Blue Jeans

blue jeans

Someone left you naked with… a BLUE JEANS ???

By Fetri Apriliana

“Untuk kalian yang masih mencintai mereka….”

28 November 2015

 

“Paling tidak kau tetap harus mengembalikannya, bukan?”

Sungmin tertunduk memperhatikan sehelai celana berbahan jeans lusuh yang tergeletak di atas meja. Berulang kali ia memijat pelipis dan menghela napas panjang atas apa yang sudah terjadi. Lagi-lagi… untuk kesekian kalinya… kebiasaan buruk yang selalu tidak bisa ia hindari ketika mabuk. Dan entah sudah yang keberapa kali.

“Bagaimana caranya? Tidak ada petunjuk.”

Gadis yang berada bersamanya kini sudah hampir menggeram karena gemas. Namun karena ini bukan yang pertama kali, Luna hanya bisa menahan diri untuk tidak mencabik-cabik siapapun wanita di hadapannya. “Lihat baik-baik.” Ujarnya sambil menahan intonasi suara, “Masih ada label toko laundry dan kode cucinya. Kau hanya perlu datang ke sana dan menanyakan pada petugas. Kemudian kembalikan ini.”

Sungmin memandang adiknya dengan tatapan sayu, “Setelahnya?”

Alih-alih ingin sekali mengacak-acak rambut sang kakak, gadis itu justru melakukan pada rambutnya sendiri. “Eonni…” Luna mengambil jeda sebentar untuk menarik napas, “…semalam kau mabuk. Kemudian kau keluar dengan seseorang, dan berakhir dengan tanpa busana di kamar hotel. Dan satu-satunya petunjuk hanya celana ini. Kau pikir saat mengatakan untuk mengembalikan, aku sungguh-sungguh hanya menyuruhmu mengembalikan semuanya? Kau harus minta pertanggungjawabannya!!!”

Sungmin menutup telinga karena sepertinya Luna sudah memasukkan delapan oktaf suara ke dalam gendang telinganya. “Ahh… baiklah, baik. Aku akan mencarinya. Jangan berteriak. Telingaku sakit.”

Luna kembali tenang karena akhirnya sang kakak mampu menangkap maksud pembicaraannya. “Dosa apa yang sudah kulakukan sebenarnya hingga memiliki kakak sebodoh ini?” bisiknya frustasi.

“Tapi Luna. Apa aku harus mencarinya? Bagaimana jika sebenarnya tidak terjadi apa-apa? Kau tahu?” Sungmin mendekatkan wajahnya ke depan telinga Luna. “Aku tidak merasakan apa-apa saat bangun.”

Sang adik mengerutkan keningnya tak mengerti, “Merasakan apa?”

Sungmin menggigit bibirnya, menimang apakah ia harus mengatakan hal ini pada Luna atau tidak. “Hmm… kau tahu… saat pertama kali aku melakukannya dengan Siwon?”

“A-apa?? Aku tidak tahu maksudmu!” Luna mulai tidak sabaran lagi.

“Waktu itu… aku merasakan sakit di daerah ‘sini’ ketika bangun.” Sungmin berbisik dan menunjuk daerah bawah perut pada adiknya.

Butuh waktu beberapa detik bagi Luna untuk mencerna perkataan kakaknya. Kemudian…

“Dasar gila!”

“Ahh! Kenapa memukulku?!” Sungmin akhirnya ikut berteriak. Pukulan sang adik diyakini akan meninggalkan bekas di punggungnya.

“Jadi kau masih mengingat malam pertamamu dengan laki-laki mesum itu? Dan masih bisa membicarakannya dengan ekspresi seperti ini? Heol~ kakakku benar-benar tidak punya harga diri. Dengarkan aku! Saat itu adalah yang pertama bagimu, tentu saja sakit, terlebih aku tidak bisa membayangkan seberapa besar ukuran kuda jantan itu. Tapi untuk kali ini berbeda. Kau tidak mengenakan apa-apa saat bangun, dan jelas-jelas ada celana panjang yang tertinggal di sana. Dan bagi seseorang yang sudah pernah melakukannya, yang kesekian kali itu tidak akan terasa apapun.”

“Huh? Luna-yah… bagaimana kau bisa mengatakan hal itu? Apa kau sudah pernah melakukannya?”

Seketika sang adik menutup mulutnya. Kedua perempuan itu diam untuk sesaat.

“Luna~~??”

“TIDAK!”

“Oh Tuhan, suaramu—Yah! Tidak bisakah kau bicara pelan? Telingaku bisa pecah jika kau seperti ini terus.”

“Sudahlah. Yang penting saat ini adalah kau harus menemukan pemiliknya. Siapapun laki-laki itu, dia harus bertanggung jawab terhadapmu.”

-oOo-

 

Sejak kejadian malam pertama dengan salah satu putra pemilik sekolah, Lee Sungmin sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah menyentuh alkohol lagi. Pasalnya cairan itu benarbenar tidak bisa terkontrol dalam tubuhnya hingga membuat ia melupakan semua yang mungkin terjadi ketika mabuk.

Beruntung saat itu Choi Siwon adalah pemuda yang tengah ia incar, hingga saat mengetahui bahwa keperawanannya sudah direnggut, wanita itu hanya menangis sebentar sebelum akhirnya pria itu menawarkan diri untuk jadi kekasihnya.

Setidaknya, kejadian itu memberikan keuntungan bagi Sungmin sampai bisa menjadi kekasih dari salah satu pria yang paling diincar oleh seluruh gadis di kampus.

Namun semua itu hanya berlangsung tidak lebih dari satu bulan.

Lee Sungmin dicampakan… dan melupakan janjinya untuk tidak menyentuh alkohol.

“Haahhh… jika benar blue jeans ini adalah milik pria yang sudah tidur dengannya, lalu kenapa ia bisa ketinggalan? Tunggu… jangan katakan jika orang itu pergi dan berkeliaran tanpa mengenakan celana!” Sungmin merasakan sedikit pencerahan dalam kepalanya. “Lalu… jika benar seperti itu… apakah dia seorang…

“…flasher*??”

………………………….

[Flasher? Isshh… yah, jangan berpikiran macam-macam. Kau sendiri yang mengatakan karena celana itu sobek, maka ia meninggalkannya. Kau juga bukan yang memastikan pada karyawan hotel bahwa ada laki-laki yang meminta tolong untuk dibelikan celana baru?”]

“Aaahh… kau benar. Kenapa aku bisa lupa dengan itu.”

[Kau sudah menemukan pemiliknya?]

“Belum. Aku baru saja mendapatkan alamatnya. Tidak terlalu jelas, namun nama dan apartemennya cukup untuk membuatku bisa menemukan dia.”

[Siapa namanya?]

“Cho Kyuhyun.”

-oOo-

 

“Sebaiknya ia tidak terlambat, aku tidak bisa membawa semua alat peraga ini sendirian.”

