Snowflakes #6

tumblr_n2yzvi9snc1tu4qnqo1_1280 copy

Perjalanan yang masih sangat panjang bagi mereka. Sepanjang waktu keduanya untuk menunggu akan datangnya musim dingin lagi dan lagi. Musim dimana Kyuhyun mendapati butiran salju tidak akan mencair dalam genggamannya.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Sungmin berjalan gontai menelusuri lorong kampus yang masih sangat sepi. Jangan tanya untuk apa dirinya berada di sana sepagi itu. Karena Sungmin pun tak akan pernah mau menjawab—jangankan menjawab, memikirkan pun rasanya tidak bisa. Pakaiannya praktis masih seperti kemarin, jika saja dia adalah mahasiswa populer nantinya akan ada banyak yang  menyadari bagaimana penampilannya hari ini.

Beruntung Sungmin bukan bagian dari golongan ‘penghuni’ yang seperti disebutkan tadi.

Bagaimana ini?

Bagaimana ini?

Apa yang harus kulakukan setelah ini?

Terus saja kalimat-kalimat itu diucapkan dalam hati bagai doa, atau mungkin mantra. Apa yang dilakukannya tadi malam dengan Kyuhyun bukan sekedar laki-laki yang mengalami mimpi basah. Kyuhyun nyata. Dirinya pun nyata. Mereka bergelut dengan cara yang sungguh—mungkin akan dikatakan intim dan romantis bagi pasangan normal—sungguh tidak bisa dijabarkan. Dan itu adalah malam pertamanya. Sungmin tak tahu apakah harus merasa beruntung atau malu jika sudah melakukan semuanya dengan seorang yang juga laki-laki.

Bukankah dirinya sudah tak bisa lagi mundur?

Kyuhyun bukan hanya mengisi jiwanya, tapi raga mereka sudah sama dengan satu. Setidaknya itulah yang dilakukan mereka berdua semalaman.

“Aahh, semalam itu—“ Sungmin tak bisa melanjutkan gerutuannya sendiri. Frustasi tak kunjung menemukan tempat untuk sekedar berdiam diri, ia pun akhirnya memilih tumpukan kardus yang penuh dengan kertas dan file bekas untuk duduk. Perutnya lapar karena memang tidak diisi semalaman, dan pagi ini pun harus melewatkannya.

Sempat berpikir untuk pulang. Namun tak sanggup jika harus menjawab semua pertanyaan yang akan timbul dari orang rumah. Jadi pada akhirnya Sungmin merebahkan diri seadanya dan melanjutkan tidur.

………………………

Kyuhyun hanya duduk bersandar pada ranjangnya dalam diam. Pagi-pagi sekali, tanpa sedikitpun usaha untuk membangunkannya, Sungmin sudah keluar. Tak ada pesan ataupun catatan kecil yang biasa ditempelkan di kening Kyuhyun.

Aku sudah melakukannya. Kami sudah melakukannya.

Beberapa kali kedua bola mata itu melirik ponsel. Hanya perkara mudah untuk segera mengambilnya, menekan layar sentuh untuk melakukan panggilan, dan menuntaskan kekhawatirannya dengan berkata “Kau dimana?”.

Hanya sebuah perkara mudah. Tapi tidak bagi Kyuhyun pagi ini. Sungmin tak pernah membuat hidupnya mudah.

Tapi mengapa kau masih mencintainya, bodoh?

Ya. Aku bahkan semakin tak ingin kehilangan dirinya.

_SnowflakesTheSeries_

“Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya? Aku hampir saja memanggil petugas karena kupikir ada gelandangan menyelinap ke dalam gedung kampus.” Yunho meletakkan sebuah roti dan kotak susu ukuran sedang di atas meja. “Tidak ada menu lain. Penjaga kantin semakin malas saja akhir-akhir ini.” Ujarnya sambil juga membuka plastik roti.

Sungmin mengangguk. Dengan tak sabar ia merobek bungkus makanan dan menancapkan sedotan pada minumannya. “Ini saja juga cukup. Aku hanya ingin mengganjal perut. Lapar sekali.”

Yunho meringis meliat cara Sungmin menghabiskan sarapannya. “Aku betul-betul seperti sedang memberi makan gelandangan.”

“Apa?” Sungmin tidak mendengar apa yang rekannya ucapkan tadi.

“Tidak ada. Habiskan saja makananmu.” Yunho akhirnya menyerah dan memilih tak akan mengorek apapun lagi pada Sungmin. “Aku mau ke perpustakaan nanti. Kau masih ada kelas yang harus diikuti?”

Pemuda itu menggeleng, “Aku hanya ke kampus. Ya. Mungkin nanti akan ikut kau sebentar mencari beberapa buku. Tapi tidak lama. Aku tidak akan betah.”

