“Sungmin-ah! Kau masih di kamar? Turunlah! Kyuhyun datang.”

Dan seketika tubuhnya seperti ingin jatuh.

“Oh! Kupikir kau ada di kamar. Ternyata ada di sini.” Sang ibu menemukan Sungmin yang tengah berdiri kaku di dapur sambil memegang gelas berisi susu coklat. “Temui Kyuhyun. Eomma akan membuatkan minum dulu untuk nya.”

Eoh.” Sungmin menjawab singkat. Namun dirinya belum juga beranjak.

“Sedang apa? Cepat keluar, Kyuhyun menunggumu.”

Sungmin merutuk dalam hati. Kenapa Kyuhyun harus datang sekarang? Tak bisakah ia marah lebih lama?

Ia menemukan Kyuhyun tengah bicara sambil tersenyum dengan Sunghee. Adiknya itu pasti sangat senang akan kedatangan ‘pangeran harmonika’nya—setidaknya begitulah Sunghee menyebut seorang Cho Kyuhyun.

“Sungmin.” Dengan cepat Kyuhyun mengganti fokusnya dengan seseorang yang baru saja muncul ke ruang tamu.

Sungmin duduk di sofa yang sama dengan sang adik. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi marah ataupun kesal. Setidaknya jika bersama Sunghee, Kyuhyun tidak akan berkata macam-macam mengenai pertengkaran mereka tadi malam. Dan—

Ponsel Sunghee berbunyi nyaring.

“Isshh arraseo. Sebentar lagi aku datang. Kalian benar-benar tidak sabaran.”

Sungmin menangkap sinyal bahaya.

“Kau seharusnya mengatakan dari awal kalau Kyuhyun oppa ingin main ke sini. Jadinya aku tidak akan membuat janji dengan teman-teman. Kau ini benar-benar.” Sunghee merengut yang hanya ditanggapi Sungmin dengan tatapan ‘aku juga tidak tahu, bodoh’. “Padahal aku ingin sekali diajari bermain harmonika.”

Kyuhyun hanya diam menatap dua bersaudara itu.

“Kyuhyun oppa.” Sunghee beranjak menatap Kyuhyun.

“O-oh?”

“Kau janji akan sering-sering main ke sini kan? Dan mengajarkan aku bermain harmonika. Aku sudah membeli satu yang terbaik di toko musik. Jadi jangan sampai tidak. Oke?”

Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum ragu.

Assa! Kalau begitu aku pergi dulu.”

Sunghee pergi. Tapi setidaknya masih ada ayah dan ibunya yang bisa sewaktu-waktu datang ke ruang tamu.

“Mana minumannya?” Sungmin kembali merasakan sinyal yang kurang baik saat sang ibu datang tanpa minuman untuk tamunya. Ditambah wanita itu sudah sangat rapi dengan pakaian olahraga.

Eomma menaruh minuman dan makanan kecil di kamarmu. Ajak Kyuhyun ke sana supaya kalian lebih nyaman.” Sang ibu tersenyum pada Kyuhyun.

“Kau mau kemana?” Suara Sungmin seperti sedang memohon.

“Ayahmu minta ditemani. Rekan-rekan di kantornya mengajak bermain tenis.”

Bagus sekali. Sekarang kami benar-benar akan ditinggal berdua. Kau benar-benar memilih waktu yang tepat, Cho Kyuhyun.

***

Sungmin tidak tahu harus bagaimana menghadapi Kyuhyun. Ia masih kesal dengan perkataan pria itu semalam. Namun daripada harus berteriak marah dan membuat segalanya semakin buruk, ia memilih mendiamkan orang itu saja dan berusaha fokus dengan rancangan seminarnya.

Satu setengah jam berlalu. Dan Sungmin bahkan sudah membuat beberapa tema yang menakjubkan untuk bahan presentasi. Walaupun ia tidak yakin dengan isinya.

Saat itu Sungmin kemudian menyadari bahwa seseorang sedang memeluknya dari belakang. Melingkarkan kedua tangan pada bahu bidang miliknya. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat seiring dengan hembusan napas Kyuhyun pada telinganya.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf darimu. Kau tidak pernah semarah ini.” Ucapan Kyuhyun hanya memperburuk keadaan jantung Sungmin. “Maafkan aku. Sungmin-ah,aku sungguh-sungguh minta maaf.”