Tampan, muda, dan sibuk. Sepertinya hanya tiga hal tersebut yang bisa menggambarkan bagaimana keadaan kondisinya saat ini. Seorang pria berumur hampir tiga puluh, sendirian, dan terjebak dalam ruangan yang sangat berantakan. Entah apa yang membuatnya bisa menyia-nyiakan sebuah apartemen mewah hanya diisi dengan barang-barang berbentuk bangunan-bangunan tiruan di sudut ruangannya.

Cho Kyuhyun. Seorang arsitek berbakat. Bekerja pada perusahaan bonafit, memiliki karir yang cemerlang, namun sayangnya masih lajang. Tidak tahu apakah itu suatu keuntungan ataukah syarat kesuksesan. Yang dapat dilihat dari pria itu hanyalah bekerja… bekerja, dan bekerja.

Kemudian mungkin takdir akan merubahnya kemudian.

Bel berbunyi menandakan seseorang datang mengunjungi. Tanpa melihat siapa yang datang dari monitor kamera pengawas, pria itu langsung membuka pintu dan menemukan seorang gadis berdiri sambil memeluk sebuah tas jinjing di dadanya. Benar-benar terkejut dan tidak bergerak.

“Apa kau akan terus berdiri di situ?” Kyuhyun membuka mulutnya untuk segera menyadarkan—siapapun gadis itu—dari mimpi berjalan.

“Huh?”

“Ayo masuk. Aku sudah menunggumu dari tadi.”

Tanpa sempat keduanya memperkenalkan diri, apalagi sampai sang gadis mengungkapkan maksud kedatangannya, Kyuhyun sudah menarik wanita itu masuk ke dalam apartemen.

“Maaf karena mendadak. Aku sudah memberitahu alasannya di telepon mengapa kau harus datang pagi-pagi ke sini, kan? Haahh… dan terima kasih karena tidak datang terlambat. Aku benar-benar butuh orang untuk menyelesaikan ini semua dan membawanya ke tempat seminar. Walaupun mungkin hanya butuh dua kali untuk membawanya, aku tidak bisa membayangkan harus melakukannnya sendirian. Lagipula kau pasti ingin menghadiri seminar itu, bukan? Jadi tidak masalah jika aku minta bantuanmu sedikit, sementara kau bisa mengikuti seminar tanpa biaya. Bagaimana menurutmu? Kurasa ini cukup adil.”

Kyuhyun terus bicara sambil dirinya mondar-mandir memunguti guntingan-guntingan karton dan potongan seng sisa rancangan partitur bangunannya. “Ah, siapa namamu?”

Gadis itu akhirnya berkedip dan membuka mulutnya,

“Sungmin. Namaku Lee Sungmin.”

………………

Entah seberapa banyak lipatan otaknya yang sudah tidak berfungsi hingga akhirnya Sungmin memutuskan untuk membantu pria yang baru saja ia kenal itu. Pria yang sejak beberapa hari membuatnya membayangkan hal-hal kotor. Pria yang dicurigai sebagai pemilik celana jeans. Pria yang mungkin harus bertanggung jawab karena sudah menidurinya saat mabuk.

Cho Kyuhyun. Ia bahkan tidak melakukan kesalahan karena nama itu sesuai dengan informasi yang sudah diberikan oleh pemilik toko laundry.

“Sungmin-ssi, apa kau bisa membantuku memasang ini? Aku minta maaf, tapi pakaian ini benar-benar belum sempat kucoba semenjak membayarnya dari butik. Dan aku sama sekali tidak berpengalaman memakai jenis setelan apapun.”

Sungmin melihat kedua mata di balik frame hitam kacamata minus di sana sama sekali tidak menunjukkan adanya kejahilan. Pria di hadapannya betul-betul minta tolong. “Kenakan rompi ini setelah kemeja dan dasimu terpasang. Seperti ini.” jari-jarinya kini sudah sibuk memasangkan kancing-kancing sesuai dengan pasangannya. Sepotong pakaian mahal sekalipun bukan masalah bagi Sungmin yang memang menggeluti dunia fashion. Dan pakaian yang saat ini coba ia pasangkan pada tubuh Kyuhyun sama sekali bukan hal yang baru.

Tidak butuh waktu lama hingga sentuhan terakhir—sebuah jas—dengan warna senada sudah melekat pada tubuh Kyuhyun. Pria itu tersenyum memandang pantulan dirinya yang kini terlihat terlalu menawan. Oh, rasanya ia kini sedang memuji diri sendiri. Beruntung kepercayaan diri tersebut hanya sebatas kata-kata di kepalanya. Tidak sampai terdengar oleh gadis di sebelahnya itu.

“Apa acara yang akan kau hadiri begitu formal hingga harus memakai setelan seperti ini?” Walaupun ragu-ragu, Sungmin berhasil mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin bisa meredakan sedikit detak jantungnya. Saat ini entah mengapa dia seperti habis berlari.

Kyuhyun menatap Sungmin dengan heran. “Kau tahu acara macam apa itu. Kenapa masih bertanya?” Ganti Sungmin yang bingung. Namun alih-alih membuat perbincangan semakin panjang, ia hanya mengangguk tanpa berniat untuk bertanya lagi.

“Oh. Apa kau akan kesana dengan pakaian itu?” Kyuhyun baru menyadari bahwa berbeda jauh dengan dirinya yang bagai pengusaha kaya raya, Sungmin hanya mengenakan gaun berwarna kuning pucat dengan rok rimple selutut. Bagian atas hanya dipadu dengan blezzer bermotif sederhana dari warna senada namun agak sedikit gelap. Jika mengingat kembali sepatu yang dikenakan saat masuk tadi, Kyuhyun yakin gadis ini hanya mengenakan sepatu putih berhak rendah.

Rambutnya sekarang bahkan digelung sembarangan dengan sebuah tusuk seperti sumpit.

“Apa aku harus menghadiri acaramu juga?” Tanpa petunjuk, Sungmin kini mulai menyadari bahwa memang ada yang salah semenjak kedatangannya tadi.

“Apa-apaan pertanyaan itu? Aku memintamu untuk membantuku mempersiapkan semua ini karena kau ingin menghadiri seminar itu juga, bukan? Ah, sudahlah. Tidak apa. Kau sudah cantik seperti ini. Mungkin nanti kau bisa merapikan sedikit rambutmu di mobil. Ayo berangkat. Kita sudah hampir terlambat.”

Sungmin berusaha sekuat tenaga untuk meluruskan kesalahpahaman sepanjang perjalanan menuju tempat parkir. Namun dengan banyaknya barang yang ia bawa dan Kyuhyun yang tidak henti-hentinya menerima panggilan telepon, gadis itu sama sekali tidak memiliki kesempatan.

Bahkan ketika mereka berada di dalam mobil, Sungmin belum juga bisa bicara. Ia kini justru terjebak dengan permintaan Kyuhyun untuk merapikan sedikit rambut dan membenahi riasan wajahnya.

Wanita itu sudah pasrah dan akhirnya menunggu kesempatan hingga kesibukan ini berakhir.

-oOo-

 

Pukul sebelas empat puluh tujuh menit, malam hari.