Yunho hanya menggeleng sambil tersenyum maklum. Tempat itu—perpustakaan—memang bukan tempat yang cocok untuk orang seperti Sungmin. Dan hanya ingin menegaskan kepeduliannya saat Sungmin tengah ada masalah adalah hal yang sulit karena orang itu tak akan paham dengan kiasan. Yunho yakin temannya ini sedang memiliki masalah yang berkaitan dengan Kyuhyun.

Sungmin bahkan tidak berusaha menutupi kissmark di lehernya. Yunho berujar dalam hati sambil sedikit bergidik. Sepulang kuliah ia berniat akan mengunjungi gereja nanti.

***

Kyuhyun masih seperti orang linglung di dalam kelasnya. Suara lantang untuk dosen mata kuliah siang ini hanya seperti menabrak keningnya dan kemudian hancur begitu saja. Tak sedikitpun terserap. Dia pasti bertemu dengan Sungmin sore ini. Kemudian apa masalahnya? Harusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan. Tapi… terus saja ada kalimat ‘aku takut’ menari tidak sopan di dalam kepala.

Kyuhyun takut jika Sungmin kembali merasa kecewa. Yang seharusnya bukan perasaan hampa ketika ia membuka mata pagi tadi. Yang seharusnya wajah damai Sungmin menyapa dalam pandangan pertama tadi pagi. Yang seharusnya bau romansa tercium ketika napas pertama dalam sadar ia hirup tadi pagi.

Namun ia pun tak sanggup kecewa pada Sungmin. Kyuhyun terlalu memujanya.

“Tuan Cho Kyuhyun!”

Satu teriakan tidak hanya merenggut perhatian Kyuhyun untuk ditaruh pada satu sosok tua dan berkacamata tebal, namun seisi ruangan mulai memperlakukannya sebagai terdakwa ‘sementara’.

“Ne?” Jawaban pelan namun sampai pada setiap telinga karena hening.

“Jiwamu menunggu di luar. Aku tidak ingin ada mayat hidup mengikuti kuliahku.” Lantang dan siapapun pasti tak akan berani membalas. Namun Kyuhyun sudah pernah mendapatkan perlakuan yang lebih memalukan lagi dibanding ini. Jadi dengan lemah ia mengemasi buku catatan dan beranjak pergi meninggalkan ruang kelas dengan diikuti pandangan-pandangan mulai dari takut, simpati, ataupun tidak peduli.

Kejadian pengusiran itu tak langsung diambil hati. Kyuhyun masih memenuhi kepalanya dengan Sungmin, Sungmin, dan Lee Sungmin.

Dan hanya bersisa sepuluh menit sebelum kelas berakhir. Yang artinya mereka berdua harus bertemu.

***

“Kemarikan kipasnya.” Kyuhyun berusaha mengambil alih kegiatan Sungmin yang saat ini sibuk mengayunkan selembar mika plastik bertangkai untuk efek angin di bagian wajah, lengan, dan bagian tubuhnya yang berkeringat. Ini sudah hampir pukul lima sore, namun matahari seakan masih seterik siang tadi.

“Tak apa. Aku bisa sendiri.” Penolakan Sungmin tak urung membuat Kyuhyun menyerah. Titik-titik air juga sudah mulai tampak di kening yang tertutup sebagian poninya. Namun ia justru lebih tersiksa melihat Sungmin yang wajah dan kulitnya sudah benar-benar memerah.

Lama keduanya hanya sibuk pada kegiatan masing-masing—Sungmin berkipas-kipas dan Kyuhyun yang mengawasi Sungmin berkipas-kipas.

“Sungmin-ah…”

“…”

“…apa kau… menyesal?” Kyuhyun betul-betul tak mampu mencari kalimat yang lebih baik dari ini.

Sungmin masih diam, pria di sampingnya dapat merasakan kibasan kipas yang Sungmin gerakan kini lebih kencang. Sungmin gugup.

“Aku tidak tahu bagaimana… bagaimana caranya untuk membuatmu bahagia setiap harinya.”

Efek anginnya mulai melemah.

“Kau harus tahu. Apapun… apa saja yang kau inginkan. Akan kulakukan.”

Anginnya berhenti.

“Jadi beritahu aku jika memang ada yang salah. Akan kuperbaiki.”

Kesunyian kembali menyelimuti dua insan tersebut. Hingga pada detik berikutnya Kyuhyun merampas kipas manual yang tak lagi digunakan dari tangan Sungmin. Segera saja ia memakai benda tadi untuk dirinya sendiri. Kyuhyun juga gugup.

“Bagaimana jika suatu saat aku menyuruhmu untuk pergi lagi?”

Kyuhyun menoleh dan bersiap menjawab. Tapi Sungmin kembali berujar “Sedangkan saat kau pergi aku tak akan lagi merasa bahagia.” Ia menggenggam tangan Kyuhyun yang sudah tak lagi menunjukkan tanda akan membalas perkataan apapun. Kemudian menaruh tautan tersebut di belakang tubuh mereka agar tak terlihat oleh siapapun yang lalu lalang di pelatarn kampus. Walaupun sepintas hanya satu dua orang yang masih tersisa, tentu saja mereka tak akan ambil resiko.