Dan saat itu pula debaran di dadanya berganti dengan kesedihan yang hangat. Sungmin memejamkan matanya untuk merasakan lebih dalam sensasi itu. Berharap dengan cara ini ia bisa mengerti akan apa yang Kyuhyun rasakan terhadapnya.

Setelah menemukan kembali jiwanya yang menghilang semalaman ini, akhirnya Sungmin memberanikan diri untuk membalas. Jemarinya bergerak menyentuh lengan Kyuhyun di bahunya. Pelan tapi pasti, dari hanya sebuah usapan lembut dan hangat hingga akhirnya tubuh dan hati mereka benar-benar bertemu, berbicara banyak, dan saling meminta maaf. Tanpa kalimat terucap.

Komunikasi yang paling menakjubkan. Dan hanya mereka yang memiliki ketulusan dapat melakukannya.

_SnowFlakesTheSeries_

“Bagaimana keadaanya?”

Kyuhyun dan Sungmin tengah berada di rumah Donghae. Pria itu mengubah lantai dua restoran menjadi tempat tinggal sederhana untuk dirinya dan sang adik. Sedang di bawah untuk usaha rumah makannya.

“Butuh semalaman untuk menghentikan pendarahannya. Tapi beruntung aku masih bisa memberikan dua kantung darah hingga Dongwook tak harus menunggu donatur lain. Dan lagi, ia tak perlu dirawat lebih lama. Aku sudah membawanya pulang. Sekarang sedang tidur di kamarnya.” Mata donghae yang indah kini terlihat sangat lelah.

“Kau pasti sangat lelah hingga menutup toko untuk sementara.” Kyuhyun menatap sedih temannya itu. “Apa ada yang bisa kami lakukan? Kau butuh sesuatu?”

Donghae menggeleng. “Tidak. Terima kasih. Ini bukan yang pertama kalinya. Aku sudah sangat terbiasa dengan ini.” Pria itu beranjak menatap Sungmin, “Sungmin-ah, kau pasti terkejut. Aku minta maaf.” lanjutnya.

“T-tidak. Mm… maksudku, aku memang kaget mengetahu semuanya. Tapi kau tidak perlu minta maaf.” Sungmin melirik Kyuhyun. “Seharian ini seseorang sudah terus melakukan hal itu yang di rumah. Jadi aku sedikit ‘kekenyangan’.”

Donghae menangkap makna lain dari kalimat Sungmin. Ia menatap keduanya dan mengisyaratkan bahwa dirinya paham. Jadi tak perlu lagi melanjutkan pembicaraannya. “Aku sudah melihat keajaiban dari kalian berdua. Dan berharap… semoga semua itu bisa datang pada adikku.”

***

“Kemana orang tua mereka?” Sungmin menatap langit-langit kamar Kyuhyun dari atas tempat tidur. Pikirannya masih tertinggal pada pemuda dengan mata teduh tadi.

“Maksudmu Donghae dan Dongwook? Mereka berdua sama denganku. Ibunya meninggal saat melahirkan Dongwook, dan ayahnya…” Kyuhyun berhenti sejenak untuk menghela napas panjang. “Ayahnya meninggal karena kecelakaan.”

“Kecelakaan? Apa benar-benar parah?” Sungmin beralih menatap Kyuhyun yang duduk di sebelah tempatnya tengah berbaring.

“Jatuh di kamar mandi.”

“Huh?”

Kyuhyun kini balas menatas Sungmin. “Dongwook mewarisi kelainan itu dari sang ayah.”

Sungmin menghela napas. “Donghae benar-benar mengalami kehidupan yang sulit. Aku harus  bersyukur dengan apa yang kumiliki saat ini. Selama ini terlalu banyak mengeluh. Aku sungguh merasa tidak berguna.”

“Sebetulnya aku masih ingin bertanya perihal mengapa kau mengambil jurusan lain di sini setelah orang-orang mengatakan bahwa kau melanjutkan studi di Jepang.”

“Kau mau mendengar ceritanya malam ini juga?”

Pria itu menggeleng, “Tidurlah. Besok kau harus menerima bimbingan pagi-pagi.”