Mereka berdua akhirnya berhasil masuk ke dalam apartemen Kyuhyun setelah hampir setengah jam membuat pria mabuk itu berhasil memasukkan password yang benar. Sungmin benar-benar hampir pingsan saat membawa Kyuhyun dari pelataran parkir ke dalam kamarnya dengan tubuh itu.

Beruntung Luna—adiknya—selalu memberikan latihan kebugaran yang tidak manusiawi hingga memungkinkan dirinya mampu memapah tubuh Kyuhyun.

Benar-benar wanita perkasa.

“Ahahaha… Sungmin-ssi… ayo kita minum lagi. Kau tahu? Tidak menyenangkan minum dengan orang-orang bodoh itu. Kau tahu kenapa mereka bodoh? Karena mereka tidak memilih designku dan lebih memilih menggunakan milik si brengsek plagiat itu!”

“K-Kyuhyun-ssi… ohh… Ya Tuhan, berapa banyak yang ia minum sebenarnya? Diamlah sebentar, aku harus membuka kemejamu yang basah. Aisshh… pria macam apa yang sudah seperti ini hanya karena dikalahkan dalam pekerjaan?!” Sungmin melepasan satu persatu pakaian Kyuhyun hingga hanya tinggal celana panjang yang menutupi bagian bawah tubuh itu. “Ayo bangun! Aku harus mencuci mukamu yang sudah seperti kepiting rebus itu.”

Sekali lagi, dengan kekuatan penuh, Sungmin memapah pria itu untuk berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Di sana ia benar-benar mencuci wajah Kyuhyun dan membersihkan keringat di tubuhnya dengan handuk basah. Semua dilakukan tanpa memikirkan bahwa keduanya adalah orang asing.

“Aaakh!”

Tenaga Sungmin sudah benar-benar habis ketika akhirnya tubuh Kyuhyun menindihnya saat berusaha membaringkan pemuda itu di tempat tidur. “Kyuhyun-ssi… Kyuhyun-ssi… bangunlah… setidaknya biarkan aku pulang. Aku juga lelah.” Ujarnya lemah. Kedua tangannya sudah tak ada kekuatan lagi untuk mendorong tubuh Kyuhyun yang sangat berat baginya.

“Kenapa…”

Sungmin diam. Kyuhyun kembali mengigau dalam tidurnya.

“Kau bisa mengalahkanku tanpa berbuat curang, kan?”

Ada sedikit rasa simpati pada pria itu. Sungmin mengingat semuanya. Dalam acara itu. Bagaimana seorang Cho Kyuhyun kehilangan senyum penuh semangat ketika salah satu peserta seminar memamerkan karya yang persis sama dengan semua buatannya. Sungmin tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja… satu hal… pria ini sudah dikhianati. Dan Sungmin begitu sedih ketika melihat cahaya di kedua mata itu meredup.

Lalu bagaimana dengannya? Seorang gadis tengah malam berada di dalam sebuah apartemen milik laki-laki lajang. Dan tidak hanya itu. Kini posisi mereka yang tidak pantas di atas tempat tidur bisa membuat siapa saja yang melihat salah paham.

Namun Sungmin sudah teralalu lelah untuk membayangkan apapun. Ia hanya ingin tidur. Dan dengan tubuh Kyuhyun di atasnya, ia benar-benar menutup mata dengan apa yang mungkin akan terjadi besok pagi. Ya. Semua akan berakhir keesokan hari. Dan saat ini, ia hanya harus tidur. Toh kemungkinan besar ini bukan pertama kalinya Sungmin berada di satu tempat tidur yang sama dengan seorang Cho Kyuhyun.

-oOo-

 

Kyuhyun beranjak dari tempat tidur tanpa benar-benar membuka matanya. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, ia menuju dapur dan menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri.

Kepalanya masih sangat sakit, dan rasa mual belum sepenuhnya hilang. Sambil mendudukan diri, Kyuhyun berusaha mengingat kembali bagaimana ia bisa kembali ke apartemen dengan selamat, dan bukannya tergeletak menyedihkan di sebuah halte bus.

Ponselnya berdering.

“Halo.”

[Yah, Cho Kyuhyun. Apa yang terjadi?]

Suara Jonghyun terdengar memekakan telinga sepagi ini. “Menurutmu apa yang terjadi? Aku kalah. Dan semuanya sia-sia.” Pria itu menyandarkan dirinya di sofa untuk sedikit mengurangi rasa sakit di kepalanya.

[Aku mendengarnya. Jangan putus asa. Aku dan yang lainnya akan mencari tahu bagaimana designmu itu sampai bocor.]

“Apa hal itu akan membantu? Hankyung sudah mendapatkan tender itu. Jika kita mengacaukannya dengan mengatakan bahwa itu adalah rancanganku dan ia hanya meniru, apa semua itu akan ada hasilnya?” Kyuhyun meneguk habis air mineral dalam gelas.

[Tentu saja. Tender belum resmi diserahkan pada si brengsek itu. Jika kita bisa mencari bukti pembobolan datamu, kau masih punya kesempatan.]

“Hm. Kita bicarakan ini nanti. Aku hanya ingin istirahat hari ini.”

[Tapi… Kyuhyun-ah. Aku hanya ingin bertanya. Bukankah kau memintaku untuk mengirim orang agar bisa membantumu kemarin? Mengapa kau pergi sendiri?]

“Huh? Apa maksudmu? Aku pergi bersamanya. Yah, jika bukan karena aku membutuhkannya, aku sudah menghajarmu karena tega mengirim seorang gadis untuk melakukan pekerjaan ini.”

[Gadis? Aku mengirim seorang hoobae laki-laki. Dan dia bilang kau sudah tidak ada saat dia datang ke tempatmu. Yaahhh, berapa banyak alkohol yang kau telan Cho Kyuhyun? Sampai bermimpi bertemu gadis. Dasar otak mesum! Sudah, istirahatlah. Kututup teleponnya.”

Pada tahap ini Kyuhyun terpaksa harus mengumpulkan semua kesadarannya. Jonghyun mengatakan bahwa dia mengirim seorang laki-laki untuk membantunya kemarin. Lalu, siapa gadis dengan gaun kuning itu? Ia sangat yakin bahwa kemarin pagi masih sangat sadar untuk membedakan laki-laki atau perempuan. Dan terlebih lagi, rekannya tadi menyebutkan orang suruhan itu tidak menemukannya di sini.

Jadi siapa wanita itu?

“Oh, Kyuhyun-ssi, jam berapa sekarang—“

“AAAAAAAHHHHHHH!!!!”

…………………………

Pukul enam tiga puluh tujuh menit, pagi hari.

“Siapa kau sebenarnya?”

Sungmin tak percaya setelah apa yang ia lakukan kemarin dan semalam, kini pria itu menunjuknya dan memperlakukan dirinya seperti orang jahat. “Berapa kali kukatakan, aku bukan mata-mata. Dan masalah kemarin itu, kau sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk bertanya. Kau menyuruhku untuk melakukan ini, memasang itu, membawa ini, meletakkan itu. Lalu bagaimana aku bisa menghentikan semuanya?”