Sungmin kembali merebut kipasnya dan mengibaskan dengan adil pada wajah mereka berdua. “Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya menahan diri untuk tidak membuatmu khawatir. ‘Pasangan’ macam apa aku ini?” pemuda itu terkekeh saat harus menyindir diri sendiri. “Maafkan aku, Kyuhyun.”

Kyuhyun pun mau tak mau jadi tersenyum mendengar penuturan Sungmin. Meski tidak terdengar imut bagai keluar dari mulut wanita, namun kalimat Sungmin adalah obat terbaiknya untuk kemelut seharian ini.

“Aku tidak tahu jika melihatmu tersenyum adalah hal terbaik untuk hari ini.” Sungmin mengusap sedikit keringat yang jatuh di sela-sela rambut Kyuhyun. “Tidak apa-apa, Kyuhyun. Aku sudah menyerah untuk melawanmu dan perasaan ini. Kau tahu? Jika mengingat bagaimana aku pernah mengatakan padamu bahwa kau ‘menjijikan’, rasanya ingin sekali memotong lidah ini. Tapi itu pasti sakit, kan? Dan bagaimana caranya nanti bisa bertengkar denganmu jika tidak punya lidah?”

Kyuhyun menyentil pelan hidung Sungmin, “Bicara seenaknya. Potong lidah itu sakit.”

“Tadi aku sudah bilang.”

“Benarkah? Aku tidak dengar.”

“Cho Kyuhyun ahjussi sudah mulai tua~”

Mereka tertawa bersama. Matahari sudah tidak lagi nampak terik karena semburat senja sudah mulai mewarnai permukan apapun yang ada di muka bumi. Tak terkecuali wajah mereka berdua.

_SnowFlakesTheSeries_

“Kau sudah terlalu jarang di rumah, Sungmin. Apa tidak merindukan eomma?”

“Aku tidak kemana-mana. Kau bisa mencariku di rumah Kyuhyun. Aku butuh menghindari suamimu sementara ini agar bisa berkonsentrasi.”

“Dia ayahmu, Sungmin. Jangan bicara seperti itu. Kau membuatku sedih.”

“Tidurlah, eomma. Sudah malam.”

“Hm. Jaga dirimu baik-baik, sayang. Aku mencintaimu.”

Sungmin mengangguk, “Aku juga. Selamat malam.”

Kyuhyun muncul di belakang Sungmin yang tengah menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas. “Ibumu?” tanyanya sembari menyerahkan satu stel baju bersih.

“Katanya dia merindukanku.” Sungmin masih tersenyum, namun Kyuhyun jelas melihat beban yang berat di sana.

“Kau menggunakan rumahku untuk lari. Apa tidak apa-apa? Aku takut ayahmu akan tiba-tiba muncul dan menyeretmu pulang. Dan dia membawa tukang pukul untukku juga.”

Melihat Kyuhyun yang berucap tanpa ekspresi membuat Sungmin sekejap terdiam.

“Ada apa?”

“Cho Kyuhyun.” Sungmin menarik napas dalam-dalam. “Mulai hari ini aku akan menyeleksi film-film yang kau tonton. Tahu tidak? Imajinasimu yang barusan itu norak.”

Kyuhyun hanya memamerkan deretan giginya. “Aku hanya ingin membuatmu tertawa.”

Mission failed.

“Nanti akan kucoba lagi.” Ujar Kyuhyun lemah.

Setelah mengganti baju dan terlihat santai, keduanya mulai sibuk dengan pekejaan rumah masing-masing. Kyuhyun tersenyum ketika melihat Sungmin yang kelihatannya menyukai meja belajar yang ia beli dari salah satu tetangganya. Sangat jelas karena pemuda itu langsung menata apapun yang dibawanya. Sebuah netbook, kertas-kertas post-it, bolpoin, buku-buku pinjaman dari perpustakaan dan sebuah pajangan berbentuk gelas wine yang ia duga digunakan Sungmin sebagai tempat menaruh penjepit-penjepit kertas kecil.

Ketika dirinya menyapu seluruh ruangan, matanya terpaku pada ranjang kecil di sana. Dan saat pikiran untuk menggantinya dengan yang lebih besar, seketika itu juga ia menampar wajah sendiri.

“Aaa… appo..

“Kau ini sedang apa?” Sungmin menoleh dan mendapati Kyuhyun yang tengah mengusap-usap pipinya sambil meringis.