Kyuhyun hendak beranjak untuk meninggalkan Sungmin, namun saat itu ia merasa tubuhnya tertahan. Sungmin mencengkeram kaos tipis yang Kyuhyun kenakan.

“Ada apa?”

Sungmin hanya diam. Ia menatap Kyuhyun takut-takut.

“Hey. Kau kenapa lagi?”

Alih-alih menjawab, Sungmin justru meraih leher Kyuhyun yang saat itu memang tengah merunduk. Wajah mereka sangat dekat. Kemudian… saat tak ada yang meminta ataupun memerintah. Kedua bibir mereka kembali bertemu. Merasakan hangatnya napas masing-masing, perlahan tapi pasti mereka bergerak. Seakan temponya memang sudah diatur sedemikian rupa. Saat yang satu bergerak, yang lainnya akan mengikuti dengan gerakan lain yang sepadan. Hingga invasi mereka bagai tarian dengan jiwa.

Sungmin terkejut ketika Kyuhyun melepas tautan mereka dan beralih pada telinga dan lehernya. Namun seperti memiliki ruang kontrol yang terpisah. Walau berkali-kali kepalanya membisikkan kata ‘jangan’, tapi pada kenyataannya kedua lengan itu justru bertindak sebaliknya.

Saat Sungmin menarik tubuh Kyuhyun agar semakin melekat pada dirinya, saat itulah satu sapuan liar lengan Kyuhyun di tubuhnya semakin membuat pikirannya kacau.

Sungmin membalas. Melihat pundak Kyuhyun yang terbuka karena kaos tipisnya tersingkap. Pemuda itu mendekatkan wajahnya di sana. Berusaha menyesap apa saja dan—

Kyuhyun tiba-tiba mendorong kasar tubuh mereka hingga terlepas. Dan bagai tersadar dari mimpi indah, keduanya sontak bergerak sedikit menjauh. Sungmin menurunkan bajunya yang sudah naik sampai bagian dada, dan Kyuhyun membenahi kerah kaos yang miring. Ia sedikit merasakan perih di bagian itu. Dan pada waktu yang bersamaan Sungmin melihat tanda kebiruan di bagian yang tengah Kyuhyun tutupi. Pemuda itu bahkan yakin dirinya juga memiliki beberapa tanda. Ia benar-benar tak berani menengok cermin saat mandi besok pagi.

“Aku akan mematikan lampu. Tidurlah.” Kyuhyun berucap pelan.

Setelah itulah hanya kegelapan yang setia mendengar suara kekacauan hati dua orang di dalam sana.

_SnowflakestheSeries_

Ini sudah yang kesekian kali Kyuhyun mencoba menghubungi nomor Sungmin. Tapi anak itu tak kunjung mengangkatnya. Bahkan pesan singkat satu jam lalu belum juga mendapat balasan. Terakhir kali Sungmin memperlakukannya seperti ini saat mereka bertengkar. Dan kali ini…

“Apa dia marah karena kejadian semalam?” Kyuhyun bertanya pada dirinya sendiri. Yang semalam itu… mereka hampir saja melakukannya. Entah siapa yang memulai. Namun mengingat bagaimana Sungmin selalu menghindar untuk terlalu sering melakukan kontak fisik,rasanaya tadi malam itu adalah kesalahannya. Kyuhyun meyakini itu. Melakukan hal yang lebih jauh hanya ada dalam otak Kyuhyun. Tidak dengan Sungmin. Dia hanya terlalu mudah terbawa emosi. Semua yang dilakukannya hampir hanya disebabkan oleh perasaan, bukan logika.

Kyuhyun mengacak-acak rambutnya dengan kasar, “Haiissshh! Kau memang brengsek, Cho Kyuhyun!”

***

Sunghee tengah bergelayut manja pada kakaknya yang saat ini hanya membuka-buka halaman internet secara acak. Entah apa yang ia cari. Hanya saja semuanya terlihat membosankan, dan keluar dari dunia maya menurutnya justru semakin membosankan.

Oppa~ kau mau kan? Sabtu malam ini aku akan mengundang teman-teman untuk berpesta piama. Lady’s night. Kau pasti paham, bukan?” Sang adik masih berusaha merayu.

“Kalian hanya bocah ingusan. Tidak pantas disebut ‘lady’.” Sungmin menjawab tanpa menoleh.