“Lalu kenapa kau menurut saja? Kau bisa saja berteriak.” Kyuhyun masih bertahan pada pendiriannya.

“Memangnya kau melakukan apa sampai aku harus berteriak?” Sungmin merengut sambil jemarinya memijat pundak. Tidur dengan posisi itu benar-benar membuat lehernya sakit.

“Lalu kenapa kau bisa tidur di ranjangku?” Kyuhyun berubah gugup. “A-apa aku m-melakukan sesuatu yang tidak pantas padamu?”

Sungmin menggeleng, “Untuk semalam tidak. Kita berdua benar-benar tidur lelap seperti orang mati.”

Jawaban Sungmin semakin membuat jantung Kyuhyun berdebar kencang. “U-untuk semalam? Apa maksudmu? Kau mengatakan seolah-olah kita pernah melakukan hal yang sama di malam-malam sebelumnya.” Dengan refleks Kyuhyun menyambar kimono tidur dan memakainya untuk menutupi setengah tubuhnya yang telanjang dengan tergesa.

“Hiiisshh…. duduklah. Leherku sakit.”

Tak disangka, Kyuhyun menuruti perintah itu. “Jadi… bagaimana kau bisa datang ke sini?”

Sungmin meraih tas jinjing kertas yang dibawanya kemarin. Ia mengeluarkan sebuah celana jeans gelap dari dalam dan memberikannya pada Kyuhyun. “Ini milikmu, kan?”

Kyuhyun langsung memeriksa potongan kain itu. “Ini—“

“Ternyata benara milikmu.” Sungmin menghela napas panjang. Ia beranjak berpindah duduk mendekati Kyuhyun. “Cho Kyuhyun-ssi. Sekarang perhatikan wajahku benar-benar. Apa kau sama sekali tak mengingatku?”

Kyuhyun bergeser sedikit ke belakang saat Sungmin mendekatkan wajahnya. “S-Sungmin-ssi… apa yang kau lakukan?”

Sungmin memejamkan mata sejenak. Ia mengumpulkan keberanian dan menutup harga dirinya untuk bisa mengeluarkan semua yang harus ia katakan selanjutnya. “Kenapa kau meninggalkan celanamu? Setidaknya jika tak ingin ketahuan, kau tidak harus meninggalkan apapun di hotel saat itu. apa kau tahu berapa banyak rasa malu yang sudah kubuang untuk bisa sampai kemari mencari laki-laki yang sudah membuatku terbangun tanpa sehelai benang?”

Dikatakan sudah. Dan kini Kyuhyun hampir mati rasa mendengar penuturan itu.

“Baiklah. Saat itu aku memang mabuk. Dan mungkin kau juga begitu. Jadi… kita melakukannya tanpa perasaan apapun bukan? Aku bisa saja menganggap itu hanya perbuatan tanpa sadar dan segera melupakannya. Tapi bagaimanapun dipikirkan, aku benar-benar terganggu dengan kenyataan mengapa kau harus meninggalkan celanamu di sana?” Sungamin menutup wajahnya frustasi.

“T-tunggu. Jadi maksudmu? Kita pernah… bermalam sebelumnya?”

“Ya Tuhan… kupikir hanya aku di sini yang bodoh. Ternyata kau tidak lebih baik. Ya. Dua malam lalu kau membawaku yang mabuk ke dalam hotel pusat kota, dan pagi hari setelah kau sadar sudah melakukan sesuatu kepadaku, kau meninggalkanku dalam keadaan….” Sungmin benar-benar kehilangan harga dirinya untuk mengucapkan bagian itu lagi. “…tanpa pakaian.”

“H-hey! Apa kau punya bukti bahwa aku yang sudah membawamu?” Kyuhyun berusaha membela diri.

“Lalu apa kau punya bukti bahwa bukan kau yang melakukannya?” Sungmin membalas sengit sambil menatap tajam celana jeans di tangan Kyuhyun.

Pria itu menyadarinya. “Ini… tidak mungkin.” Kyuhyun berusaha mengingat dimana dirinya berada dua malam lalu. Hari itu adalah ulang tahunnya. Ia dan rekan-rekan satu perusahaan merayakan dengan mengadakan pesta di sebuah diskotik. Dan… tentu saja ada alkohol. Kyuhyun ingat ia memang mabuk. Dan pagi harinya…. “Tapi aku tidak melihat ada siapa-siapa di dalam kamar hotel.” Ia mengatakan dengan wajah lemas. Kyuhyun memang berada di dalam kamar hotel pagi harinya. Dan karena panik kehilangan beberapa potong pakaian, ia meminta seseorang dari room service untuk membelikannya baju dan celana baru.

“Jadi… kau memang sudah melakukannya padaku.”

Setelah itu tidak ada pembicaraan lain kecuali suara tangisan Sungmin.

-oOo-

 

“Sungmin-ah.”

Sungmin sudah tak lagi memiliki tenaga untuk menghindar. Kini di hadapannya sudah berdiri Choi Siwon. Sudah sejak beberapa hari ini pria itu bertingkah aneh dan membuntutinya. Entah sudah berapa kotak tissue yang ia habiskan saat Siwon mencampakkannya dengan wanita lain. Dan setelah itu ia beruntung karena pikirannya teralihkan dengan kesibukan mencari pemilik celana jeans biru.

Tapi apa yang dilakukan pemuda itu sekarang. “Aku sedang tidak dalam kondisi baik untuk bicara. Tinggalkan aku sendiri.” Ujarnya malas.

Bukannya pergi, Siwon justru duduk di samping Sungmin dan meraih tangan gadis itu. “Sayang, aku minta maaf. Saat itu aku tidak tahu kalau mereka h-hanya main-main dan mengatakan bahwa kau berselingkuh. Jadi aku… hanya ingin membalas perbuatanmu.”

“Apa kau bilang? Memangnya apa yang sudah kulakukan? Apa kau punya bukti bahwa aku berselingkuh? Tidak, kan? Berapa kali aku meyakinkanmu malam itu? Kau justru mengatakan bahwa aku wanita murahan!” Sungmin pergi meninggalkan Siwon yang terus saja memanggil namanya.

Tidak perlu berlari karena Siwon bukan orang yang akan mengejar wanita di hadapan banyak orang seperti di film-film romansa. Harga dirinya terlalu tinggi.

……………………

Sungmin tak mengerti kenapa ia bisa ada di tempat ini lagi. Wajahnya sudah sangat basah dengan air mata, dan satu-satunya tempat yang ada di dalam kepalanya adalah apartemen Kyuhyun.

“Kenapa aku kemari lagi? Haahh… aku pasti sudah gila karena Choi Siwon brengsek itu.” Sungmin sudah akan berbalik ketika pintu apartemen dibuka dari dalam dan menampakkan seorang pria dengan balutan kaus hitam dan celana biru. Blue jeans.

“Sungmin-ssi? Bagaimana—“

“A-ah… maaf sepertinya aku melamun saat jalan tadi.” Sungmin buru-buru berbalik untuk segera pergi sebelum melakukan hal-hal bodoh lagi di tempat itu.