Kyuhyun hanya menggeleng dan membiarkan bagian wajahnya yang memerah begitu saja tanpa dibelai. “Kau butuh bantuan?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Sungmin diam sebentar sampai akhirnya ia mengangguk ragu, “Sebenarnya ya. Karena selalu ditolak, aku jadi tak punya kepercayaan diri lagi untuk merancang bahan presentasi. Kau sedang banyak tugas?”

Kyuhyun langsung menarik kursi untuk lebih dekat. “Tugas akan selalu ada, tapi tidak banyak. Kau harus didahulukan.”

Walau Kyuhyun sama sekali tidak bermaksud melucu, namun tetap saja Sungmin terkekeh. “Manisnya~” ujar Sungmin dengan suara yang dibuat-buat.

Mereka bahagia karena bisa saling mengisi, walaupun rasa itu tidak atau mungkin memang belum sepenuhnya, tapi setiap kalimat yang keluar, dan semua perlakuan akan menjadi hal paling berharga yang akan mereka lalui mulai saat ini.

Bersiap untuk sesuatu yang lebih besar adalah keharusan.

***

Hari ini hanya punya jadwal satu mata kuliah, dan Kyuhyun memanfaatkannya untuk kembali membantu Sungmin melakukan recording semua persiapan sebelum berhadapan kembali dengan dosen pembimbingnya.

“Apa semua harus direkam? Aku tidak ingin mendengarnya lagi nanti.” Sungmin berujar cemas. Ia sama sekali tak ingin mendengar bagaimana suara bodohnya saat melakukan latihan tadi.

“Tentu. Jadi kita akan tahu di bagian mana kemungkinan besar nanti kau akan melakukan kesalahan.” Kyuhyun masih sibuk mendengarkan rekaman suara Sungmin.

“Kupikir ini berlebihan.” Sungmin mencoba menutupi rasa jengahnya dengan menyeruput soda dingin. Tenggorokannya menyapa dengan baik reaksi gelembung-gelembung kejut dari cairan tersebut. Ia sangat haus tanpa alasan yang jelas.

“Ini.” Kyuhyun menyerahkan selembar kertas yang sudah penuh dengan catatan dari tangannya. “Aku sudah merangkum semuanya. Kau sudah membuktikan sendiri bagaimana pembimbingmu tidak lagi meminta revisi dengan metode yang kuberikan, bukan? Jadi, apa sekarang kau masih belum mempercayaiku?” Kyuhyun menatap Sungmin dengan lembut.

Yang ditatap menunduk dan memilih memutar-mutar kaleng minuman di tangan. “Hm.” Sungmin mengangguk. Tapi kemudian menggeleng. “Aku masih tidak percaya diri.”

“Aku memperkirakan dua minggu, dan kau ternyata justru dapat dua hari. Pikirkan kemajuan pesat ini Sungmin. Kurasa pembimbing itu hanya menguji mentalmu waktu itu. Dan kau hampir kalah.”

Sungmin tersenyum kemudian. “Untungnya aku memilikimu, Kyuhyun.”

Sungmin tidak akan pernah tahu bagaimana buncahan kebahagiaan Kyuhyun saat ini sudah ada dalam status siaga. ‘Aku memilikimu, Kyuhyun’ langsung ia simpan dalam memori terdalamnya, ditempatkan dalam kotak bertahta permata dan ruangan yang terang benderang tanpa sedikitpun warna hitam walaupun itu hanya bayangannya sendiri.

“Kyuhyun?”

“Huh?”

“Kau tiba-tiba diam. Ada apa?”

“Aku sudah berapa kali mengatakan hal ini padamu?”

Ganti Sungmin yang bingung, “Perkataan apa?”

“Aku mencintaimu.”

_SnowFlakesTheSeries_

Kyuhyun’s

Perlahan tapi pasti. Aku melihatnya melangkah begitu percaya diri. Aku sudah tak mampu lagi mengukur seberapa besar rasa cinta ini. Senyumnya adalah duniaku. Tangisnya adalah tempat tergelapku. Aku tak akan mundur, namun aku juga tak akan memaksa. Aku bahagia berada di tempatku saat ini. Dan menjadi alasannya untuk kembali melawan dunia adalah suatu kehormatan yang akan lebih berharga dari tropi sebesar apapun.

“Bagaimana kau akan menjelaskan ini Sungmin-ssi?”

Aku mempererat tautan jemari. Sampai kebas rasanya. Penguji Sungmin kali ini memang bukan main-main. Ia tahu siapa pria berjanggut itu dan bagaimana sepak terjangnya menorehkan sejarah bully bagi tiap mahasiswa yang ‘beruntung’. Lihat saja? Isi makalah Sungmin adalah hanya seputar kontroversi teori ekonomi pertumbuhan dan perkembangan. Namun pria tua itu justru langsung mengujaninya dengan kontroversi perihal teori filsafat yang berkembang secara empirisme mengenai bagaimana hukum menggunakan aliran positif untuk memandang pelaku bisnis.