Sunghee mencibir kesal. Namun gadis itu punya tujuan, ia tak akan menyerah begitu saja hanya karena perkataan Sungmin. Terkadang dirinya harus berpikir lebih baik menghadapi kakaknya yang bodoh ketimbang serius dan pintar seperti saat ini. Ya. Sindiran Sungmin untuk kata ‘lady’ terlalu cerdas bagi Sunghee. Dan kakaknya yang seperti itu cukup membosankan sekaligus… menakutkan.

“Tapi… kau mau kan mendekorasi ulang kamarku? Hm? Oppa, kau akan sangat tampan jika melakukannya.”

“Aku sudah tampan tanpa harus mendekorasi kamarmu.”

Oppa~

…..

Dan Sungmin melakukannya bukan karena rengekan sang adik. Pikirannya menjadi lebih bersemangat jika melakukan satu-satunya hobi kesayangan. Keesokan harinya Sungmin terlihat sibuk di kamar Sunghee.

“Kau benar-benar tidak ada kegiatan di kampus? Tidak melakukan ini hingga harus bolos kan?” Sang adik masih saja takjub dengan kesungguhan kakaknya walaupun yang ada dalam pikiran gadis itu tidak sepenuhnya benar.

“Aku tidak membolos, Sunghee. Kau harus tahu bahwa kakakmu ini sudah berada di semester akhir dan tidak lagi mengikuti jadwal kuliah.”

Sunghee hanya membuka mulut seperti, “Aaaa~” namun tanpa suara.

“Sungmin-ah! Ada Kyuhyun dibawah.”

“Oh, dia datang. Oppa, biar aku yang menemuinya. Kau berkonsentrasilah membuat kamarku terlihat cantik. Oke?”

Tanpa peduli tamu untuk siapa, Sunghee—sepert biasa—seenaknya saja untuk memerintah.

…..

“Sungmin?” Kyuhyun bertanya setelah bertahan mendengar ocehan Sunghee.

“Aaah, dia sedang di kamarku. Sedang mendekorasi ulang. Aku akan mengadakan pesta dengan teman-teman pada hari sabtu.” Ujar Sunghee ceria.

“Tapi… dia baik-baik saja, kan?”

Sunghee mengerutkan kening bingung, “Aku tak pernah melihatnya tidak baik-baik saja. Kakakku manusia yang sangat sehat. Ada apa memang?”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak. Hanya bertanya karena beberapa hari ini kami tidak sempat bertemu di kampus.”

“Hmm… oppa memang terlihat lelah dengan tugas akhirnya. Tapi aku memberinya tugas yang bisa membuat wajahnya kembali bersinar. Design interior adalah hal terbaik yang selalu dia lakukan, dan aku sangat ingin Sungmin oppa sukses dengan kemampuannya itu di masa depan. Aku ingin sekali melihat wajahnya terpampang di majalah-majalah designer-designer terkenal. Seperti…” Sunghee terlihat berpikir keras. “Ah! Vera Wang. Dia salah satu yang terbaik bukan?”

Kyuhyun tersenyum. “Tapi orang itu designer busana.” Adik Sungmin yang satu ini memang selalu terlihat seenaknya. Tapi hari ini, dia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa darah lebih kental dari air biasa. Sunghee sangat mengagumi dan menyayangi sang kakak. “Sunghee-ah.”

“Hng?”

“Setelah lulus SMA. Bukankah kakakmu langsung pergi ke Jepang untuk sekolah?” Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk mencari tahu dari sang adik.

“Benar. Beasiswa jurusan yang sangat ia inginkan.”

“Lalu kenapa ia kembali bersekolah di sini?”

Sunghee terlihat sedih dengan pertanyaan Kyuhyun, “Saat mengetahui bahwa beasiswa itu hanya berasal dari pendidikan non-formal, appa  menyuruhnya pulang dan belajar untuk mengelola perusahaan. Aku selalu berpikir bahwa Sungmin oppa terlalu memaksakan diri mempelajari sesuatu yang tidak ia inginkan. Dia jadi sering terlihat bodoh. Itu memalukan.”

Kyuhyun tak tahu apalagi yang bisa ia komentari. Sungmin memang masih tetap terlihat bersemangat seperti beberapa tahun silam. Namun agaknya saat ini  tidak dengan isi hatinya. Tiba-tiba ia kembali merasa sangat egois.