Tapi cengkeraman Kyuhyun lebih cepat menahan lengan Sungmin. “Tunggu!” ia membalikkan tubuh Sungmin hingga menghadap ke arahnya. “Kau… menangis?”

“T-tidak. Aku baik-baik saja. Maaf jika mengganggumu. Aku pergi.”

Namun kali ini tidak. Karena Kyuhyun masih menahan lengannya. “Masuklah. Di luar sudah akan hujan. Aku tidak melihatmu membawa payung. Dan… ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Kemudian disinilah mereka. Duduk diam selama beberapa menit karena belum ada yang membuka suara.

Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya. Saat ini hujan mengguyur kota Seoul tanpa ampun.

Pukul tiga sore hari sudah nampak seperti jam delapan malam. Kyuhyun membiarkan tirai dibuka dan hanya menutup jendela dengan rapat, hingga keduanya dapat melihat bagaimana hujan dan angin menggoyangkan semua benda rapuh yang dilewatinya. Lalu lintas juga lengang karena tak ada seorangpun yang berani berkendara dan lebih memilih berteduh di suatu tempat.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi… jika tidak benar-benar dibicarakan, aku selalu merasa sudah menyakitimu.” Akhirnya Kyuhyun melepaskan keheningan di antara mereka.

Sungmin diam. Masih sambil menggenggam erat gelas minumannya seolah tak ingin benda itu terlepas. Seperti sesuatu yang sangat berharga.

“Aku sudah memutuskan.” Kyuhyun berhenti sebentar untuk mengatur napas. “Akan bertanggung jawab atas apa yang sudah kulakukan padamu, Sungmin-sii.”

“A-apa katamu??”

“Jika kau masih menganggap ini tidak tulus. Aku berani bersumpah bahwa akan benar-benar melakukannya. Aku akan menemui kedua orang tuamu dan mengakui semuanya—“

“Apa kau gila?!”

Suasana kembali hening setelah satu sahutan bernada tinggi dari Sungmin.

“Kau ingin menemui kedua orang tuaku dan mengatakan pada mereka bahwa kita sudah tidur bersama?”

Kyuhyun tak bisa menjawab, pemuda itu hanya mengangguk, masih terkejut dengan suara Sungmin.

“Lalu setelah itu?” Sungmin menatap takut.

“A-apapun yang mereka inginkan. Aku akan bertanggung—“

“Bodoh! Mereka akan menyuruh kita untuk segera menikah,!!”

Kyuhyun tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sejujurnya itu adalah satu-satunya resiko yang terpikir dalam benaknya. Dengan menikahi gadis yang sudah ia nodai, setidaknya akan membuat pemuda itu tidak hidup dalam rasa bersalah. Bukankah laki-laki sejati akan selalu mempertanggungjawabkan semua perbuatannya?

“Aku masih ingin sekolah. Aku masih ingin menjadi designer terkenal. Aku masih ingin melanjutkan hidup. Bagaimana kau bisa berpikir aku akan menikah dalam waktu dekat?!”

Kyuhyun meng-iya-kan dalam hati. Jika dibandingkan dengan dirinya yang sudah bisa dikatakan mapan, mahasiswi yang satu ini memang masih memiliki masa depan yang panjang. Lalu bagaimana jika sesuatu terjadi pada Sungmin? Jika gadis ini….

“Sungmin-ssi, apa tubuhmu… baik-baik saja?” Kyuhyun bertanya hati-hati.

“Apa lagi sekarang? Aku selalu memiliki tubuh seperti ini sejak lahir. Kenapa? Kau mau bilang kalau aku ini pendek?” Sungmin menyahut dengan ketus. Ia menenggak habis minumannya sebagai bentuk rasa kesal.

“B-bukan itu maksudku. Apa setelah kejadian malam itu… kau… tidak merasakan hal-hal aneh terjadi pada tubuhmu?” Kyuhyun ingin sekali membenturkan kepalanya. Mengapai ia begitu berputar-putar saat bicara dengan gadis ini?

Sungmin masih menatap kesal.

“Maksudku… seperti—“

Kemudian seperti mendapat sebuah jawaban dari alam.

“Aaahh… perutku.” Sungmin merintih memegangi perutnya. Gelas yang ia pegang hampir saja terjatuh.

“S-Sungmin. Ada apa? Apa yang sakit?” Kyuhyun langsung menyambar tubuh Sungmin yang sudah hampir meringkuk. “Sungmin-ssi… Sungmin-ssi… bagian mana yang sakit?”

“Aaahh… perutku. Tadi baik-baik saja… kenapa sekarang—aaahhhhh!!”

“S-Sungmin-ssi… Sungmin-ssi… LEE SUNGMIN!”

Tanpa menunggu lagi Kyuhyun langsung membawa gadis itu ke rumah sakit.

………………………

Hari sudah hampir gelap dan antrian pasien belum juga berkurang. Sungmin sudah setengah sadar berada dalam pelukan Kyuhyun. Ia sudah tak lagi merintih. Entah apa yang terjadi. Yang jelas ketika gadis itu bangun, Kyuhyun dibuat bingung karena Sungmin langsung memintanya untuk pulang.

“Kau belum diperiksa. Bagaimana jika sakit tadi itu serius?”

Sungmin tak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan para pasien yang berlalu lalang.

Kesemuanya adalah ibu hamil. Dan hal itulah yang membuatnya tak ingin berlama-lama di sini. “Aku baik-baik saja. Sudah tidak sakit. Mungkin karena terlalu banyak makan hingga perutku melilit. Cukup minum obat dari toko dan tidur. Aku akan baik-baik saja.”

“Kita sudah sampai sini. Setidaknya kau harus diperiksa dulu, aku baru bisa tenang.” Kyuhyun masih bersikukuh.

Kemudian tidak ada yang bisa Sungmin lakukan selain memasang wajah ingin menangis, “Kumohon… aku ingin pulang~”

-oOo-

 

 

Pagi ini Sungmin benar-benar merasa lelah. Ia hanya menenggak beberapa pil penghilang rasa sakit semalam, dan kini efeknya ia benar-benar mual.

“Eonni, ada apa denganmu?” Luna masuk ke dalam kamar dan membawakan teh herbal. Gadis itu juga mengoleskan minyak angin ke punggung sang kakak untuk mengurangi efek mual. “Apa kau sembarangan makan lagi di jalan?”

“Aku bahkan tidak bernafsu makan beberapa hari ini. Kurasa lambungku memberontak.” Sungmin menjawab dengan lemas.

Kemudian Luna tiba-tiba saja diam menatap Sungmin dengan pandangan mengerikan, “Eonni, ini sudah masuk ‘minggu’mu bukan? Apa kau sudah datang bulan?”

Dahi Sungmin berkerut. “Benarkah? Tanggal berapa sekarang?”

“Sepuluh.” Dan seketika suasana kamar menjadi ribut karena hal itu. “Eonni, bagaimana ini? B-bagaimana jika kau ha—“ Luna langsung berdiri, “Aku akan menghubungi Kyuhyun oppa.