“Mengaranglah, Sungmin. Si tua itu hanya menguji fokusmu.” Rasanya seperti ingin sekali langsung berlari dan berdiri di sampingnya. Tapi jika kulakukan, aku akan dianggap gila.

Kulihat Sungmin yang tanpa ekspresi—semakin membuat cemas. Lengannya bergerak untuk mengendurkan simpul dasi hingga satu kancing kemeja teratas bisa ia lepas. Apa yang ada di dalam pikirannya sekarang? Ya Tuhan. Aku sangat frustasi. Sesi final ‘penggodokan’ mahasiswa di kampus ini memang tidak main-main. Hanya lima menit sampai semuanya berakhir. Dan lima menit itu bagaikan lima jam.

“Anda bertanya seperti itu dan berharap aku memiliki jawaban yang akan memojokkan pelaku bisnis?”

Hah? Apa yang kau katakan, Sungmin?

“Ayahku pelaku bisnis. Dan akan selalu ada pembenaran dalam setiap tindakannya.”

Aku sudah ingin pingsan rasanya karena lemas.

***

“Aliran positif.”

Semua orang yang hadir dalam seminar pengujian kali ini betul-betul diam. Rasanya seperti semua orang menahan napas. Sungmin sudah terlanjur membuat dirinya berada dalam satu-satunya fokus seisi ruangan.

“Silahkan jelaskan dalam satu kalimat saja.”

Kyuhyun tak perecaya bahwa dosen tua itu tersenyum.

“Hanya sebuah landasan dengan alasan bahwa pelaku kejahatan bisnis adalah orang yang sakit sehingga membutuhkan tindakan perawatan dan rehabilitasi.”

“Kau siap dengan itu semua?”

“Aku hanya perlu menjaga ‘kesehatan’ untuk tidak perlu mendapatkan perawatan dan rehabilitasi itu.”

Waktu habis. Dan semua orang bertepuk tangan untuk memberikan apresiasi. Yunho dengan wajah tak percaya, dan Kyuhyun bahkan sampai berdiri.

_SnowFlakesTheSeries_

“Sebelumnya aku ragu bahwa Sungmin benar-benar memintamu membantunya belajar. Kupikir anak itu hanya ingin melarikan diri dari rumah. Oh, jangan tersinggung, Kyuhyun. Banyak remaja yang melakukan itu bukan untuk melawan orang tuanya?”

Kyuhyun tersenyum mendengar alasan ayah Sungmin. Secara mendadak pria itu menghubungi dan mengajaknya bicara tanpa sepengetahuan Sungmin. Ia hanya ingin berterima kasih dengan benar pada anak muda dihadapannya.

“Anda yang paling tahu bagaimana Sungmin. Dia bukan orang seperti itu.” jawab Kyuhyun penuh hormat. “Sungmin tak akan berusaha sekeras itu jika ia tak ingin membuat orang tuanya bangga.”

Tuan Lee mengangguk. Masih ada sisa-sisa senyum kebanggaan di bibirnya. “Aku akan terus mengingatnya. Anak-anakku tak akan mengecewakanku.”

Ada ‘sentilan’ kecil di hati Kyuhyun. Namun ia tak mau menggubris, hanya tersenyum dan berbahagia atas kelulusan Sungmin.

“Bagaimana denganmu, Kyuhyun? Mayor apa yang kau geluti?”

Kyuhyun sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan itu. “Ne? Ah, aku tengah berkonsentrasi pada sistematika bisnis terapan.” Jawabnya dengan ragu.

“Hm. Konsultan? Kau sudah mempraktekkannya pada Sungmin kurasa.” Ayah Sungmin terkekeh dengan—yang dianggap—leluconnya sendiri. “Berapa lama lagi? Bukankah kalian ada ditahun yang sama?”

Kyuhyun menggeleng, “Aku sempat cuti. Ini tahun terakhir jika tidak ada masalah pada pengajuan proposal dini yang tengah kugarap.”

“Wow, kau mencuri garis start kurasa.”

“Aku dibiayai negara. Tidak bisa berlama-lama.” Kyuhyun membalas gurauan pria paruh baya itu dengan senyum usil.

“Kau bisa membantu Sungmin di perusahaan itu kelak.”

Kyuhyun terbelalak. Apa arti dari perkataan ayah Sungmin barusan? Dapatkah ia menyebut itu sebagai tawaran berkarir yang terlalu dini. Lidahnya kelu. Entah apa yang harus dia ucapkan.

Tuan Lee justru tersenyum penuh arti, “Kau pasti mempelajarinya. Seorang pelaku bisnis harus memiliki orang-orang yang bisa dipercayai. Bahkan kadang semua harus melewati batas privasinya. Dengan kata lain, aku bisa membaca persahabatan kalian sebagai sesuatu yang baik. Tapi… itu semua bukan paksaan. Aku hanya berandai. Dan rasanya aku bisa sangat senang jika bisa menjadi kenyataan.”