“Kalau begitu, aku boleh kan menunggu sampai Sungmin selesai di sini?”

Mata Sunghee langsung berbinar.”Tentu saja! Kau bisa sekalian mengajariku bermain harmonika. Aku ingin memberikan satu pertunjukan hebat saat pesta nanti pada teman-temanku.”

Kyuhyun mengangguk,”Okay.

***

“Ditunda lagi?” Suara sang ayah menggema di ruang keluarga. “Sekarang apa lagi alasannya? Karena tulisanmu kembali ditolak? Atau karena kau sama sekali tidak membuatnya?” Pria paruh baya itu sudah terlihat menahan emosinya besar-besar. Wajahnya memerah bagai berada dalam suhu udara yang tinggi.

“Teoriku tidak terlalu kuat—“

“Jangan main-main lagi, Sungmin! Kau tahu berapa umurmu saat ini? Dan itu akan terus bertambah. Jadi berhentilah untuk main-main dengan gambar-gambar itu. Aku sudah pernah bilang, bukan? Selesaikan sekolahmu kemudian cepat datang ke perusahaan. Aku sudah terlalu tua untuk mengurus semuanya.”

“Tapi kau bilang akan membiarkanku melakukan apa saja setelah ini!” Suara Sungmin ikut meninggi. Dirinya benar-benar tertekan jika sudah begini.

“Aku hanya minta kau bisa menjaga baik warisan kami sampai anak-cucumu nanti. Lakukan apa yang kau inginkan, tapi jangan pernah menyia-nyiakan semua yang sudah kami miliki selama puluhan tahun!”

Semua orang memiliki luka. Bahkan jika dianggap sudah memiliki segalanya.

***

Kyuhyun hampir berteriak saat menemukan seseorang sudah terbaring di atas tempat tidurnya. Namun ketika mengingat siapa lagi yang memiliki kunci duplikat apartemen ini, dirinya kembali tenang. Ia bahkan berusaha tidak membangunkan siapapun di sana yang mungkin tengah bermimpi indah. Ia kesana kemari untuk berbenah dan membersihkan diri tanpa menimbulkan suara terlalu gaduh.

Saat dirinya keluar dari kamar mandi, Kyuhyun melihat Sungmin sudah bangun dan duduk dengan tenang di pinggir kasur. Wajah dan lehernya terlihat mengkilap karena keringat. Tentu saja, seharian ini udara benar-benar sangat panas. Dan Sungmin berada di apartemen yang terlalu murah untuk dipasangkan sebuah pendingin ruangan.

“Kau sudah bangun?” Kyuhyun berjongkok di depan Sungmin.

Pemuda itu mengangguk, “Hm. Jam berapa kau pulang?” Sungmin menatap Kyuhyun dengan mata masih sedikit mengantuk.

“Sekitar… satu setengah jam yang lalu.” Jawab Kyuhyun mengira-ngira.

Sungmin mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh rambut Kyuhyun yang setengah basah. Tidak mengatakan apa-apa, hanya ekspresinya yang mengatakan bahwa ada sesuatu tengah mengganjal pikiran.

“Kupikir kau masih marah padaku karena tidak juga mau mengangkat telepon.” Kyuhyun menggenggam tangan sungmin yang bebas.

Pemuda itu tetap diam dan menikmati mainan barunya—rambut Kyuhyun.

“Kau mau makan apa untuk malam ini? Aku masih punya beberapa ramen dan telur.”

Sungmin menggeleng, “Kau saja yang makan. Aku tidak lapar.” Kemudian beranjak untuk membersihkan diri ke kamar mandi.

Tiba-tiba ponsel Kyuhyun berbunyi.

“Oh, Donghae-ah. Ada apa?”

Kyuhyun begitu serius mendengarkan. Sepertinya memang terjadi sesuatu dengan salah satu teman baiknya itu.

“Tidak. Aku memang baru saja pulang. Tapi jangan khawatir, aku akan segera ke sana.”

Diam lagi untuk mendengarkan.

“Hm. Baiklah. Aku akan ke restoranmu. Berkonsentrasilah pada Dongwook.”

Setelah menutup panggilan tadi, Kyuhyun langsung membuka lemarinya dan memilih satu pakaian yang santai untuk pergi.