Sungmin diam sejenak. “K-Kyuhyun oppa? Kenapa kau menghubunginya? Dan kenapa kau memanggilnya ‘oppa’?”

“Dia harus tahu kalau kau hamil!”

“APA KAU GILA?!!!”

-oOo-

 

“Positif.”

Kyuhyun dan Luna sudah hampir gila menghadapi Sungmin yang sudah berulang kali tak sadarkan diri. Mereka sama sekali tak bicara setelah menerima hasil pemeriksaan Sungmin. Gadis itu dinyatakan hamil dan bisa dipastikan Kyuhyun-lah ayah biologis dari anak yang dikandungnya.

Sungmin belum bisa menerima semuanya. Itulah mengapa ia tidak bisa benar-benar sadarkan diri.

Rekor terlama ia membuka mata hanya sepuluh detik, dan kini Kyuhyun sudah bersikeras untuk membawa Sungmin kembali ke rumah sakit.

Oppa, Sungmin eonni hanya terkejut. Tidak perlu sampai kembali ke rumah sakit. Yang ia butuhkan saat ini adalah seseorang yang bisa menenangkannya. Dan karena aku adalah yang terburuk untuk melakukan itu, jadi malam ini kupercayakan kakakku padamu. Kuharap besok pagi saat aku ke sini, kau sudah membuatnya sedikit tenang.”

Dan lagi-lagi satu malam bersama dengan Sungmin.

-oOo-

 

“Sungmin-ah… dengarkan dulu penjelasanku.”

“Apa kau tidak punya pekerjaan selain mengikutiku, Choi Siwon? Kau sudah memutuskanku. Dan semuanya sudah selesai. Jadi sekarang biarkan aku sendiri.”

“Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini, Sungmin. Kita bahkan sudah melakukan—“

Saat itu juga Sungmin menyaksikan seorang Choi Siwon terhempas ke tanah dengan setitik darah dari sudut bibirnya. Pandangannya langsung mencari siapa penyebab putra orang paling disegani di kampus kini sampai harus mencium tanah.

“K-Kyuhyun-ssi?”

“Kenapa anak muda sekarang lebih suka menghabiskan waktunya untuk mengganggu teman-teman yang lain dibandingkan mengerjakan tugas di dalam perpustakaan? Kau tahu seperti apa orang tuamu akan menanggung malu jika kau tetap gagal untuk lulus di tahun ini, Tuan Muda Choi Siwon?”

Kyuhyun bahkan ingin melakukan pukulan kedua jika saja Sungmin tidak cepat-cepat menghalangi.

“K-kau. Siapa kau berani mencampuri urusan dengan kekasihku?!” Siwon Sudah bangun dan mungkin sudah bersiap akan membalas.

Kyuhyun tertawa meremehkan, “Kekasih? Ternyata kau tidak berbeda jauh dengan kakakmu. Mengklaim milik orang lain sebagai miliknya.”

Lalu sebuah ingatan seperti muncul dalam kepala Siwon. Pemuda itu langsung menunjuk Kyuhyuh dengan tangannya yang bebas. “Aaahh… aku baru ingat, kau designer yang waktu itu bukan? Pecundang yang menampilkan rancangan persis sama dengan milik kakakku. Cih, apa kau tidak malu muncul di hadapanku sekarang?”

Kyuhyun kembali mengepalkan kedua tangannya. Tubuhnya sudah menegang dan bersiap menghajar siapapun yang ada di hadapannya saat ini.

“Melihatmu yang seperti ini. Kau benar-benar pecundang, Tuan!”

Plak!

Pukulan itu bukan berasal dari tangan Kyuhyun, melainkan wanita di sampingnya. Sungmin, dengan sekuat tenaga dan energi kebencian yang memuncak, akhirnya berhasil melayangkan telapak tangan kepada manusia—yang menganggap dirinya—paling tampan di kampus itu. Lee Sungmin menampar Choi Siwon, dan ia sangat yakin bahwa hal itu disaksikan hampir oleh seluruh mahasiswa di taman universitas.

“Sekali lagi kau menyebut calon suamiku ‘pecundang’. Kupastikan orang-orang akan menemukan tubuhmu mengambang di Sungai Han besok pagi.”

Siwon terbelalak setelah masih sangat merasakan perih diwajahnya. “S-Sungmin-ah… k-kenapa… calon suami?”

Setelah itu sudah tak ada lagi percakapan, karena Kyuhyun sudah membawa Sungmin pergi dari banyak pasang mata di dalam sekolahnya.

………………………….

“Tubuh yang mengambang di Sungah Han itu… kau hanya bercanda, kan?”

Matahari masih memberikan panas terbaiknya, bahkan jika sinar itu sudah sangat berlebihan untuk bisa dikatakan sebagai suplai vitamin-D, kedua orang di sana tidak ingin menghindar. Mereka menerima sengatan itu bagai energi yang akan mengembalikan kepercayaan diri hidup keduanya.

“Apa kau pikir aku sanggup melakukannya? Aku bahkan pernah menangis karena tak sengaja menginjak ekor kucing.” Sungmin terkekeh mengingat kejadian masa kecilnya. Hal ini juga tiba-tiba membuat Kyuhyun ikut tersenyum.

“Syukurlah. Aku tidak bisa membayangkan kalau kau benar-benar melakukan itu pada Choi Siwon.”

Pabo!

Kyuhyun lagi-lagi tersenyum. Kemudian ia melirik perut Sungmin. “Apa dia masih menyusahkanmu?”

“Huh? Dia?” Sungmin sempat bingung, namun langsung sadar ketika mengikuti arah pandangan Kyuhyun. “Aah… entahlah, mungkin karena masih terlalu dini, aku masih tidak merasakan apa-apa. Tapi sejauh ini baik, semenjak tidak sadarkan diri berulang kali, tak pernah ada ganggguan. Dia… sangat tenang.”

Wanita itu masih ragu saat menyebut panggilan ‘dia’ untuk sesuatu yang diyakini semua orang telah tumbuh dalam rahimnya.

“Tidak lelah?” Kyuhyun mengalihkan pembicaraan.

“Lelah. Tapi aku tidak takut karena akhir-akhir ini ada seseorang yang selalu tiba-tiba muncul seperti hantu ketika aku dalam masalah. Seperti tadi.” Sungmin memberikan senyum terbaiknya. Dan tanpa disadari, ketulusan mulai hadir dalam tatapan mereka. Ketulusan untuk saling memiliki dan menjaga.

Walaupun salah satu tidak sebesar yang lainnya, mereka masih akan berusaha.

“Kau tidak takut kulitmu terbakar?”

“Hmm…” Sungmin mengangguk, “Aku baru sadar kalau panas sekali.”

“Kalau begitu kemarilah.”

Sungmin mendekat dan dalam sekejap sudah berada dalam lindungan Kyuhyun. Wajah dan tubuhnya sudah tak lagi terkena paparan sinar matahari langsung, karena ada Kyuhyun di dekatnya. Begitu sejuk. Sampai ia memiliki pikiran tak ingin melepaskannya.