“Aku tak tahu bagaimana mengucapkan rasa terima kasih dengan pantas padamu, Tuan.”

“Yah, jangan panggil aku begitu. Memangnya kau pelayan? Kau bisa panggil aku paman.”

Ne…” Kyuhyun begitu bahagia bisa sedekat ini dengan ayah Sungmin. Sebelumnya ia tak pernah berpikir bahwa pria ini akan menyukainya.

“Dan kuharap kau bisa menjadi menantuku kelak.” Lelaki itu terkekeh lagi.

Deg!

“Sunghee akan kudidik agar menjadi wanita anggun yang bisa menarik perhatianmu nanti.”

Kyuhyun sudah tak bisa lagi berkonsentrasi dengan gelak tawa pria di hadapannya itu. Walaupun hanya bercanda, tetap saja membutnya panik. Mulutnya memang ikut terkekeh, namun tidak dengan hatinya.

Apa yang akan terjadi pada kami nanti?

Ia betul-betul mengutuk diri atas semua perasaan tak pantas yang tumbuh untuk seorang Lee Sungmin.

_SnowFlakesTheSeries_

“Bagaimana rasanya jadi sarjana?”

“Bagaimana rasanya punya kekasih yang sudah sarjana?”

Kyuhyun mendongak. Meninggalkan kegiatannya pada buku catatan untuk menatap Sungmin yang memang juga menatapnya.

“Kau menyebut kata ‘kekasih’ tanpa beban. Tidak seperti biasanya.” Kyuhyun masih memandang Sungmin penuh keraguan. Pikirnya sangat konyol jika menganggap Sungmin sedang mabuk. Mabuk? Di siang bolong begini?

Sungmin tersenyum menampakkan deretan giginya yang rapi dan unik. Ia menoleh ke segala arah sebentar. Kemudian setelah yakin tak ada yang akan memperhatikan mereka, jemarinya menggenggam lengan Kyuhyun. “Aku sedang bahagia. Tak bisakah kau hanya memperhatikanku saja? Hm.. ya… jika catatanmu tidak begitu penting. Aku tak memaksa.”

Namun Kyuhyun yakin sorot mata Sungmin adalah bentuk permohonan yang belebihan. “Kau harus lihat wajahmu sekarang. Bisa-bisanya mengatakan ‘tidak memaksa’.” Lengannya yang bebas lagi-lagi menyentil pelan hidung Sungmin. Hal yang mulai menjadi kebiasaan Kyuhyun.

Mereka berdua tertawa pelan. Suasana kedai yang tidak begitu ramai membuat sejuk atmosfir di antara Kyuhyun dan Sungmin.

“Setelah kau lulus, aku juga ingin mengajakmu untuk bergabung di perusahaan. Aku akan mengatakan hal ini pada ayah. Jadi kau tidak akan jauh-jauh dariku. Bagaimana? Kau senang tidak dengan rencana itu?”

‘Ayahmu sudah lebih dulu menawarkannya.’

“Apa akan baik jika seperti itu? aku jadi seperti parasit yang selalu mencari keuntungan dari keluargamu.” Kyuhyun membalas genggaman tangan Sungmin hingga keduanya sudah bertaut erat seperti tak akan terpisahkan. Tak lupa ia menggeser wadah ramen yang sudah kosong untuk sedikit menyamarkan kegiatan itu—berusaha menutupi dari pandangan yang sangat jelas dari pengunjung lain.

 “Bodoh. Ayahku akan sangat senang jika punya calon leader sepertimu di perusahaannya.”

Leader?

Sungmin mengangguk. “Kau akan jadi orang yang paling kupercayai nantinya.”

Kyuhyun mengingat kembali pembicaraan rahasianya bersama ayah Sungmin tentang ‘orang kepercayaan’. Ia betul-betul bersumpah tak akan pernah berkhianat jika memang dirinya kelak akan menyandang status seperti itu bersama Sungmin. Sejak awal, Kyuhyun memang ada untuk Sungmin.

“Aku punya impian sendiri. Tapi rasanya akan sangat luar biasa jika aku bisa meraihnya bersamamu. Apa itu mungkin, Sungmin? Kau juga memiliki masa depan.”

***

Pembicaraan mereka terhenti begitu saja ketika membahas masa depan. Baik Sungmin ataupun Kyuhyun tak lagi yakin dengan masa depan yang akan mereka hadapi jika membiarkan semua perasaan yang menuntun mereka. Tapi bukankah hidup dengan jujur akan lebih dipandang beradab?

Tapi, bahkan keduanya tak tahu apakah yang tengah mereka jalani adalah perilaku yang memiliki adab?

“Kyuhyun-ah, apa kau akan meninggalkanku nantinya?”