“Kau mau pergi?” Sungmin yang sedari tadi hanya mendengarkan akhirnya bersuara.

“Hm. Dongwook kembali masuk rumah sakit. Karena terburu-buru Donghae tak sempat membereskan restauran. Aku akan kesana sebentar mengecek keadaan. Aku tak akan lama. Atau kau mau ikut juga?”

“Tidak.”

Kyuhyun sedikit terkejut dengan jawaban Sungmin yang kaku. Namun ia tidak akan ambil pusing. Pemuda itu baru saja bangun. Kepalanya pasti masih sedikit terasa tidak enak. “Baiklah. Kau di sini saja kalau begitu.”

“Bukankah Donghae punya karyawan? Kenapa ia minta tolong padamu? Apa tanpa sepengetahuanku kau sudah melamar menjadi asisten pribadinya?”

Lawan bicaranya kini mengerutkan kening. Kyuhyun sedikit bingung mengapa Sungmin tiba-tiba bicara seperti itu. Terdengar sangat sinis di telinganya. “Dua orang karyawannya tidak bisa dihubungi. Karena itulah dia minta bantuan padaku.” Kyuhyun mendekat, “Sungmin, apa kau baik-baik saja?”

Sungmin hanya diam. Ia menggenggam kuat handuk kecil di tangannya.

Dengan masih sedikit ragu dan canggung, Kyuhyun mengecup singkat kepala Sungmin. “Aku tak akan lama. Setelah mandi, istrahatlah lagi.”

Tapi baru saja Kyuhyun akan pergi, Sungmin terlihat tak mau melepaskan tautan tangan mereka. Hal itu semakin membuat Kyuhyun tak mengerti.

“Sungmin-ah, Donghae sedang membutuhkanku.”

Namun genggaman Sungmin semakin kuat.

“Aku… aku juga membutuhkanmu.” Suara Sungmin terdengar gemetar.

“Sungmin—“

“Apa kau tidak dengar?! Kubilang aku juga membutuhkanmu!!” Sungmin mulai menangis. Perlahan ia mendekat dan menggunakan bahu Kyuhyun untuk menutupi wajahnya yang sudah entah bagaimana lagi rupanya.

Sementara Kyuhyun masih sangat bingung dan bercampur panik karena tiba-tiba Sungmin seperti ini, pemuda itu justru tak mau berhenti hanya untuk sekedar bercerita ada apa.

“Jangan pergi ke sana. Aku tak ingin sendirian di sini.” Ucapnya di tengah isakan. Hingga mau tak mau Kyuhyun membiarkannya seperti itu. membiarkan baju bersih yang baru saja ia pakai basah oleh semua cairan hangat dari kedua mata Sungmin. Tak mengatakan apapun. Hanya balas memeluknya berharap itu semua bisa segera menenangkan.

***

Mianhae, Donghae-ah. Sungmin ada di apartemenku, dan aku baru tahu kalau dia sedang tidak enak badan. Aku tak bisa meninggalkannya.”

“Tak apa. Lagipula aku sudah berhasil menghubungi salah satu karyawan. Dia sudah membereskan semua hal di restoran.” Suara di sana menjawab dengan tenang. “Bagaimana dengan keadaanya sekarang?”

Kyuhyun tahu siapa yang Donghae tanyakan. “Dia baik. Sekali lagi aku minta maaf.”

Pemuda itu mengakhiri pembicaraan tepat saat Sungmin keluar dari membersihkan diri. “Sudah agak baikan? Apa kau mau aku membuatkan sesuatu yang manis?”

Sungmin menggeleng. Ia duduk di meja belajar dan menatap nanar layar laptop-nya yang dibiarkan tetap menyala sejak beberapa jam lalu. “Rancanganku ditolak lagi. Dan waktu seminar diundur sampai aku benar-benar memperbaiki semuanya. Professor Kim hanya memberikanku satu kesempatan lagi. Jika masih gagal, aku akan mengulang dan mencari penggantinya.”

Kyuhyun menarik satu lagi kursi dan duduk di sebelah Sungmin. Tangannya terulur mengusap kepala pemuda di hadapannya. “Masih banyak waktu. Aku akan membantumu untuk bisa lolos kali ini. Dan jika tidak bisa juga… kau bisa mendapatkannya dengan pembimbing lain. Masih banyak yang akan menghargai usahamu mempersiapkan semua ini.”