Kyuhyun menerima semua sengatan itu. Mulai menjaga miliknya dengan baik agar tak lagi kehilangan. “Sungmin-ah, pilih salah satu. Katakan ‘aku mencintaimu’ atau… aku akan menciummu.”

Namun seketika Kyuhyun diam saat merasakan sebuah kelembutan pada rahang kanannya. Lalu ketika menoleh, ia bahkan mendapatkan yang lebih. “Aku ini punya otak yang beku. Tidak akan pernah mengerti dengan kalimat yang berputar-putar. Jadi—“

Belum selesai Sungmin dengan kalimatnya, Kyuhyun sudah menutup mulut indah itu dengan satu ciuman lembut. Tidak pasif, namun memiliki ritme yang memabukkan. Tidak juga bergairah, tapi punya makna kuat untuk saling memiliki. Kemudian terlepas dengan satu bunyi decapan penuh sensasi, hal itu jelas sudah bersifat aditif untuk keduanya.

-oOo-

 

“Halo.”

[Apa saya benar sedang berbicara dengan Nyonya Lee Sungmin?]

Nyonya? aku bahkan belum menikah, “Ya, dengan Lee Sungmin di sini.” Sungmin menggerutu dalam hati. Namun tidak menunjukkannya dengan jelas.

[Saya dari rumah sakit Seoul University, sebelumnya ingin meminta maaf. Pihak rumah sakit telah melakukan kesalahan dengan hasil pemeriksaan kesehatan Nyonya Lee yang dilakukan dua minggu lalu. Dengan berat hati kami harus mengatakan bahwa hasil tes anda tertukar dengan pasien lain.]

“Aku tidak mengerti. Jadi maksudnya hasil tes yang aku terima sebelumnya bukan milikku?”

[Ya. Hasil tes kesehatan yang sebenarnya hanya mendeteksi adanya asam lambung yang berlebihan akibat dari pola makan yang tidak teratur. Hasil tes akan kami kirimkan segera ke alamat yang tertera dalam data pasien, dan sebagai permohonan maaf, anda bisa melakukan pemeriksaan gratis guna mengetahui lebih jauh kondisi kesehatan anda.]

Percakapan itu terputus karena Sungmin kini sudah jatuh terduduk di lantai dapur. Tentu saja hal itu membuat Kyuhyun yang melihatnya langsung saja mendekat panik. “Sungmin-ah, ada apa? Apa ada yang sakit?”

“Kyuhyun-ah… Cho Kyuhyun…” dan tidak ada kalimat lagi selain Sungmin yang menangis meraung-raung.

…………………….

“Mereka pasti sudah menerima ralat hasil tes kesehatan Sungmin.”

“Tapi kenapa anak itu belum juga menghubungi kita?”

“Haahh…. entahlah, kuharap tidak terjadi hal yang buruk.”

“Apa kita sudah keterlaluan pada anak-anak?”

Luna yang sedari tadi menyaksikan para orang tua mengucapkan kekhawatiran pada kakak perempuannya mulai jengah. Jika saja bukan karena ide gila orang-orang ini, dirinya tidak akan tega melakukan suatu kebohongan. Hanya demi menjodohkan anak-anak mereka, cara yang paling kekanakan pun dilakukan.

“Ya Tuhan… bagaimana bisa ide blue jeans itu terlintas di pikiran para orang tua ini?” ujarnya dengan berbisik.

“Luna-ya, kau tidak menghubungi kakakmu?”

“Tidak mau. Kubilang aku sudah tidak akan ikut-ikutan lagi. Ibu saja yang menghubunginya.”

Kemudian gadis itu lari ke dalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.

…………………………..

“Sudah selesai? Kau tidak lelah menangis terus?” Kyuhyun sudah membuka kotak tissu yang ketiga saat ini. Kabar konyol yang mereka terima benar-benar menghancurkan suasana romantis yang sudah berhasil mereka bangun dengan impian akan hadirnya sosok malaikat kecil di tengah-tengah keduanya.

Tapi ternyata semua itu adalah kesalahan. Tidak pernah ada bayi dalam kandungan Sungmin.

Terlebih lagi saat sang ayah baru saja menghubungi dan menceritakan semuanya. Kyuhyun tahu bahwa ia memang memiliki orang tua yang sangat aneh. Namun tak menyangka bahwa semua kejadian dibalik hubungannya dengan Sungmin adalah skenario dari para orang tua. Kyuhyun tidak tahu dosa apa yang ia perbuat sampai masalah percintaan pun tidak lepas dari campur tangan konyol orang tuanya.

“Kenapa menangis? Bukankah ini kabar bagus? Kau masih bisa meneruskan kuliah dan menjadi seorang designer terkenal. Kau masih bisa meraih mimpi-mimpimu, Sungmin.” Kyuhyun mengusap sisa-sisa air mata dari wajah Sungmin. Matanya yang bulat kini harus membengkak dan membuatnya hanya terlihat segaris.

Sungmin masih diam. Bulir-bulir air mata masih mengalir walaupun tidak sebanyak sebelumnya.

“Katakan sesuatu, Sungmin. Jangan membuatku semakin merasa bersalah.”

Sungmin tidak tahu mengapa Kyuhyun harus merasa bersalah. Tapi satu hal yang ada di dalam kepalanya saat ini adalah, benarkan dirinya tidak hamil? Jika benar, bukankah semuanya harus kembali seperti sedia kala? “Kalau aku tidak hamil, lalu apa yang akan kau lakukan?” tanyanya masih terisak.

“Aku? Memang apa yang harus kulakukan? Aku harus memastikanmu kembali ke sekolah dan mengejar pelajaran yang tertinggal. Kau harus kembali pada aktivitas biasanya.”

Sungmin mengeluarkan air mata lagi, “Lalu kau?” cicitnya mulai ingin menangis lagi.

“Aku?” Kyuhyun berkata bingung. “Kurasa tidak ada yang berubah. Aku akan tetap pergi ke kantor dan bekerja untuk mengumpulkan uang. Seperti biasanya.”

Dan perkataan itu membuat Sungmin menangis lagi.

“Yah~ kenapa menangis lagi? Apa… apa aku salah bicara?”

Masih sambil terisak, tiba-tiba Sungmin berkata, “Apa setelah ini, kau akan meninggalkanku?”

-oOo-

 

“Ayah, tidak peduli sebaik apa niat kalian, cara ini sungguh kekanakan. Apa kau tahu berapa lama aku harus membuat Sungmin berhenti menangis tadi malam?”

Kyuhyun sudah berada di rumah orang tuanya. Walau bagaimanapun cara yang digunakan para tetua itu benar-benar tidak dewasa. Bagaimana jika Sungmin bukan wanita yang kuat? Bagaimana jika Sungmin memutuskan untuk bunuh diri saat mengetahui semua impiannya terhalangi karena harus mengandung anaknya?

“Sungmin menangis? Kenapa?

Kyuhyun menatap ayahnya frustasi, “Apa itu penting?”

“Baiklah. Kami memang sudah keterlaluan. Tapi berkat putraku yang hebat ini, semuanya baik-baik saja, kan?”