Sungmin terbaring miring di atas ranjang Kyuhyun dan menghadap dinding kamar. Telunjuknya bergerak-gerak seperti tengah menuliskan sebaris kalimat imajiner di permukaan tersebut. Sedang di balik punggungnya, Kyuhyun duduk membelakangi.

“Apa suatu saat kau akan menyuruhku untuk pergi?” pertanyaan yang sama suramnya dengan lampu kamar sewaan. Redup.

“Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan itu?” Sungmin masih menggerakkan jarinya tak tentu arah.

“Aku juga tidak tahu bagaimana.”

Beberapa menit mereka lalui dengan diam. Hening. Hingga pada titik hanya suara detak jarum jam yang terdengar.

“Kau tahu? Beberapa hari yang lalu, ayahmu datang ke kampus, dan kami berbincang panjang lebar.”

Gerakan tangan Sungmin berhenti.

“Dia sangat bangga padamu. Dia percaya bahwa anak-anaknya tidak akan pernah mengecewakan. Rasanya begitu iri melihatmu masih memiliki orang tua yang akan mengucapkan pujian pada anaknya.”

Ada satu ketukan ringan dalam dadanya. Tidak menyakitkan, namun entah mengapa Sungmin merasa sangat tidak nyaman. Ia masih diam mendengarkan.

Kyuhyun terkekeh, “Dan perihal orang kepercayaan yang tadi kita bicarakan. Kau pasti tidak percaya bahwa ayahmu juga sudah lebih dulu mengajukan ‘proposal’nya padaku. Aku seperti memenangkan undian berhadiah. Di saat banyak teman-temanku di kelas yang khawatir tentang apa yang akan mereka lakukan setelah lulus, aku bahkan sudah tahu harus kemana.”

Bibirnya tersenyum getir. Sungmin harus melihat ini. Atau mungkin—jangan.

“Ada lagi yang lebih mengejutkan. Ayahmu bergurau tentang ingin aku jadi menantunya di masa depan. Bukankah ini hebat, Sungmin? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Sunghee nanti akan menjalani hidupnya yang membosankan bersama orang sepertiku—“

Kyuhyun merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang. Hal itu membuat tawanya kemudian berubah menjadi kepedihan. Siapapun yang tengah menyentuh Kyuhyun saat ini dapat merasakan tubuh itu sedikit terguncang. “Maafkan aku, Sungmin.” Kyuhyun terisak, “Harusnya aku membuatmu tertawa untuk merayakan kelulusanmu. Tapi… aku tidak tahu harus bahagia dengan cara apa?”

“Ssshh… sudah Kyuhyun… sudah… jangan diteruskan…” Sungmin mengusap lembut dada Kyuhyun untuk menenangkan.

Tapi sepertinya hanya membuat pemuda itu bertambah sesak, “Aku tidak akan menolak tawaranmu ataupun ayahmu. Sungguh. Aku ingin selalu ada di dekatmu.”

“Aku tahu, Kyuhyun. Aku tahu. Berhenti… kumohon…” Sungmin masih memeluk dan berusaha membuat pemuda dalam dekapannya berhenti terisak. Hingga tanpa sadar bahwa kedua mata itu tak lagi membendung airnya. “…sudah Kyuhyun, aku—“

Kyuhyun menutup wajah untuk meredam kemarahannya pada diri sendiri, “Kenapa kau justru bertanya seperti itu? Sampai saat ini, aku tak akan mau merubah jawabannya. Aku menginginkanmu!”

Isakan mereka teredam sempurna oleh dekapan masing-masing. Hanya air mata yang bicara, mengalir dan menyentuh kulit satu sama lain. Berharap tidak akan ada lagi salah paham. Apapun bentuknya, lidah memang kadang lebih menyakitkan dari bilah samurai sekalipun.

_SnowFlakesTheSeries_

Lima tahun kemudian…

Good morning, my man~

Kyuhyun sesungguhnya enggan membuka mata. Kepalanya seperti masih terisi dengan berkilo-kilogram batu. Berat sekali. Namun pesona dentingan suara itu betul-betul mengalahkan alarm jam waker pagi itu. Bukan karena nada tinggi, kelembutan itu justru membuainya untuk berada di antara terpejam lebih lama atau tersadar sepenuhnya. Benar-benar dilema yang menjengkelkan.

“Kau berjanji tidak akan tidur sepanjang hari ulang tahunku.”

Kyuhyun mengangguk. Tentu saja ia harus berjanji seperti itu. Siapa yang tidak tergiur? Semalaman Sungmin bersedia ‘bermain’ dengannya jika pria itu mau berjanji. Dan di sinilah mereka. Di atas tempat tidur yang sudah dalam bentuk kacau di sana-sini. Karpet beludru dengan tumpahan anggur di sana sini dan jangan lupakan gelas-gelas kosong yang terlihat disia-siakan.