“Apa kau tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk pengajuan pembimbing baru?” Sungmin menatap Kyuhyun dan hanya dibalas dengan gelengan kepala. “Tiga bulan. Dan tiga bulan lanjutan untuk mempersiapkan materi baru. Setengah tahun hanya untuk melakukan penjajakan.”

“Kau harus lebih bersabar.”

“Tapi ayahku tidak bisa bersabar. Menunggu satu tahun lagi untuk menarikku menjadi seorang penerus utama perusahaan adalah neraka baginya. Dan jika tetap kulakukan, aku adalah anak yang paling mengecewakan baginya.”

Kyuhyun kembali teringat obrolannya dengan Lee Sunghee mengenai bagaimana ayah Sungmin menarik pemuda ini dari sesuatu yang sudah menjadi mimpinya sejak dulu. “Apa yang bisa kulakukan untukmu, Sungmin? Katakan apa saja yang bisa membuatmu tidak seperti ini.”

Sungmin mengambil sebuah pelukan dari Kyuhyun untuk dirinya. “Aku memikirkan hal gila yang mungkin bisa membuatku melupakan semua ini walau hanya satu malam.”

Kyuhyun diam saja. Membiarkan Sungmin mengambil hak penuh akan dirinya. Tapi kenyamanan itu tak berlangsung lama. Dadanya berdetak sangat cepat ketika ia merasakan leher dan pundaknya basah oleh sesuatu.

Sungmin tengah mencumbunya. Tidak salah lagi.

Tubuhnya seolah tak mampu bergerak sampai akhirnya bibir Sungmin tiba pada miliknya yang tebal. Bagai memiliki respon otomatis, Kyuhyun dengan cepat bergerak mengimbangi permainan lidah Sungmin yang sudah hampir membuatnya gila. Hangat itu kian membara di bawah kulit mereka. Menimbulkan sensasi-sensasi yang tak kunjung bisa didefinisikan dalam kalimat fana.

Entah bagaimana caranya mereka sudah hampir saling memiliki di atas ranjang. Membiarkan masing-masing memperkenalkan diri pada setiap jengkal tubuh yang hampir polos.

“Hhhh… Sungmin… kau sungguh tak akan menyesal jika melakukan semua ini? Kyuhyun bicara di sela-sela napas memburu yang tak pernah bisa ia kendalikan semenjak tadi.

Bukannya menjawab, Sungmin justru kembali mendekatkan wajah mereka, dan mendesah indah di bawah semua kenikmatan terlarang ini. Hanya tinggal satu ‘hal’, hingga mereka benar-benar menjadi pemilik seutuhnya akan raga masing-masing orang.

“Aahhh! Kyuhyun!” Sungmin berteriak ketika pada akhirnya pertahanan itu terbelah. Menampilkan semua tak kasat mata yang disembunyikan sangat rapat. Bahkan yang Sungmin lupa dimana ia sudah menyembunyikannya. Kyuhyun sudah melihat semua. Pemuda itu sudah memiliki Sungmin seutuhnya.

“Sungmin. Apa yang bisa membuatmu bahagia?”

“Hm… sesuatu yang manis.”

“Aku akan membawakan sebanyak mungkin padamu kalau begitu. Jadi berjanjilah akan selalu bahagia bersamaku.”

“Berjanjilah kau juga akan membuatku selalu bahagia. My sweetest thing.”

Snowflakes Part 5 End

A Little Footnote:

*Hemofolia : Penyakit atau kelainan turunan yang membuat penderita tidak memiliki kemampuan pembekuan darah seperti manusia normal. Pendarahan sekecil apapun kemungkinan besar dapat membuat keadaan penderita sama dengan orang-orang yang kehilangan banyak darah akibat kecelakaan hebat, terlebih jika tidak ditangani dengan baik.

Advertisements

3 thoughts on “Snowflakes #5

  1. orange girls says:

    kyu kenapa marah terus sih ama min? min kan ga tw apa2… tp suka deh ama kyu yang dengan beraninya datang ke rumah min dan mengakui kesalahannya trus minta maaf dan pada akhirnya min akan selalu memaafkankyu dan keduanya kembali bersama hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s