Pemuda itu memang tidak akan pernah menang saat bicara dengan orang tuanya. Terlebih sang Ayah. Tuhan benar-benar menyayanginya karena tidak tumbuh menjadi orang yang memiliki keanehan akut seperti pria yang sebagian rambutnya itu sudah memutih.

“Lalu apa yang akan kau lakukan terhadap Sungmin sekarang?”

Sebuah senyuman hadir di wajah Kyuhyun. “Setelah kupikirkan baik-baik. Kalian sudah membuatku benar-benar jatuh cinta pada Sungmin. Hmm… jadi hanya ada satu cara agar gadis itu tidak meninggalkanku.”

“Apa yang kau pikirkan, Kyuhyun?” Sang ibu mulai menatap cemas.

Kyuhyun berdiri dan bersiap untuk kembali ke apartemennya. Kali ini senyumannya berubah menjadi seringai mengerikan.

“Kali ini aku tidak boleh gagal.” Pria itu seperti bicara pada dirinya sendiri. “Kali ini… aku harus benar-benar membuat Sungmin hamil.”

“…”

“Doakan aku, ayah… ibu!”

“YAH! YAH CHO KYUHYUN!! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN, BOCAH NAKAL?!!

YAAAHHHH!!!”

-oOo-

 

“Kau tidak mau pulang?”

Sungmin menggeleng. Ia semakin mendekatkan tubuhnya pada Kyuhyun. Gadis itu memutuskan untuk mengerjakan semua tugas-tugas kuliah sambil menunggu Kyuhyun pulang kerja di apartemennya.

Dan waktunya sangat tepat saat semua pekerjaan selesai, kekasihnya pulang lebih awal. “Aku sudah bilang pada ayah untuk menginap di sini. Aaahh… karena susana di sini sangat tenang, aku bisa menyelesaikan semua tugas kuliah. Kau tahu? Aku tidak pernah mengerjakan dengan benar jika ada di rumah. Luna akan terus saja menggangguku, dan mendengar ayah-ibu bertengkar karena memperebutkan acara televisi membuatku hampir gila.”

Kyuhyun tersenyum. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Sungmin. Di hadapan mereka ada dua gelas anggur yang menjadi pelengkap suasana romantis. “Bukankah aneh jika seorang ayah mengizinkan anak gadisnya menginap di rumah pria lajang?”

“Hmm… aneh memang, tapi mengetahui ayah-ibu pernah melakukan hal yang lebih aneh lagi selama aku menjadi anaknya, rasanya tidak perlu dipikirkan.”

“…”

“Kyuhyun-ah.”

“Hm?”

“Aku ingin mengakui sesuatu padamu. Sebenarnya, saat mengetahui aku tidak hamil, sedikit banyak… aku sangat kecewa.” Sungmin bicara sangat pelan. Namun karena hanya ada mereka berdua, kalimat itu sepenuhnya tersampaikan.

“Kenapa?”

Sungmin mengatur napasnya sejenak, “Saat mereka memberi tahu bahwa aku tidak hamil, tiba-tiba aku seperti kehilangan alasan terbesar untuk bersamamu. Sangat kesal membayangkan bahwa kau tidak akan memperhatikanku dengan baik lagi, tidak menjagaku seperti seorang suami siaga, dan yang paling kutakutkan adalah…”

Sungmin terlihat ragu untuk mengatakannya…

“Kau akan meninggalkanku.”

Tidak ada sahutan untuk beberapa detik keheningan yang damai.

Sungmin merasakan sebuah kecupan hangat pada puncak kepalanya.

“Apa karena itu kau menangis?”

Sebuah anggukan Kyuhyun dapat sebagai jawaban. “Kalau begitu, aku akan berusaha lebih

keras lagi.”

“Huh?” Sungmin berkedip tidak paham.

Kyuhyun membaringkan tubuh Sungmin di atas sofa dengan perlahan. Pertama kecupan di dahi, simbol kepercayaan dan kekaguman yang mendalam. Kemudian di kedua kelopak mata, sebagai bentuk kasih sayang. Lalu bermuara pada bibir delima dengan aroma wine yang masih segar… sebuah keinginan untuk memiliki.

Walaupun pada awalnya masih terasa malu-malu, namun permainan lidah tidak akan pernah gagal membobol pertahanan dua insan yang memang tengah dimabuk asmara. Gigitan kecil menjadi bumbu yang membuat sensasi berbeda. Serta gerakan-gerakan alami membuat keduanya hanyut dalam tempo nada rayuan yang tergambar pada sebuah ciuman panjang.

“K-Kyuhyunhh…”

“Jika aku melakukannya dengan baik. Kurasa kali ini kau bisa benar-benar hamil, sayang.”

Sungmin menggeleng sebagai responnya. “Aku tidak dengar apa-apa. Aku tidak dengar apa-apa.”

.

.

.

Dan sebaiknya kalian juga tidak boleh mendengar apa-apa.

(Saturday, January 21st 2012)

..

Fin

..

Happy Joyday!! *angkat gelas wine*

Download PDF here : Blue Jeans

Advertisements

10 thoughts on “Blue Jeans

  1. CkhLsm says:

    Ternyata dari awal ini cuma kerjaan ortu nya kyu doang hahahaha xD lawak lah itu ortu kyu sampe segitunya lah. Btw waktu denger ming hamil itu kirain anaknya siwon, karna tau sebelumnya ming pernah begituan sama siwon. Tp ending nya lucu + so sweet bgt lah 😍

  2. Zen Ming Ikki says:

    Masih tetap keren gaya bahasanya, engga ketebak alurnya bakal kayak gimana.
    Keren, apalagi scene yg di apartemen bikin deg2an sendiri kalo ngebayangin, hihi.
    Sweettttttt… apalagi pakai 2 cast ini lagi, kangen. Udah lama engga baca yg beginian. Semangat nulis lagi kak!!

  3. ketibankyumin says:

    Wah bangus banget..
    manis. Sebenernya emang sedikit aneh sih, masa iya orang yg baru aja melakukan ‘itu’ ngga ngerasa sesuatu yg beda..
    Ternyata eh ternyata, semuanya ulah orang tua Kyuhyun sama Sungmin.
    Emang ajaib banget yah kelakuan orang tua mereka, semoga aja nanti kalo Kyuhyun sama Sungmin udah jadi orang tua beneran, ngga akan ngikutin cara ‘ajaib’ orang tua mereka.
    Well, bagus banget karyanya^^ Sederhana tapi ngena.
    Last, tetep semangat nulis ya author. SEMANGAT!!

  4. lusimasihistrinyakyuhyun says:

    Ngga tau.. Mba fetri bakal baca komen ini apa ngga.. Tapi aku lagi kangen kyumin.. Kangen kyuhyun.. Kangen suju.. Yg sudah lama saya tinggalkan dunia fangirling. Salah satu obat mujarabnya adalah baca fanfiction. Dan sempet susah cari wordpress ini.. Karena lupa namanya.. Akhirnya ketemu. Kangen terobati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s