“Semalam itu sungguh kacau, Sungmin.” Kyuhyun bersuara masih sambil terpejam. “Aku ingin tidur lagi.” Tangannya meraba-raba sekitar untuk mencari selimut. Ia dapat merasakan hembusan angin yang datang dari jendela apartemen. Sungmin pasti sengaja membukanya. Pemuda itu seperti manusia salju yang tahan dengan cuaca seperti ini. “Tutup jendelanya. Aku sudah hampir membeku~” Kyuhyun meracau sambil merapatkan selimut pada tubuhnya.

“Tidak boleh!” Sungmin dengan cepat menarik selimut itu. “Kau tahu kan kalau kita tidak akan punya kesempatan libur seperti ini?”

Kyuhyun masih bertingkah malas, “Bukan ‘kita’, tapi hanya ‘kau’.”

“Ishhh! Bangun… atau aku akan pergi lagi!”

Berhasil. Dan Kyuhyun membuka matanya dengan sempurna. “Memangnya kau mau pergi kemana?” Kyuhyun langsung terduduk dan menatap Sungmin dengan cemas.

Pemuda manis itu mengeluarkan tablet nya dan setelah menyentuh layar sebentar ia menunjukkan sebuah e-mail pada Kyuhyun.

Kyuhyun membaca dengan seksama. “Resort? Sejak kapan perusahaanmu bergerak di bidang properti?”

Sungmin tersenyum, “Perusahaan ‘kita’, Kyuhyun. Kau juga bagian dari tempat itu.” ia melempar benda berteknologi tinggi tadi sembarangan ke atas kasur. “Tentu saja sejak kau mengomel soal kenapa-perusahaan-hanya-menjual-interior. Dan aku menemukan file rahasia di dokumenmu mengenai ini semua.”

“Jadi ini—“

Sungmin mengangguk. “Aku minta maaf karena menggeledah dokumen-dokumen pribadimu. Tapi kau keteraluan jika harus menyembunyikan proyek sebesar ini.” Ia menyipit, “Atau… kau ingin mengkhianati kami, huh?” ujarnya menggoda.

Kyuhyun mengusap wajahnya frustasi, “Itu harusnya jadi hadiah ulang tahunmu. Kenapa sekarang justru aku yang terkejut?” katanya lemah.

Sungmin tertawa lembut dan kemudian menelusupkan dirinya memeluk pinggang Kyuhyun. Tubuh itu kini lebih kokoh dan berisi, ‘pria’nya ini dengan senang hati mengikuti kelas kebugaran dan kursus mengemudi ketika perusahaan merekrutnya. Dan tentu saja mudah bagi Kyuhyun jika itu permintaan yang berasal dari Sungmin. “Terima kasih.” Ujarnya sedikit manja.

Kyuhyun mengusap kelembutan jutaan surai di sana. Sungmin sudah merubahnya dengan warna karamel demi penampilannya sebagai seorang direktur muda. Warna apapun, Kyuhyun akan selalu menyukainya.

“Proyek ini akan sedikit menenangkan ayahmu karena harga saham yang terus menurun. Setidaknya bisnis properti dengan polesan seorang artist akan lebih menggetarkan investor.” Kyuhyun kini mendekatkan wajahnya pada punggung Sungmin.

“Apa mereka benar-benar menyukai design buatanku?”

“Mereka menggilainya.” Kyuhyun menangkup wajah Sungmin agar mereka dapat saling menatap. “Segila aku dengan ini…”

Ciuman itu menandakan bahwa ‘permainan’ hari ulang tahun memang belum berakhir. Perjalanan yang masih sangat panjang bagi mereka. Sepanjang waktu keduanya untuk menunggu akan datangnya musim dingin lagi dan lagi. Musim dimana Kyuhyun mendapati butiran salju tidak akan mencair dalam genggamannya.

Aku bisa menggenggam, bahkan membuat istana yang megah ketika matahari tak melihatnya—Snowflakes

Part 6 end

Advertisements

6 thoughts on “Snowflakes #6

  1. Cho Heeni says:

    kak Feeeeeee…..!!! berulang kali baca ff ini tetep aja sensasinya itu lho ka? >.<
    dan meski peluangnya seperti limit mendekati nol dari dulu berharap ada cerita 'tambahan' buat ff ini *ditimpukin ka Fe*
    oya ka, sampe end ko q masih kepo dengan 'hadiah becek' di loker yang dikasih kyuhyun itu. kirain ada scene nyelip gitu dimana sungmin nanyain kyu kenapa kasi hadiah basah semua eh tapi ndak ada, ini berarti reader disuruh menerka sendiri gitu ya ka.
    apa basah itu mengacu pada perasaan kyu yang seperti es mencair gitu? gak ada harapan?
    q gak bisa nerka lebih dari ini, kasi tau kaaa….

  2. orange girls says:

    keren… endingnya manis banget dah kayak permen coklat hehehe….semoga aja kyumin bisa seperti itu di dunia nyata… amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s